DUL KEMIT THE SERIES 20.
Menutup Diri
Oleh : Arif Yosodipuro
Pernyataan kyai Dul Kemit menyebut guru yang "usik" otaknya diisi "bedhes gendeng" sontak membuat para jamaah kaget penuh tanya. Mereka saling pandang dan mengedipkan mata. Apalagi sebagai penegasan, kyai Dul Kemit menambahkan, "Nanti kalau nggak balik, kita umumkan nama-nama mereka (guru yang usik).
Ucapan itu membuat sebagian besar guru tak habis pikir. Bagaimana kyai yang diagungkan dan dihormati berkata seperti itu tanpa klarifikasi dan komunikasi. Dia hanya mendapat laporan sepihak dari pembisiknya. Sangat disayangkan.
Tak terima dengan tuduhan dan celaan kyai Dul Kemit, sebagian besar guru dari seluruh perwakilan Badan Musyawarah Guru (BMG), kepala sekolah, ketua asrama, dan ketua kegiatan ekstra berembuk untuk menyampaikoan aspirasi. Mereka menyepakati untuk menyampaikan ketidakterimaan itu melalui surat. Masing-masing guru menulis pernyataan dan ditanda tangani, kemudian dikumpulkan.
Beberapa hari kemudian, mereka, guru yang menanda tangani pernyataan sejumlah 49 orang, mendatangi kantor kyai di dampingi ketua BMG dengan maksud bertemu dan bersilaturahim kepada kyai untuk klarifikasi.
Sebelum bertemu, ketua BMG menemui asisten kyai, pak Salim, menyampaikan maksud mereka. Pak Salim bilang bahwa pak kyai belum bisa ditemui karena ada gangguan suara, sedang puasa bicara. Mendapat penjelasan seperti itu, mereka pun paham dan meninggalkan kantor kyai.
Pada dua momen shalat jamaah berikutnya, kyai Dul Kemit sudah membaik. Ia sudah bisa berbicara sekalipun dengan volume yang rendah. Usai shalat jamaah, seperti biasa kyai Dul Kemit menyampaikan beberapa hal. Satu di antaranya tanggapan tentang keinginan silaturahim dari perwakilan guru.
Dengan lantang kyai Dul Kemit menunjukkan kearoganannya. Dia sudah memberi sinyal menutup diri tidak mau menerima silaturahim dari perwakilan guru. Salamnya kepada hadirin pun bukan "assalamu 'alaikum" tetapi "assalamu 'alaina wa 'ala ibadilahisholihin. Dia sudah memutus buhul bahwa guru-guru yang ingin klarifikasi itu sudah tidak lagi bagian dari warga pesantren.
"Jamaah shalat yang kami hormati," demikian katanya mengawali. "Dalam kesempatan ini kyai sampaikan bahwa selama masa santri libur, kyai ikut libur. Karena itu kyai tidak menerima tamu siapa pun kecuali yang dizinkan. Ya, ini saja hal yang disampaikan kali ini." Kyai Dul Kemit mengakhiri taushiyahnya.
"Kok begitu ya kang Encep..." komentar kang Ujang terheran-heran. "Jadi kyai memutus hubungan...?" "Iya. Salamnya aja begitu. Dia mah gak mau dikritik dan menganggap benar sendiri." Lanjut kang Encep menegaskan. "Masih ada terusannya kang?" Masih....Bantuan operasional Pendidikan (BOP) ditilep.
No comments:
Post a Comment