DUL KEMIT THE SERIES 59
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (1)
Oleh : Arif Yosodipuro
Dul Kemit memasuki ruang kantornya, tempat biasa ia berbincang dan bercakap banyak hal dengan rekan pengurus. Dalam suasana akrab sambil menyandar kursi betawi, ia berkata, “Ada dana segar.”
Ia menganyam jemarinya sambil memandang rekan-rekan yang ada di depannya. Ia tidak memberi tahu dari mana asal dana. Yang pengurus lainnya tahu tiba-tiba ada tambahan dana di akun yayasan 37 milyar.
“Pimpinan negara Pantai Gading yang tumbang,” lanjut Dul Kemit meyakinkan, “memiliki dana jutaan dolar yang disimpan dengan dilapisi zat pengaman. Dana itu akan disumbangkan kepada kita. Namun, untuk mencairkannya perlu dana untuk zat kimia dan mesin pencair.
Rekan-rekannya pun terpancing emosinya. Wajah mereka spontan cerah dan bergairah kegirangan. “Lumayan bisa untuk menyelesaikan bangunan-bangunan.” Sambung Dul Kemit penuh harap. “Ayyub sekarang sedang mengurus dan negosiasi untuk pencairannya.”
Follow up-nya, berangkatlah empat orang – Dul Kemit, Ayyub (adik kandung Dul Kemit), Insinyur Yodi dan M. Basyir – ke Madrid, Spanyol, tempat yang disepakati untuk ketemuan. Mereka berada di sana beberapa hari. Dalam pertemuan itu, Dul Kemit dimintai dana sebesar 5 MILYAR untuk membeli zat kimia pencair.
“LIMA MILYAR, Kang?” kata kang Ujang memotong gemes.
“Iya, 5 milyar,” ujar kang Encep bersemangat.
Karena ada dana segar, permintaan itu diiyakan. Ia lantas menghubungi ketua yayasan, H. Sarbini (sebelum dijabat anak sulungnya), untuk berkomunikasi dengan pihak bank mitranya agar bisa mentransfer dana tersebut.
Mendapat perintah dari pimpinan, H. Sarbini langsung kontak pihak bank. Pihak bank pun mentransfer dana yang diminta itu. Uang sudah pindah rekening tanpa tahu bagaimana wujud zat kimia pencair itu.
Selanjutnya, Dul Kemit dan Insinyur Yodi kembali ke pesantren lebih dulu. Sedangkan Ayyub (adik Dul Kemit) dan M. Basyir masih tinggal di Madrid. Entah apa yang mereka lakukan di sana, negosiasikah, atau apa, hanya Dul Kemit dan Ayyub yang tahu.
“Wah, seru banget Kang,” komen kang Ujang ingin tahu selanjutnya. “Terus gimana?”
“Maaf Kang Ujang, saya mau menjemput istri dulu.” Kata kang Encep mengakhiri ceritanya. “Ntar ya disambung lagi.”
***
***
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment