DUL KEMIT THE SERIES 63
Maunya Memblokir, Ujungnya Diusir
Oleh : Arif Yosodipuro
Upaya guru dalam mencari keadilan terus melaju. Halang rintang yang menghadang terus diterjang. Tak takut karena dipecut dan tak mundur karena digempur. Langkahnya tegap. Lenggangnya mantab. Bicaranya lantang sebagai pejuang.
Melihat semangat dan kekompakan para guru, Dul Kemit was-was. Hatinya tak tenang. Terlebih setelah saksi dari guru memberikan kesaksian dalam persidangan PHI, Pengadilan Hubungan Industrial. Dul Kemit ditelanjangi. Mukanya bagai ditampol kotoran sapi.
Semua kejahatan, kesombongan, dan kearoganan Dul Kemit dibongkar oleh saksi baik dalam persidangan maupun dalam wawancara dengan media. Semua duplik yang diajukan oleh kuasa hukum Dul Kemit terbantahkan oleh keterangan saksi yang bicaranya ceplas-ceplos, jujur apa adanya dalam menjawab pertanyaan.
Mendengar laporan yang tidak mengenakkan, Dul Kemit tak mau kalah. Ia susun rencana licik dan show of force. Ia ingin tunjukkan bahwa ia mempunyai kekuatan dan pendukung. Tahu saksi dari guru 4 orang, ia hadirkan 12 orang.
Dengan saksi yang lebih banyak ini, Dul Kemit berharap bisa menandingi saksi dari guru. Maklum, masih banyak orang-orang yang bisa ia tipu dan ia mobilisasi. Tak tanggung-tanggung, saksi yang dihadirkan dari semua elemen pesantren.
Tak hanya di situ. Dul Kemit ingin mengulang kesuksesan menghadang guru-guru tidak bisa masuk ke pesantren. Maka disusunlah rencana licik. Ia panggil kordinator donatur. Kemudian, ia mengadakan pertemuan bersama kuasa hukumnya.
“Saudara-saudara,” kata Dul Kemit mengawali arahannya, “besok Senin depan giliran kita menghadirkan saksi. Kita harus perketat. Jangan sampai saksi kita bersinggungan atau bertemu dengan guru-guru (penggugat). Jangan berkomunikasi dengan mereka. Jabat tangan juga tidak.”
Kordinator dan kuasa hukum terkesima mendengarkan arahan ekstrim Dul Kemit. “Ente, koordinator,” kata Dul Kemit melanjutkan arahannya. “Siapkan orang sebanyak-banyaknya. Hadirkan mereka ke pengadilan.” Dul Kemit menghela nafas sejenak.
“Sampaikan kepada mereka, jangan berkomumikasi dengan guru-guru. Kalau salam gak usah dijawab. Diajak berjabat tangan, jangan mau. Diajak bicara, gak usah direspon. Pokoknya diamkan saja. Kemudian datang lebih awal. Tutup lokasi persidangan. Kita kuasai. Jangan kasih mereka tempat. Kita blokir.” Kata Dul Kemit serius, mewanti-wanti.
Tunduk pada perintah sang sinuhun prabu Dul Kemit, koordinator langsung berkoordinasi dengan anggotanya. Ia mendata siapa yang akan dikirim ke lokasi pemblokiran. Setelah kordinasi terkumpullah ratusan nama yang siap untuk unjuk kesombongan.
Tepat pada hari H persidangan, ratusan orang suruhan Dul Kemit datang lebih awal. Mereka langsung menguasai beberapa titik lokasi pengadilan. Di antaranya, tempat parkir, halaman dan teras pintu masuk ruang sidang.
Mereka berbaris rapat tanpa bicara, tanpa kata sesuai dengan arahan dan instruksi sang juragan, Dul Kemit. Guru salam tidak dijawab. Diajak salaman tidak mau, tangan disembunyikan. Dipanggil nanamya, menghindar. Mereka telah dikunci mati mulut, pendengaran, dan hatinya. Pokoknya seperti mumi hidup.
Mereka bagai robot yang dipajang di etalase mainan anak-anak, memblokade, memblokir pintu masuk ruang sidang. Tidak ada celah sedikit pun untuk orang lain bisa masuk. Sampai-sampai seorang ibu dari keluarga guru mau masuk saja tidak bisa dan tersirat pesan tidak boleh.
Merasa dihadang dan haknya dilanggar, sang ibu langsung lapor kepada keamanan pengadilan. Pihak keamanan respon dan sigap. Ia langsung mendatangi gerombolan preman penghadang dan mengusirnya.
"Bapak-bapak, kenapa jalan ditutup?" Tanya petugas keamanan dengan sopan namun tegas. "Buka akses untuk jalan. Ini jalan masuk...Tolong bapak buka, jangan ditutup. Beri yang lain untuk lewat,” lanjutnya dengan ramah penuh keakraban. Mereka pun tak bisa berbuat banyak. Tanpa kata, mereka berpindah, berhamburan, membubarkan diri dari pemblokiran.
“Oh gitu ya kang kelakuannya?” Celetuk kang Ujang heran. “Kenapa pakai blokir segala. Memangnya pengadilan milik majikannya?”
“Ya begitulah, kang Ujang ulah Dul Kemit dan orang suruhannya. Sok, sokan,” sahut kang Encep kesal, tak habis pikir. “Dianggap tempatnya sendiri kali. Sehingga bisa berbuat semaunya.”
“Jadi malu donk.” Sambung kang Ujang merespon komentar rekannya. “MAUNYA MEMBLOKIR, UJUNGNYA DIUSIR.”
***
***
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment