DUL KEMIT THE SERIES 54
Guru Mencari Keadilan 2
Oleh : Arif Yosodipuro
Tidak adanya kesepakatan pada pertemuan pertama, kedua pihak membuat deal bahwa pertemuan dilanjutkan pada pekan berikutnya pada hari yang sama.
Detik-detik hari penantian bipartit pertemuan kedua membuat hati kedua pihak dag dig dug. Perasaan hap hip hup mengiringi setiap jantung berdetak. Harapannya pada pertemuan yang telah disepakati oleh kedua pihak itu bisa menyelesaikan masalah.
Pagi menjelang pukul 07.00, rombongan guru meluncur dari posko menuju kantor Dinas Tenaga Kerja Kabupaten. Mereka diterima oleh Kabid PHI dan petugas lainnya. “O.. silakan pak.” Sapa Kabid ramah seraya mempersilakan duduk.
“Terima kasih, Pak.” Sahut ketua rombongan. Mereka masuk ke ruang yang diperuntukkan pertemuan lalu duduk di kursi yang sudah tersedia. Suasana hening sejenak. Tak ada percakapan di antara rombongan guru dan pak Kabid.
Beberapa saat mereka saling menunggu, belum ada yang memulai percakapan. Untuk mencairkan iceberg, seorang romobongan mencoba berbasa-basi. “Sehat, Pak?” tanyanya membuka dialog.
“Alhamdulillah,” sahut Kabid PHI, “Jam berapa tadi berangkatnya?”
“Jam 07.00 lebih dikit, Pak.”
“Gimana lancar?”
“Alhamdulillah, Pak, lancar.”
“Kita tunggu, Pak. Dari pihak kyai Dul Kemit belum datang. Sudah saya hubungi tetapi tidak nyambung.” kata Kabid apologi sambil memutar lengan bawah kirinya, menengok jam tangan untuk melihat waktu.
“Iya, Pak.” Sahut ketua rombongan memahami. “Gak pa pa kita tunggu sampai mereka datang.”
Detik berganti menit, menit pun berganti jam. Hingga menjelang senja, perwakilan Dul Kemit tak tampak muka juga tanpa berita. Sebagai pertanggungjawaban, pak Kabid pun menghubungi kembali pihak Dul Kemit menanyakan perkembangannya, namun tak mendapat jawaban.
“Mohon maaf, bapak-bapak. Saya hubungi tidak ada jawaban. Sepertinya perwakilan Dul Kemit tidak datang.” Katanya menyimpulkan.
“Lalu bagaimana, Pak?” Tanya ketua rombongan dengan serius menunggu kepastian.
“Ya berarti lanjut ke TRIPARTIT, pak.” Kata pak Kabid menjelaskan. “Karena pihak Dul Kemit tidak datang, otomatis BIPARTIT gagal.” Lanjutnya sembari memandang apologatif kepada rombongan.
Mendengar jawaban seperti itu, wajah rombongan tampak datar. Sekalipun kecewa tetapi tidak ditampakkan. Harapan bipartit pupus. Upaya musyawarah untuk mufakat dalam penyelesaian antara kedua pihak tanpa campur tangan pihak ketiga gagal.
Sebernarnya setelah sekian jam menunggu, sementara hingga waktu yang ditentukan belum ada kabar dari pihak Dul Kemit, rombongan guru sudah menduga bahwa utusannya tidak bakalan datang. Dan, dugaan mereka benar, sampai batas waktu yang ditentukan lewat, mereka tidak datang.
“Jadi dilanjut tripartit, minggu depan Pak?” Tanya ketua rombongan, memastikan sambil bersiap-siap berdiri untuk pamit.
“Iya, Pak.” Ujar pak Kabid singkat. Jemari tangannya dimainkan, dianyam lalu dibuka secara bergantian hingga beberapa kali.
“Baik, Pak.” Sambung ketua rombongan. “Kalau begitu, kami mohon pamit, Pak.” Rombongan secara bersamaan berdiri seperti dikomando. Satu persatu mereka berjabat tangan dengan Kabid PHI sambil bersenyum, mengangguk dan sedikit membungkukkan badan menunjukkan adab kesopanan.
“Maaf, Pak ya.” Celetuknya berbasa-basi. “Sampai ketemu minggu depan.” Pesannya sambil tangan kanannya sibuk menjabati rombongan. Wajahnya sedikit lesu yang disembunyikan akibat menunggu cukup lama namun tak ada kabar dari Dul Kemit.
Mereka keluar ruang menuju tempat parkir diiringi oleh Kabid hingga teras pintu kantor. Dengan memendam tanya “Kenapa Dul Kemit atau utusannya tidak muncul,” mereka berjalan bergerombol lalu masuk mobil. Sekalipun begitu, mereka tetap yakin dan teguh pendirian.
Tujuh hari lagi mereka harus menunggu untuk bisa bertemu dengan Dul Kemit atau utusannya pada pertemuan TRIPARTIT. Rasa optimis dan semangat silaturahim memacu adrenalin mereka untuk tidak putus asa dan menyerah.
Mereka yakin bahwa Dul Kemit masih memiliki nilai-nilai humanisme dan etikat baik sehingga mau hadir pada pertemuan TRIPARTIT yang dijadwalkan. Terlebih dia adalah sosok yang diagungkan dan sering menggembar-gemborkan disiplin dan tanggaung jawab.
Minggu berikutnya rombongan guru kembali meluncur ke kantor disnaker kabupaten. Seperti kedantangan sebelumnya, mereka diterima oleh Kabid yang memang menjadi tugas dan kewajibannya.
Di ruang pertemuan yang sudah disiapkan, sambil menunggu pihak Dul Kemit datang rombongan berbincang ngalor-ngidul dengan Kadisnaker. Namun, apa yang terjadi? Ternyata hingga matahari tergelincir di ufuk barat, mereka tidak datang tanpa informasi.
Entah apa sebenarnya yang menjadi alasan Dul Kemit tidak mau menyelesaikan masalah perselisihan dia dengan guru di Disnaker. Infonya, dia berargumen bahwa perselisihan dia dengan guru adalah masalah internal yayasan dan tidak layak untuk dibawa ke Disnaker.
Boleh saja Dul Kemit bilang begitu, namun guru-guru yakin seyakin-yakinnya bahwa kasus mereka layak untuk dibawa kepada ketenagakerjaan. Karena menurut mereka bahwa kasus pemecatan sepihak yang dilakukan Dul Kemit memenuhi unsur ketenagakerjaan.
TRIPARTIT gagal, senasib dengan BIPARTIT. Berhentikah guru-guru mencari keadilan? Apa langkah berikutnya yang akan ditempuh?
"Kepo Kang." Komen kang Ujang sudah tak sabar. "Terus apa yang dilakukan guru-guru?"
"Tahan dulu Kang." Jawab kang Encep bikin gemes.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment