Wednesday, March 21, 2018

Undercover 103

TESTIMONI PRIBADI 8
Usir Sadis Ala Teroris (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Sebaiknya Ustadzah ambil saja dulu untuk jaga-jaga bila nanti dibutuhkan.” Kata Toni memberi saran. Bu Prapti bergegas kembali ke kamar untuk mengambil dokumen dikawal oleh pak Dasrun. Dengan perasaan penuh tanya, ia masukkan dokumen dalam tas lalu turun ke lantai satu.
Beberapa saat kemudian datanglah mobil keamanan. “Silakan naik, Ustadzah.” Kata keamanan yang duduk di belakang stir. Bu Prapti pun mengikuti perkataannya. Barang ia masukkan terlebih dulu. Tak ada penumpang lain kecuali bu Prapti dan sopir berpakaian seragam keamanan, putih biru.
Sesampainya di gate, ia berjalan menuju loket untuk entry BIT. Banyak petugas keamanan dan beberapa wali santri di situ. Beberapa orang keamanan memvideo bu Suprapti. Setelah BIT diserahkan, petugas berkata, "Maaf Ustadzah, atas PERINTAH PIMPINAN, BIT ustadzah kami simpan di sini.
“Mengapa begitu…?” Tanyanya spontan, protes.
“Ini perintah pimpinan, Ustadzah.” Kata petugas berdalih sambil memandangi bu Prapti.
“Ya sudah….” Kata bu Prapti dengan nada tinggi dan perasaan kesal karena BIT-nya diminta oleh petugas BIT. Ia kemudian berjalan keluar menuju parkiran motor di depan gate untuk mencari ojek. “Lho….banyak motor kok gak ada orangnya?” tanyanya dalam hati.
Bu Prapti mulai jengkel dan marah. Bagaimana tidak? Begitu banyaknya kendaraan bermotor yang diparkir depan gate, sore itu tak seorang pun stand by dekat motornya. Padahal biasanya ditunggui pemiliknya, karyawan yang mengojek.
Karena kesalnya, bu Prapti menoleh kepada keamanan di dekatnya seraya berkata, "Hai Bi, saya disuruh keluar tapi mana tanggung jawabnya? Mengapa para karyawan yang ngojek kok tidak ada? Kan biasanya pada nongkrong di motor…..?”
“Tunggu Ustadzah, kita carikan ojek,” kata sang petugas keamanan. “Duduk saja dulu, Ustadzah.”
“Untuk apa saya duduk… kalau perlakuan seperti ini kepada saya….?” Sahut bu Prapti sambil mengendalikan emosi kejengkelan. Perasaan gelisah dan gundah bercampur marah menggelayut dalam pikirannya.
Hampir 20 menit menunggu, belum juga ada satu pun karyawan pengojek yang tampak batang hidungnya. Seolah-olah mereka seperti pasukan tempur yang disuruh sembunyi oleh komandannya. KOMPAK, SEREMPAK, mengikuti aba-aba.
Tak mau berlama-lama dalam kegelisahan, bu Prapti ambil sikap. Ia hadang saja sembarang motor yang lewat di depan gate dari arah Suka Selamet. Subhanallah, Dzat yang Rahman dan Rahim. Alhamdulillah, ada pengendara motor yg mau berhenti dan mau ia tumpangi.
Rupanya pengemudi motor adalah orang yang mau pergi ke Haurgeulis. Dari raut wajahnya, orang tersebut agak heran dan bertanya-tanya melihat bu Prapti membawa banyak tas. Tapi tak banyak cakap. Ia hanya bertanya, “Mau ke mana, Bu?”
“Mau ke rumah teman saya di Haurgeulis.” Jawabnya datar sambil menata diri naik ke jok tepat dibelakang orang yang berbaik hati itu. Selama dalam perjalanan, tak ada percakapan atau dialog. Sang pengendara fokus pada motor yang melaju di jalan penuh gelombang.
Desingan motor terus menderu mengirama bagai musik perkusi menjadi hiburan tersendiri. Kepulan asap, limbah pembakaran mengepul mengerol-erol bagai awan yang menggelayut di angkasa, menghiasi panorama alam pedesaan yang lebih bersahabat dibanding pesantren tempat ia mengabdi.
Suara Adzan mengalun merdu memanggil manusia-manusia beriman untuk segera mengambil wudlu kemudian melaksanakan shalat lima waktu. Sampailah ia di jalan gang depan rumah kontrakan bu Sumarmi.
Ia keluarkan uang 20.000-an dan diberikan kepada sang pengendara berhati mulia. Namun, ia menolaknya. “Nggak usah, Bu,” katanya sambil bersiap-siap melanjutkan perjalanan. Bu Prapti tak mau memaksa dan hanya bisa berkata, “Terima kasih ya Pak….”
Ia kemudian berjalan ke rumah bu Sumarmi. Berceritalah ia kepada bu Sumarmi tentang kejadian yang ia alami. Bu Prapti menyimpulkan bahwa dengan dimintanya kunci kamar dan BIT, membuktikan bahwa tidak ada tempat baginya untuk tinggal lagi di mahad.
Bagi bu Prapti Al-Zaytun adalah tempat mengabdinya. KTP-nya pun KTP Al-Zaytun, dengan alamat AL-ZAYTUN RT 007 RW 21 MEKARJAYA, GANTAR, INDRAMAYU. Keluar mahad bukanlah kehendaknya. Tetapi ia dikeluarkan dengan paksa oleh beberapa keamanan atas perintah sang penguasa.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment