DUL KEMIT THE SERIES 62
Misteri Dolar Seharga 37 Milyar (4)
Oleh : Arif Yosodipuro
Entah ini skenario atau modus. PENGURASAN dana segar yayasan terus menggurat. Usai kunjungan wakil presiden, ada kabar bahwa pesantren Dul Kemit akan mendapat bantuan dari WAKIL PRESIDEN.
Suatu ketika Dul Kemit sedang mengadakan pertemuan rutin dengan civitas akademika pesantren; guru, karywan dan eksponen, yang ia namakan BA’DIYAH JUM’AT. Suasana pertemuan yang hidmad dan hening itu terusik oleh gerakan pintu yang terbuka.
Beberapa hadirin menoleh dan ada yang sekadar melirik. Seorang petugas keamanan berseragam putih biru dengan sopan memasuki ruang pertemuan menenteng telepon wireless. Dari jauh tampak sedikit kaku. Karena tugas, ia pun memberanikan diri untuk mendekati Dul Kemit.
“Ada apa le?” sapa Dul Kemit dengan lugat jawa timuran yang kental.
“Ada telepon dari pak Ayyub,” kata petugas keamanan seraya menyerahkan gagang telepon kepada Dul Kemit. Lalu terjadilah dialog yang disaksikan oleh ratusan hadirin.
“Ini orang pak Wakil Presiden mau bicara,” kata Ayyub dalam percakapannya.
“Oh, iya?” Jawab Dul Kemit dengan ceria. “Mana?” Ayyub berhenti bercakap dan seolah memberikan telepon kepada yang katanya orang pak Wakil Presiden.
“Halo, Kyai,” sapa suara yang berbeda dengan Ayyub. “Saya Amung, orang suruhan pak Wapres, mau menyampaikan bahwa pak Wapres akan memberi bantuan kepada pesantren Kyai.” Lanjut orang yang mengaku suruhan wapres memberi tahu.
“Oh iya?” Tanya Dul Kemit girang. Setelah bicara ini dan itu, dialog selesai. Dengan bangga dan riang, Dul Kemit lalu memberi tahu hadirin perihal pembicaraannya dengan orang yang mengaku suruhan Wapres. “Alhamdulillah,” kata Dul Kemit dengan wajah ceria. “Pak Wapres akan memberi bantuan.”
Meyakinkan memang. Pembicaraan yang disaksikan peserta pertemuan menguatkan dan menambah keyakinan. Beberapa hari kemudian Dul Kemit menerima telepon kembali dari orang yang mengaku suruhan wapres.
Pokok pembicaraannya agar bantuan wapres segera turun, Dul Kemit diminta mentransfer uang sebesar 2 milyar (DUA MILYAR). Besar harapan segera turun, permintaan pun dikabulkan. Atas perintah Dul Kemi, maka ditransferlah 2 milyar ke rekening orang yang mengaku suruhan wapres oleh Safrulloh.
***
***
Untuk memastikan kebenaran bantuan yang akan diterima, Dul Kemit dan beberapa pengurus mendatangi kediaman Wapres. Dul Kemit menjelaskan bahwa orang suruhan Wapres minta ditransfer dana sebesar 2 MILYAR agar bantuan wapres segera turun.
Mendapat kabar tersebut, Wapres bingung. Ia mengakui memang Amung itu orang dekatnya. Tetapi ia tidak yakin kalau Amung melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, Wapres kemudian memanggil Kapolda.
Pak Kapolda datang bersama Kareskrim. Berceritalah Dul Kemit dan eksponen yang ikut bersamanya tentang kronologi kejadian. Mereka menjelaskan siapa yang berkomunikasi dan siapa yang mentransfer dana.
Di tengah mendengarkan dengan seksama informasi yang disampaikan oleh Abdul Salim dan Safrulloh, Kapolda menduga bahwa itu penipuan. “Wah penipuan ini,” Komentar Kaporlda. Ia kemudian meminta anak buahnya untuk mengecek rekening pengiriman uang.
Setelah dicek, anak buah Kapolda menyebutkan bahwa ini penipuan. “Penipuan ini, Komandan,” kata anak buah Kapolda memberi tahu kepadanya. Kapolda lalu memberi tahu Wapres dan rombongan Dul Kemit. “Benar, Pak. Penipuan ini.”
Walhasil, yang katanya dana segar di akun yayasan itu habis TERKURAS TIDAK TERSISA.
Kemudian, Kapolda menyarankan untuk melaporkan kejadian ke Polda. Mengikuti saran Kapolda, Syafrulloh dan Abdul Salim berangkat ke Polda untuk di-BAP. Sedangkan Dul Kemit dan Suprayitno meluncur ke rumah adik Dul Kemit.
Anehnya…, Dul Kemit adem ayem sampai saat ini, seolah ia membiarkan berlalu begitu saja. Tak ada upaya mendesak atau memonitor sampai di mana perkembangan laporannya. Padahal 2 MILYAR hilang ke semak belukar yang tak jelas batang dan akarnya.
***
***
Yang mengherankan lagi, belakangan diketahui adik kandung Dul Kemit, Ayyub, membeli rumah di perumahan elit super mewah yang ada kolam renangnya di BSD. Pintu gerbang saja buka tutupnya pakai remot. Ia juga membeli banyak apartemen dan hotel.
Padahal Ayyub saat itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Yang tampak adalah jualan kaset CD. Kadang juga jualan jam rolex dan sepatu Nike KW yang pangsa pasarnya warga pesantren.
“Jangan-jangan uang kita yang buat membeli ini?” celoteh eksponen yang pernah datang ke rumah Ayyub mencoba menyimpulkan.
Tak tahan penasaran, kang Ujang pun langsung menceletuk, “Jangan-jangan orang yang mengaku suruhan Wapres tadi adalah suara adik Dul Kemit, Ayyub, yang disamarkan, Kang?”
“Bisa jadi, Kang,” sambung kang Encep mengiyakan prediksi sahabat dekatnya. “Bisa jadi semua ini adalah skenario Dul Kemit dan adiknya. Mereka berdua kong kalingkong, mbal ngedumbal, hong ngebohong.” Kang Encep mengedipkan mata menahan emosi kekesalannya.
“Dengar-dengar sekarang Dul Kemit sedang berseteru dengan Ayub, adiknya.” Lanjut kang Encep meneruskan ceritanya. “Nggak tegur sapa. Mungkin ketika Dul Kemit menanyakan bagiannya dana sudah dihabiskan adiknya.”
“O… gitu ya kang?”
-
“Berdasarkan indikasi yang ada, iya.” Kang Encep mengingat-ingat dan mengait-ngaitkan kejadian. “Karena gak kebagian, makanya sekarang Dul Kemit membabi buta merampok dana yayasan dengan berbagai cara yang ia kemas seolah tampak legal.”
-
“Berdasarkan indikasi yang ada, iya.” Kang Encep mengingat-ingat dan mengait-ngaitkan kejadian. “Karena gak kebagian, makanya sekarang Dul Kemit membabi buta merampok dana yayasan dengan berbagai cara yang ia kemas seolah tampak legal.”
Sekarang kehidupan Ayyub jauh lebih sejahtera dibanding sebelum bergabung dengan pesantren, sekalipun sekarang tidak harmonis.
***
***
SUmber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment