Thursday, March 1, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 51

DUL KEMIT THE SERIES 51
Raja Bohong Berkoar, 30 Ton Per Hektar (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Image building, pencintraan, yang dilakukan Dul Kemit nyaris sempurna. Para santri, guru, eksponen, terpatri oleh propaganda dustanya, kecuali beberapa orang yang kritis tapi hanya diam tak berkutik. Informasi yang disemburkan oleh belut tua itu sungguh memesona dan membuat pendengar terpana.
Panen pun selesai. Gabah diangkut ke tempat penyimpanan dan selanjutnya ditimbang karung demi karung. Seorang yang ditugaskan khusus untuk mendata serius memelototi angka pada monitor timbangan lalu mencatatnya di kertas yang sudah ia siapkkan di dekapannya.
Hasil timbangan kemudian direkap dan dijumlah keseluruhan. “LHOH….!!!” Kata petugas dalam hati, heran. “Kok cuma segini…?” Lanjutnya kurang yakin. Untuk memastikan, ia hitung kembali. Hasilnya pun sama, hanya DELAPAN TON lebih sekian.
Petugas kemudian bergegas memberi tahu kepada komandannya. Belum selesai bicara dengan komandan, telepon ekstensen berdering. Sang komandan spontan menyahut gagang telepon. Ternyata telepon dari orang kepercayaan Dul Kemit, menanyakan hasil panen dapat berapa dan diminta segera menghadap kepada Dul Kemit.
Komandan pergabahan langsung cabut, ngacir terburu-buru menghadap sang kyai yang sudah menunggu di teras kantor. Jarak tiga meteran, sang komandan jalan jonkok mendekati Dul Kemit sebelum membacakan hasil panen. Usai itu, ia pamit lalu jalan jongkok mundur meninggalkan kantor.
Mendapat laporan anak buahnya, Dul Kemit hanya diam tak berkomentar. Ia menerawang ke depan seperti memikirkan sesuatu, apologi. Imajinernya, “Kok hanya dapat segitu, ya….?” Pikirnya. “Sudah telanjur dibilang 30 ton per hektar.”
Hasil panen yang tidak sesuai dengan iklan itu bocor sampai ke banyak telinga. Tak ayal hal ini membuat Dul Kemit kebanjiran komen di medsos. Berbagai redaksi seputar kebohongan Dul Kemit muncul silih beganti di wall pemilik akun.
Di antaranya, “Wah bisa masuk MURI, satu hektar 30 ton.”
Namun…, jangan panggil Dul Kemit kalau kurang akal dalam mengelabuhi orang. Untuk menutupi ngibulnya – hasil panen yang jauh dari propagandanya, ekstrimnya, untuk mengalihkan perhatian terhadap kegagalannya, ia bikin acara menumbuk padi.
Di hadapan para jamaah usai shalat Jum’at, Dul Kemit menyihir. Sambil senyum tipis, namun serius, ia bilang, “Siapa yang ingin dekat kepada kyai, ayo ikut numbuk padi dengan alu (batangan kayu yang digunakan untuk menumbuk, alat tumbuk padi).” Sontak hadirin pun mengamininya. Dengan cara ini, isu ngibulnya otomatis tertutupi.
Selidik punya selidik, ternyata ada kacang di dalam rempeyek (kalau ada udang di balik batu sudah biasa). Rencananya hasil panen itu akan dijual bibit. Karena itu informasi satu hektar 30 ton sengaja dibombastis, diblow up, digaungkan biar warga masyarakat, khususnya petani penggarap lahan, percaya bahwa padi yang Dul Kemit tanam dapat menghasilkan puluhan ton gabah. Dengan begitu, mereka akan MEMBELI GABAH BIBIT KEPADANYA.
Bayangkan saja berapa keuntungan yang akan dikeruk dengan menjual bibit. Kalau gabah kering panen per kilonya hanya seharga Rp5000,- sedangkan gabah bibit bisa dua kali lipat, Rp10.000,-. Katakankanlah satu hektar memerlukan sekitar 20-25 kg gabah, luas lahan yang digarap 400 ha.
Ambil saja 20 kg per hektar maka akan memerlukan 8000 kg gabah. Kemudian 8000 kg x Rp10.000,- hasilnya Rp80.000.000,- Wooow….., Dul Kemit dapat mengantongi keuntungan Rp40 jutaan. Hebat bukan….?!!
Tapi ingat Kang Ujang. Kebohongan tetaplah kebohongan, tak kan selamanya selamat dari teropong sang pencipta alam.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment