Thursday, March 1, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 50

DUL KEMIT THE SERIES 50
Raja Bohong Berkoar, 30 Ton Per Hektar (1)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Kang Ujang, mau tahu ngibulnya si raja bohong, Dul Kemit?” Tanya kang Encep seraya duduk di sebelah kang Ujang, menghela nafas sejenak lalu bercerita.
Menjelang panen, “Dul Kemit memblow up informasi yang fantastis dengan retorika hipnosisnya, di masjid, di pertemuan-pertemuan, juga kepada petani penggarap lahan yayasan (PLY). Tak hanya itu, ia juga berkoar kepada pejabat dan tokoh dekatnya.
Dengan PD-nya tanpa beban, Dul Kemit mempropagandakan padinya yang akan di panen di hadapan ribuan jamaah Jum’at yang terdiri dari santri, guru, karyawan, eksponen, juga wali santri yang kebetulan menengok anaknya. Dia berkoar bahwa padi yang ia tanam akan menghasilkan 30 TON PER HEKTAR. Sekali lagi, 30 TON PER HEKTAR. Fantastis bukan….?
Untuk meyakinkan hadirin, ia keluarkan kalkulator. Di balik kaca mata hitamnya, ia tekan-tekan tombol sambil mulutnya komat-kamit menghitung. Satu benih akan beranak sekian pohon (rumpun). Per malai sekian bulir, kemudian dikalikan sekian pohon dalam satu rumpun . Selanjutnya kali sekian ribu titik (rumpun) dalam satu hektar, maka akan ketemu hasil 30 TON PER HEKTAR.
Dari 30 ton itu kalau digiling akan menghasilkan SEBELAS (11) TON LEBIH BERAS. Harga beras per kilonya Rp11.500,-. Kemudian Rp11.500,- dikalikan 11.000 kg akan menghasilkan lebih dari Rp120 juta. “Banyak kan….?” tanyanya kepada hadirin. “CARI DUIT ITU GAMPANG KALAU KITA MAU. KALAU KITA TANAM 400 HEKTAR, BERAPA JADINYA…?” ujarnya sambil menepukkan kedua tangannya lalu memasukkan jimat, mesin hitung, ke sakunya.
Orasi hypnosis Dul Kemit membuat jamaah tak sadarkan diri. Mereka terkagum-kagum dan mengamini sambil mengangguk-angguk apa yang dikatakannya. Dalam hati ada yang berkata, “Ini baru pimpinan, Wah hebat kyai. Baru di sini satu hektar bisa menghasilkan 30 ton,” dan hayalan lainnya. Ada pula pengagum setianya yang langsung bikin status di medsos dengan berbagai redaksi propaganda bodong.
Tak tanggung-tanggung. Untuk mendukung nggedabrusnya, gombalannya, juga menambah kepercayaan warga pesantren dan masyarakat sekitar, ia undang tokoh tenar untuk datang menyaksikan. Baleho besar dan spanduk pun terpampang membentang.
Semua warga pesantren mulai dari santri, karyawan, guru, eksponen, petani dikerahkan untuk mengikuti panen, yang ia namakan panen raya, walau hanya 2,5 hektar. Beberapa guru pun ada yang larut uforia panen, dengan bangganya langsung update status.
Saking PD-nya, sesampainya di lahan, Dul Kemit masih mengatakan bahwa padinya akan menghasilkan 30 ton per hektar. Agar mereka yakin, ia suruh orang kepercayaanya memotong satu rumpun kemudian ditunjukkan kepada orang yang ada di dekatnya. “Lho lihat ini, banyak kan…? Dapatlah 30 ton.” Gombalnya sambil menggoyangkan jerami yang ada ditangannya.
Di antara yang hadir berbisik, "Gak mungkin dapat 30 ton. Kalau 30 ton gak gini. Padat, padinya gak bisa dipiyak (melainya rapat)."
“Tau nggak Kang Ujang, berapa hasilnya? Lahan 2,5 hektar itu HANYA DAPAT 8 TON. Sekali lagi DELAPAN TON dari 2,5 hektar.”
“Oalah, masih banyakan petani sekitar Kang, satu bahu, 7000 m2, bisa menghasilkan 4 ton lebih. Kalau satu hektar ya bisa 5-6 ton lah.” Celetuk kang Ujang.
“Gitu aja berkoarnya menggelegar membuat mata berbinar. Ya itulah, RAJA BOHONG BERKOAR, 30 TON PER HEKTAR.” Kritik kang Encep masam.

MALU ZOOOONK.....eh salah...
MALU DOOOONG....?!!! Sambil melambaikan tangan manja ala bencong.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment