TESTIMONI PRIBADI 16
Dulu Ditolak Sekarang Diajak
Oleh : Arif Yosodipuro
Sejak peristiwa penghadangan di masyikhoh pada Sabtu, 17 Desember 2016, guru diklasifikasikan menjadi tiga. Guru merah – mereka yang ikut rombongan silaturahim ke syaykh yang kedua, guru kuning – mereka yang dalam kecurigaan, dan guru putih – mereka yang tidak masuk dalam daftar guru merah dan kuning.
Sembari seleksi guru baru berlangsung, ada beberapa guru yang ditugaskan untuk mengadakan pertemuan khusus. Mereka di antaranya Dewan Guru yang masih ada di Mahad, (Ust. Alfi Satria, Usth. Wina Safitri), manajer pendidikan dan wakil (kalau tidak salah Ust. Herman Sururi, Usth. Iis Humairoh, Usth. Nur Aliyah), dan guru (Ust. Budi Satro), serta beberapa orang lainnya.
Pertemuauan mereka sangat intens. Hampir tiap malam pada kurun waktu 1-8 Januari 2017, mereka mengadakan pertemuan. Hal yang dibahas dalam pertemuan adalah mempersiapkan pembelajaran dalam masa transisi, dihadangnya ratusan guru.
Selain itu, ada juga yang ditugaskan untuk menemui guru kuning dan guru merah. Yang bersangkutan mendatangi rumah guru merah dan membujuk agar mencabut surat pernyataan keberatan (somasi) kepada syaykh dan bertaubat (istilah mereka).
Seperti yang dilakun oleh Ust. Alwi. Dia mendatangi rumah Ust. Tatang Haryono, Ust. Yusaefudin, Ust. Suryana, dan Ust. Purbosari. Pada kesempatan lain, Ust. Noviastono, Ust. Tihan, Ust. Tatang, Ust. Moch. Yunus, dan Ust. Yusaefudin berkunjung ke rumah Ust. Alwi. Namun, yang bersangkutan tidak ada di rumah.
Karena tidak bertemu, mereka memutuskan untuk menunggu Ust. Alwi di rumah Ust. Yusaefudin. Beberapa saat kemudian, Ust. Alwi datang ke rumah Ust. Yusaefudin. Dia bilang bahwa guru yang tadi ia datangi agar bertaubat kepada syaykh bukan kepada Allah. Taubatnya pun melalui pintu Ust. Alfi, Usth. Wina atau Ust. Alwi.
Selajutnya guru kuning yang sudah diperiksa (ditaftis) dan guru putih dipanggil, ada yang melalui SMS dan ada yang melalui telepon untuk datang ke kampus. Mereka dikumpulkan dan bersilaturahim khusus dengan syaykh.
Silaturahim dilakukan secara bergiliran. Dalam silaturahim itu, syaykh bercerita panjang lebar tentang pendirian ma’had. Inti dari silaturahim itu adalah menanamkan kepercayaan dan empati kepada syaykh. Dengan orasi naratif, audience digiring agar mengakui bahwa syaykhlah orang yang paling berjasa dalam pendirian ma’had. Secara implisit menegaskan bahwa ma’had itu ada karena syaykh.
Informasi yang saya terima bahwa guru yang belum silaturahim disuruh tunggu sampai hari Ahad, 8 Januari 2017. Pada tanggal tersebut, guru merah mencoba datang ke Ma’had untuk persiapan tugas mengajar di semester genap.
Ternyata pintu benar-benar tertutup. Begitu sampai di gate, mereka (guru merah) disambut oleh bentangan rantai dan blockade ratusan pagar hidup dari keamanan ma’had dan orang tak dikenal. Selain itu, terpampang juga pengumuman yang tidak ada penanggung jawabnya.
Pengumuman itu berbunyi: “BAGI GURU YANG BELUM SILATURRAHIM KEPADA SYAYKH AL-ZAYTUN BARU BISA MASUK PADA HARI SENIN 09/01/2017 JAM 08.00 WIB.”
Mungkin dengan pertimbangan kebutuhan guru sangat mendesak di mana sebentar lagi santri akan datang dan pembelajaran pun akan dimulai, maka penerimaan guru baru dipercepat dan diperlonggar. Dulu tidak boleh ada suami istri dua-duanya menjadi guru.
Sebelum kejadian pengusiran dan pengahadangan, ada suami/ istri (guru) yang ketika melamar menjadi guru ditolak. Di antaranya Saudara Nasrul Alam, suami Usth. Waskitaningrum. Istri Ust. Kushartoyo, istri Ust. Suhiron, dan masih ada yang lain.
Namun sekarang berbalik. Bukannya ditolak tapi justru DITAWARI dan DIAJAK. Banyak suami guru yang masuk menjadi guru. Prinsip itu tak lagi dipedang. Yang penting ada guru. Siapa pun mereka asal mau dan bersedia direkrut, karwawan, kordinator donatur, atau pun suami guru.
Sederet nama suami guru yang sekarang mengajar di antaranya saudara Haryanto Mardhoni, suami Usth. Wina Safitri, membantu menagajar di Aliyah kadang Biologi kadang bidang studi lain.
Kemudian suami Usth. Eva Yosefa, dari P3T, mengajar di MI. Saudara Barkah, suami Usth. Mira Dewi, mengajar Biologi di Aliyah (jarang karena kembali fokus ke pertanian). Saudara Asep Sutisna, suami Usth. Ngaisah, mengajar di MTs. Saudara Nugroho, suami Usth Waway, mengajar di Aliyah. Dan masih ada yang lainnya.
Rupanya memang sudah tak ada itikad baik kepada “guru merah.” Dengan memanggil alumni untuk mengajar, juga menerima guru baru menunjukkan adanya penolakan terhadap guru merah, sekalipun menabrak statement yang pernah diucapkan.
DULU DITOLAK SEKARANG DIAJAK, dampak dari MENELAN LUDAH SENDIRI. Padahal dulu teriaknya TIDAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI. Sekarang Rotannya tinggal ranting akar pun gering dan keriting.
Catatan:
1. Bila ada kekeliruan data dan nama bukan unsur kesengajaan dan akan direvisi kemudian.
2. Karena adanya sanggahan saudara Riyadi pada statusnya maka sy hapus nama ybs. Terima kasih.
1. Bila ada kekeliruan data dan nama bukan unsur kesengajaan dan akan direvisi kemudian.
2. Karena adanya sanggahan saudara Riyadi pada statusnya maka sy hapus nama ybs. Terima kasih.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment