DUL KEMIT THE SERIES 58
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (4)
Oleh : Arif Yosodipuro
Dul Kemit menjadi pemilik tunggal pesantren dengan segala fasilitasnya. Penguasa tunggal, bagai raja-raja di nusantara jaman baheula.
Karyawan yang memelihara ayam atau ikan di lahan pesantren ia larang. Tak ada yang boleh ternak ayam di lahan pesantren. Tak boleh ada yang ternak ikan, lele misalnya, di lahan yayasan. Semuanya distop kecuali Dul Kemit. Digagahi sendiri bersama anak-istrinya.
Saking rakusnya, sampai-sampai ada karyawan yang menanam buah naga. Berkat tangan dinginnya tanaman itu tumbuh subur dan banyak buahnya. Begitu istri Dul Kemit, nyai, tahu ada pohon naga banyak buahnya, pohon itu diaku, diminta paksa sebagai miliknya.
Sang karyawan tidak bisa menolak, kecuali bilang, “Muhun Nyai, mangga ngahaturkeun.” Lalu menelan ludah sambil mengelus dada seperginya nyai. TERTALU….
“Segitunya Kang?” Kata kang Ujang kaget, terheran-heran. “Mungkin dalam hati nyai bilang, ‘loe siape tong berani-beraninye nanem di lahan pesantren. Kan milik gue.’ Gitu kali Kang kalau gaya orang betawi.”
Strategi authority power yang Dul Kemit terapkan sangat jitu dan berjalan mulus. Dengan cara itu ia sangat leluasa dalam mengumpulkan rupiah yang cukup meruah. Semua sumber uang mengalir ke rekeningnya bukan ke kantongnya karena tidak pernah mengantongi uang. He he he he……
Dul Kemit yang dulu tidak mempunyai apa-apa, sekarang apa-apa punya. Dari merampok terselubung itu ia mampu membeli properti, rumah yang harganya miliaran. Selain itu ia juga membeli tanah yang luasnya puluhan hektar di sekitar pesantren. Bahkan ratusan hektar di daerah asal nyai dan sudah diatasnamakan putra sulungnya, Gus Memet.
Tak ada kata yang layak disebut kecuali WOOOW….
***
“Jadi inti kiat kayanya Dul Kemit apa Kang?”
“Setidaknya ada empat, Kang Ujang. Yaitu monopoli, brand cheating, authority power, dan good packing.”
“Apa sih kang maksudnya?”
“Yaelah, Kang Ujang?!” Kata kang Encep meledek. “Monopoli itu mengganggahi sendiri, orang lain tidak boleh, diproteksi. Brand cheating, ya bahasa gampangnya memalsu merek, yang sudah saya bilang tadi. Membajak lah Kang.
Seperti memalsu merk obat, makanan, pakaian dll. Pernah kan dengar sepatu adidas KW? Merknya adidas tetapi yang buat bukan adidas dan kualitasnya pun beda. Sama dengan kopi beli di luar pesantren. Kemudian dibranded kopi pesantren. Panen sendiri.”
“Terus kalau authority power dan good packing, apa?”
“Authority power maksudnya kekuatan kekuasaan. Jadi dengan kekuasaan yang dimiliki, ia berbuat semaunya. Seperti ikan yang sebenarnya milik yayasan masuk ke dapur atas nama Dul Kemit dan Gus Memet karena mereka berkuasa.”
“Lalu good packing maksudnya…..,” kang Encep menghela nafas dalam-dalam sambil sendawa sebelum meneruskan, “dikemas dengan baik, baik kemasan fisik berupa bungkus maupun propaganda. Misalnya garam. Sebenarnya sudah orsinil karena prosesnya alami.”
“Kemudian untuk mengangkat value atau nilai garam tersebut, Dul Kemit mempropagandakan di masjid. Retorikanya dikemas sedemikian indahnya sehingga membuat pendengar terpesona dan terkesima. Selain itu bungkusnya pun dikemas semenarik mungkin.”
“Oalah, paham abdi Kang.” Kata kang Ujang sambil manggut-manggut kaya kepala cepot ketimpa kelapa.
***
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment