Wednesday, March 28, 2018

Undercover 113

TESTIMONI ALUMNI (14)
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


Oh iya, paginya sebelum berangkat, saya sudah briefing kepada Fuad, Husnul dan Dwi agar tidak banyak bertanya. “Dengarkan saja apa yang disampaikan,” kata saya. Nu’man tidak ikut briefing, maka hanya dia yang sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus kepada kejadian guru. Di antaranya dia bertanya tentang goro-goro yang terjadi di Gontor.
Di tengah kami sedang asyik mendengarkan ceritanya syaykh, sekitar pukul 11.50, HP Dwi Ari Sandi berkumandang adzan dzuhur. Semua cuma melirik. Lalu bunyi itu dimatikan. Tak sedap kalau kami yang ngajakin shalat kan ya? Yaudah, ngobrolnya berlanjut.
Waktu makan pun tiba. Bersama syayh kami disilakan makan, satu meja. Lalu kami pindah ke meja makan. Hidangan gulai kambing tertata rapi di meja bundar menggugah selera. Sebagai menu pembuka, disajikan buah nangka. Sedangkan oleh-oleh khas Tasik yang dibawa saudara Husnul, di antaranya keripik singkong, keripik talas dihidangkan sebagai menu penutup.
"Syaykh saya sering makan di restoran Aljazirah Matraman (restoran Timur Tengah) tapi ini kambing jauh lebih enak di sini dari pada di restoran itu,” kata saya memuji.
“Wah Ikhsan ini persis seperti syaykh,” Sahutnya GR kali. “Wiw dipuji begitu jadi ge er sih,” kata saya dalam hati. Lalu dia bercerita bagaimana waktu dulu di Johor, Malaysia, waktu ibadah haji apa umroh yang makan di rumah orang. Karena hal seperti yang saya lakukan tadi, memuji orang dulu, lalu orang memberi yang dia mau.
Beliau tambah. Sebenernya saya mau tambah juga, namun sedikit jaim, jaga image. Alhamdulillah, ternyata gayung bersambut. Syaykh tahu keinginan hati saya. "Ikhsan tambah lagi,” kata syaykh menawari sembari menuangkan nasi ke piring saya. “Aduh…mimpi apa saya semalam dapat layanan dari syaykh,” kata saya dalam hati ke-GR-an.
Karena saya rasa obrolannya gak ada arah dan gak selesai-selesai. Sementara waktu sudah hampir pukul 14.00 dan saya juga sudah harus balik ke Jakarta, setidak-tidaknya ba'da ashar, maka saya memberanikan diri bertanya, "Syaykh sebenarnya apa yang terjadi dengan guru-guru?"
“Ini syaykh dari tadi diem aja ya,” jawabnya sambil menata diri. “Karena Ikhsan sudah bertanya. Maka syaykh akan menjawab,” syaykh menatap kami serius. “Beberapa oknum guru (guru merah) melakukan pungli kepada santri. Lalu syaykh menegur mereka di Al Hayyat.”
Kami mendengarkan dengan seksama. “Kenapa di Al Hayyat? Karena mimbar syaykh sebatas di Al Hayyat, maka jangan bawa-bawa ke Istiqlal. Jadi wajar syaykh menegurnya di Al Hayyat. Dan beberapa guru ternyata ada yang tidak terima dan meminta penjelasan syaykh tapi tidak diterima karena sudah dijelaskan semua di Al Hayyat.”
Kemudian melanjutkan. “Dan sysyh tidak menerima siapapun saat libur santri kecuali yang syaykh panggil dan saat itu juga syaykh sedang kurang sehat karena suara syaykh terganggu akibat kawan syaykh membawa oleh-oleh, keripik, yang mengandung MSG. Syaykh itu sangat sensitif terhadap MSG.
Lalu saya bilang, “Secara teknis saya tidak faham syaykh kejadiannya bagaimana. Tetapi saya punya keyakinan bahwa semua ini bisa diselesaikan dengan berkomunikasi. Ini semua bisa diselesaikan.” Mendengar jawaban saya seperti itu, beliau tidak merespon, diam membatin.
Selanjutnya kami pindah kembali ke kursi tamu. Dialog pun berlanjut. “Sudah waktunya alumni kembali ke almamaternya untuk mengabdi,” kata syaykh menjelaskan maksud undangannya. “Syaykh butuh tenaga pengajar. Tentang gajinya nanti minta berapa dan nanti syaykh tawar berapa.”
“Saya juga aktif di jammas syaykh,” Celetuk Nu'man menyela, memberi tahu ditengah-tengah pembicaraan. Syaykh senyum tipis.
Bersambung….testimoni 15. Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (4) Tamat

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment