DUL KEMIT THE SERIES 55
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (1)
Oleh : Arif Yosodipuro
“Kang Ujang dengarkan pantunku.” Panggil kang Encep kepada rekan dekatnya ingin berbagi cerita.
“Apaan sih Kang?” Sahut kang Ujang agak ogah-ogahan. “Kaya penting aja?”
“Kadieu pirengkeun.” Sambungnya sambil senyum kemudian membaca pantunnya.
Kalau ingin buat kebaya
Pergilah anda ke tukang jahit
Kalau ingin cepat kaya
Ikutilah kiat ala Dul Kemit
Pergilah anda ke tukang jahit
Kalau ingin cepat kaya
Ikutilah kiat ala Dul Kemit
“Ha ha ha …. bisaan, Kang Encep.” Komentar kang Ujang tergugah emosinya mendengar pantun rekan karibnya.
Kekuasaan Dul Kemit absolut. Cakarnya semakin kuat mencengkeram. Paruhnya semakin tajam mematuk. Ocehannya semakin memesona seindah murai batu yang sedang birahi merayu betina. Dia bagaikan dewa yang titahnya tak boleh dibantah. Sabda pandikaning ratu tan kena dibantah.
Hal ini membuat keserakahan kyai Dul Kemit semakin menjadi. Semua aset pesantren pelan tapi pasti hampir semuanya sudah dikangkangi, dipindahtangankan kepada anak-anaknya. Lahan-lahan yang seharusnya menjadi aset dan milik pesantren diatasnamakan anaknya.
Tak cukup disitu. Dia terus mencari trik dan intrik untuk bisa mendapatkan rupiah. Pundi-pundi yang membuat orang bungah itu terus ia kumpulkan seolah ia akan hidup langgeng, kekal selamanya. Semua pos yang bisa mendatangkan uang dikuasainya dengan tanpa ada celah.
Kalau dulu warga pesantren, karyawan atau pun pengurus pesantren, ada yang bisa memasok kebutuhan dapur, sekarang semuanya distop. Tak ada yang boleh menyuplai kecuali kyai Dul Kemit dan istri anaknya.
SEMUANYA. Sekali lagi semuanya. Segala hal yang dihajatkan oleh dapur pesantren sampai hal yang remeh-temeh dipasok oleh Dul Kemit. Tahu, tempe, kecap tak luput dari item list yang harus disuplainya.
Ia suruh orang kepercayaan belanja di luar. Kemudian sebelum dikirim, barang-barang belanjaan tadi dimark up harganya yang membuat hati menjerit. Ekstrimnya makelarlah, calo di terminal. Kalau istilah kerennya BROKER, biar kaya jaman now.
Bayangkan… garam dapur yang di pasaran hanya Rp1500/kg, Dul Kemit jual ke dapur pesantren Rp30.000/kg. Wow…. keren kan…? Apa nggak gila itu. Modalnya hanya berkoar-koar di masjid sebagai ajang promosi dan melabeli garam dengan GARAM ORGANIK.
Yang lebih gila lagi, ikan lele. Memeliharanya di empang yayasan. Nyaris tidak ada perawatan. Kalaulah ada, karyawan pesantren yang melakukanya dan karyawan digaji oleh pesantren. Dul Kemit tak mengeluarkan biaya sepeser pun. Iya, TAK SEPESER PUN.
Kemudian begitu panen dia yang memanennya dan dikirim ke dapur pesantren dengan harga yang fantastis, mencengangakan. Mau tau…..? Rp50.000,-/ kg. LIMA PULUH RIBU per kilo. Apa nggak hebat gilanya. Tidak ada di negeri ini, pelosok mana pun, yang ikan lele seharga Rp50.000,- kecuali di pesantren Dul Kemit. Di pasaran paling mahal Rp24.000 – Rp25.000,-
Dulu telor pun istrinya yang masok. Namun sekarang, itung-itung bagi rezeki juga memberi lahan pangan kepada generasinya, telor yang semula menjadi hak pasok istri Dul Kemit, nyai, diestafetkan atau diwariskan kepada putra sulungnya, Gus Memet.
Mengikuti jejak pendahulunya, orangtuanya, Gus Memet pun mengambil untung yang luar biasa. Kalau di pasaran harga telor berkisar 23-24 ribu per kilo, Gus Memet jual telor ke pesantren Rp4000,- lebih tinggi dari pada harga eceran di kampung-kampung. Keuntungan bisa enam sampai delapan ribu.
Sementara kebutuhan telor setiap pekannya tidak kurang dari enam ton. Jadi, berapa keuntungan yang diperoleh Gus Memet setiap pekannya? Katakanklah untungnya Rp6000,- Kemudian dikali enam ton. Setidaknya Dia meraup keuntungan sekitar Rp36 jutaan (6 ton x Rp6000,-) sepekan. Sebulan berapa…? Lumayan kan…?! Bisa kasih belanja empat orang istri….
“Masa sih Kang, Gus Memet punya istri empat?” Potong kang Ujang heran mendengar orang yang ia anggap pengayom ternyata suka kawin.
“Wah sudah bukan rahasia lagi, Kang.” Sahut kang Encep mantab dengan penuh keyakinan. “Banyak kok informasinya, coba cari di google atau di facebook.”
“Oalah….” respon kan Ujang tak mengira ternyata kelakuan Gus Memet tak pantas jadi panutan. “Pantes berani punya istri empat. Seminggunya Rp36 juta…” gumamnya menyetujui teman bicaranya.
“Sudah dulu ya, Kang.” Kata kang Encep menyudahi ceritanya. “Lain waktu dilanjut lagi. Saya shalat ashar dulu. Masih banyak ceritanya.”
“Ah, Kang Encep,” kata kang Ujang protes tak ingin distop. “Lagi seru-serunya. Ya udahlah. Saya juga belum Ashar.” Gerutunya pada diri sendiri. “Ditunggu ya Kang.”
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment