Sunday, April 29, 2018

Undercover 117

TESTIMONI PRIBADI 18
Menghadang Ujungnya Meminang (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Yah…., masih sepi.” Kata saya dalam hati setibanya di kantor Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) Bandung di Jalan Surapati, Senin, 26 Maret 2018. Hanya beberapa petugas keamanan berseragam kecoklatan yang tampak berdiri berjaga-jaga.
Tak mau baper, saya berjalan bersama Ust. Anang Sundayana dan Ust. Mustaqim mendekati penjual kupat tahu yang mangkal tepat di depan kantor. Saya memesan dua porsi. Ust. Anang tidak pesan karena sudah sarapan dari rumah.
Usai menikmati kupat tahu yang khas sambal kacangnya, saya masuk ke halaman kantor PHI. Larak-lirik sebentar, mengamati suasana. Teman-teman yang lain mulai berdatangan. Tegur sapa dan jabat tangan penuh keakraban mewarnai perjumpaan mereka.
Kuperhatikan seorang ustadzah sedang duduk di bangku dekat kantin sambil menggedong anak laki-lakinya berusia empat tahunan. Dia adalah usth. Istianah Abdillah. Satu dari 116 guru yang diusir. Saya mendekatinya dan ikut duduk di sampingnya.
Informasinya ustadzah Istianah Abdillah juga didatangi oleh ustadzah lain dan dibujuk untuk kembali masuk ke mahad. Untuk memastikan, saya bertanya kepadanya tentang kebenaran berita tersebut.
“Bu katanya pernah didatangi Bu Iis (Iis Humairoh)?” Tanya saya to the point sambil memandangi anaknya yang malu-malu.
“Oh pas awal-awal,” jawabnya mantab sembari memegangi putranya. “Sama saudara juga yang dari gate. Ya…. namanya…., saya jawab aja iya.” Katanya, mengenang kejadian. “Pakai surat Bu. Bikin surat ajuan, diserahkan nanti waktu pengambilan barang. Pas pemanggilan, nanti hari Selasa Bu, ya?” lanjutnya menirukan ucapan ustadzah yang menemuinya.
“Pas hari itu Bu Khosiroh datang ke rumah. Sama Bu Khosiroh saya diajak jalan-jalan. Saya ditelepon sama pak Nakam, ‘Bu jam dua ditunggu Abi Tsabit.’ Aduh pak nggak bisa dateng nih lagi di perjalanan. Jadi gak bisa.” Katanya, memberi alasan.
“Ibu ditelepon pak Tsabit, nggak?” Tanya saya ingin tahu lebih jauh.
“Nggak. Pak Nakam aja.”
“Memang perlu keberanian ya untuk mengambil sikap?”
“Iya sih. Kita tahu ini salah, masa dibiarkan…?” katanya datar tapi tersirat keberanian dan kepastian.
“Awal-awal memang dirayu? Bu Iis yang dateng?”
“Bu Iis, Bu Nur Aini.”
“O.. Bu Nur Aini. Bu Nur Aini juga ndatengi ke rumah ibu? Apa istilahnya? Bujuk gitu?”
“Iya.” Katanya singkat. ‘Ayolah…Nggak didholimi kok di sana. Memang ibu merasa didholimi di sana?’ lanjutnya menirukan.
“Hanya bu Nur Aini dan Bu Iis saja. Nggak ada yang lain?”
“Ada bu Heni.”
“Bu Heni juga?”
“Bu Heni mah bareng sama bu Iis. Kalau bu Nur Aini sama saudara, Mbak Leni.”
“Bu Leni?”
“Mbak Leni, guru baru yang istrinya gate.”
“O guru baru. Kalau guru baru berarti yang baru diterima itu?”
“He emmm. Kalau yang sering datang itu Mas Nur.”
“Mas Nur siapa?”
“Saudara yang di gate.”
“Dari suami apa dari istri?”
“Dari saya.”
“O dari Ibu. Saudaranya Ibu, di gate?”
“Nur Mahdi, yang tugas di gate.”
“Oh itu. Itu saudara. Namanya Nur Mahdi?”
“Iya. Sepupu.” Tangannya membelai-belai kepala putranya. “Kalau istrinya bilangnya gini. ‘Wong sudah tua ini. Memang karakternya sudah begitu biarin aja nanti juga diganti wong sudah tua.’
“Ingat hari dan tanggal kapan bu Iis dan bu Nur Aini datang ke rumah?”
“Lupa. Ya awal-awal. Pebruari apa Januari? Januari deh.”
Dialog pun berhenti setelah saya anggap cukup. Kemudian saya mengalihkan topik pembicaraan dan selanjutnya menimbrung dengan teman-teman lain yang sedang asyik bercengkerama.
Rupanya usai menghadang, pihak yayasan diam-diam meminang guru-guru yang mereka anggap bisa direkrut kembali. Oalah…. Menghadang Ujungnya Meminang ya….

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment