DUL KEMIT THE SERIES 64
Setoran Berkurang, Dul Kemit Meradang
Oleh : Arif Yosodipuro
Satu dasawarsa belakangan, komunitas pesantren mengurang. Jumlah karyawan dari tiga ribuan menjadi sembilan ratusan. Sangat drastis. Mereka keluar dengan berbagai alasan. Namun, alasan yang dominan adalah manajemen dan kepemimpinan Dul Kemit.
Belasan tahun mengabdi tidak ada perkembangan. Upah statis, tak pernah ada kenaikan. Ada karyawan yang home pay-nya hanya tinggal Rp6.000,-. Anak mereka banyak. Rumah masih banyak yang mengontrak. Dul Kemit seolah tutup mata, tutup telinga.
Bila ada karyawan atau civitas lainnya mengundurkan diri, mereka dibilang kaslan, sudah tidak sepaham atau tidak sealiran. Tak ada evaluasi mengapa dan mengapa. Yang ada hanya penyalahan. Mereka yang keluar dicap, dilabeli, diredlist, garis merah.
Dul Kemit selalu benar. Tak pernah salah. Apa pun yang ia lakukan selalu benar. Seolah resistan koreksi dan evaluasi. Dul Kemit tidak pernah membahas kenapa banyak karyawan yang mengundurkan diri.
Ia tidak pernah melihat kondisi karyawan yang hidupnya serba kekurangan. Tidak pernah ada pembahasan peningkatan kesejahteraan karyawan. Apa yang sudah diberikan, dianggapnya cukup. Sampai-sampai ada anak karyawan terkena penyakit kekurangan gizi hingga meninggal. Itu pun Dul Kemit tidak bereaksi.
Paralel dengan karyawan, donatur pun demikian. Puluhan ribu donatur menghilang dari peredaran. Bisa jadi mereka tinggal seribu dua ribuan atau bahkan ratusan orang. Mereka hanya dimintai sumbangan. Tidak ada timbal baliknya.
Padahal ayatnya jelas. Air dari langit turun ke bumi, kemudian menghidupkan tumbuh-tumbuhan. Lalu evaporasi ke langit kembali. Di langit sedemikian rupa diproses untuk diturunkan lagi ke bumi. Begitu siklus ekonomi dalam manajemen ilahiyah. Lhah ini donatur hanya dimintai uangnya saja.
Dengan berkurangnya jumlah anggota donatur, otomatis jumlah setoran yang diterima Dul Kemit pun berkurang. Terlebih setelah mencuatnya kasus perseteruannya dengan ratusan guru yang ia depak dan pecat secara sepihak.
Banyak donatur yang tak lagi simpati kepada Dul Kemit dan berhenti memberikan donasinya. Berbagai informasi dari guru yang gencar di medsos dapat membuka mata para donatur dan menyadarkan mereka bahwa selama ini hanyalah dijadikan orang perahan alias sapi perah. Hanya diambil uangnya saja.
Donasi dari donatur menjadi andalan pemasukan biaya operasional. Karena itu tahu setoran dari koordinator BERKURANG, Dul Kemit MERADANG. Ia panggil mereka dan dikumpulkan di singgasananya.
Bukan untuk diberi hadiah atau bonus sebagai apresiasi kinerja mereka, tapi untuk didamprat, dipelototi, dihujat, dihardik, dimarah-marahi karena target tidak terpenuhi. Mendapat hardikan, para koordinator hanya bisa diam membisu sambil menunduk, mendengarkan sang juragan melampiaskan kemarahan.
“Lho Kang, kok mau maunya?” Celetuk kang Ujang. “Katanya banyak usaha super intensif. Punya pabrik ini, pabrik itu. Kok masih menggantungkan donasi?”
“Ya itu semua hanya pencitraan, Kang. Biar bisa ngeruk uang dari donatur,” sahut kang Encep blak-blakan. “Realitanya gagal total. Gak ada yang menghasilkan. Kalaulah ada, ya masuk rekening Dul Kemit.”
***
***
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment