Saturday, April 28, 2018

Undercover 116

TESTIMONI PRIBADI 17
Menghadang Ujungnya Meminang (1)
PHI Bandung H-1



Penghadangan kepada ratusan guru bersertifikasi yang dilakukan oleh manajemen Al-Zaytun pimpinan Syaykh A.S Panji Gumilang sangat berasa dampaknya, khusunya ketersediaan tenaga pendidik.
Tidak berhasilnya Ust. Alwi membujuk Ustadz Yusaefudin dan teman-teman untuk kembali mengajar di mahad dengan cara bertaubat, tidak membuatnya lantas berhenti dan patah semangat. Maha Agung Allah dengan segala kekuasaannya.
Sabtu, 31 Maret 2018, dengan qadla Allah saya dipertemukan dengan sahabat lama yang dulu pernah bersama mengabdi di Al-Zaytun. Namun karena alasan keluarga, yang bersangkutan mengundurkan diri. Pertemuan yang membuat saya kaget dan tidak percaya.
Pagi itu saya menemui rekan saya yang sedang menjadi panitia seleksi calon guru SMPIT (maaf tidak saya sebut nama SMP-nya). Tak ada yang aneh saat saya tiba lokasi seleksi, di SD Perumnas II Subang.
Para calon guru pria dan wanita bergerombol berbincang secara terpisah, yang pria membuat kelompok tersendiri demikian juga yang wanita. Entah apa yang mereka bicarakan. Saya hendak bergabung dan menyapa tapi saya urungkan karena belum ada yang saya kenal.
Beberapa saat kemudian, mereka dikumpulkan dalam satu ruangan dan dibriefing mengenai teknis dan hal-hal yang berkaitan dengan seleksi. Saya belum bisa bertemu dengan rekan saya karena ia memberi briefing, terpaksa harus menunggu.
Menjelang sesi test berikutnya, para peserta menunggu di depan ruangan. Mereka duduk-duduk di tembok berkeramik setinggi 40-an cm. Saya mencoba mendekati mereka dan ingin berkenalan untuk menghilangkan kejenuhan.
Saya berjabat tangan sambil mengenalkan diri. “Arif,” kata saya sembari menatap wajah mereka akrab. Dari sekian orang yang salami ada satu sosok jangkung, ramah, dan santun yang spontan membongkar memori saya.
Dalam hati langsung berucap, “Kok sepertinya pernah tahu orang ini? Di mana ya?” Pikir saya mengelana mencari jawaban. Tak ingin dikerangkeng oleh perasaan ingin tahu, saya beranikan diri untuk bertanya. “Kok kaya pernah kenal?” Kata saya sambil memegang erat tangannya tak segera saya lepas saat berjabat tangan.
“Saya Ust. BADRUS, Bi,” sahutnya dengan ramah dan akrab.
“Masya Allah,” spontan saya terheran dan saya tepuk pundaknya sambil jinjit. “Iya, iya. Sekarang tinggal di mana?” lanjut saya seperti juru sidik yang sedang menginterogasi. Perbincangan semakin inten dan mengasyikkan. Maklum sudah lama tak ketemu.
Setelah bincang sana, bincang sini, sampai juga pada masalah pengusiran dan penghadangan ratusan guru Al-Zaytun yang tak lain adalah rekan dia. “Saya heran dan tidak percaya,” kata Ust. Badrus dengan ekspresi wajah sedih. “Kok sampai sebegitunya.” Lanjutnya seraya menyahut gelas aqua dan menyeruputnya.
“Pantesan saya dulu dihubungi oleh Ust. Alwi diajak masuk lagi,” katanya mengenang peristiwa saat ia dihubungi Ust. Alwi. “Ayo masuk lagi. Sekarang lagi butuh guru nih,” sambungnya menirukan ucapan Ust. Alwi.
““Oooo…. jadi Ust. Alwi menghubungi sampeyan… Kapan itu Pak?” Tanya saya menelusuri.
“Dulu sebelum saya dengar berita kejadian (pengusiran). Tapi saya nggak mau. ‘Nggak ah,’ kata saya kepada pak Alwi.”
Obrolan pun berakhir saat panitia memanggil nama Ust. Badrus. “Sebentar, Bi. Nanti kita sambung lagi. Sekarang giliran saya (test).”
“Oh iya, silakan,” jawab saya sambil memukul lengannya. “Terima kasih.
Ternyata banyak rekan-rekan guru baik yang merah atau bukan yang dihubungi oknum utusan Al-Zaytun untuk diajak kembali mengajar.
Siapa lagi….? Bersambung pada testimoni berikutnya….

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment