Wednesday, March 7, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 52

DUL KEMIT THE SERIES 52. 
Raja Bohong Berkoar, 30 Ton Per Hektar – Jebakan Batman (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


UUD, Ujung Ujungnya Duit. Inilah ungkapan yang pas untuk dilekatkan pada koaran Dul Kemit. Masih pada celotehan prapanen, saat Dul Kemit memberi wejangan, nggedabrus ngalor ngidul, sebagai sihirnya, menghipnosis hadirin dari balik kaca ribennya.
“Anak-anakku semua, juga para hadirin,” ucapnya sambil membetulkan kancing jas, “sebentar lagi kita akan panen. Lahan kita yang siap panen ada….” Berhenti sejenak. Dul Kemit menoleh kepada cantriknya, orang kepercayaan, lalu bertanya, “Berapa Lis, Sulis lahan kita yang siap panen?” matanya menatap tajam kepada Sulis.
“Dua setengah hektar kyai.”
“Iya, dua setengah hektar anak-anak.” Lanjutnya sambil melepas kancing jas dan memegang-megangnya. “Nanti kita undang jendral untuk ikut panen raya. Anak-anak juga ikut, biar kalian tau bagaimana rasanya memanen padi juga bisa menghargai jerih payah petani dalam menyiapkan pangan. Kita pakai seragam. Kita buat desain yang bagus.” Tegasnya, lalu memandang kepada jamaah.
“Pak Sobur, siapkan desain yang bagus.” Matanya menatap pak Sobur yang ada di kiri depannya. Pak Sobur memandang sejenak lalu mengangguk. Tunduk pada perintah paduka yang mulia kyai, Pak Sobur lantas meminta stafnya untuk merancang kaos dan tulisannya.
Dengan cekatan sang staf segera beraksi. Ia otak-atik aplikasi photoshop dan mulai mendesain. Tak perlu waktu lama, desain pun jadi. Ia berikan gambar itu kepada pak Sobur. Selanjutnya rancangan dikonsultasikan kepada Dul Kemit untuk diperiksa, dikoreksi, dan mendapatkan persetujuan.
Setelah gambar disetujui, tentu ada beberapa koreksi sebelumnya, kemudian diproduksi sebanyak orang yang akan ikut hadir dalam acara panen. H-1, kaos jadi dan dibagikan kepada santri, guru, dan eksponen tanpa menyebut berapa harga dan nominalnya. Pokoknya TINGGAL PAKAI.
Mendapatkan bagian kaos, para santri dan guru girang bukan kepalang. Tak mau membuang waktu, sebagian mereka ada yang langsung mencobanya untuk memastikan pas dan tidaknya. Mereka berdiri di depan cermin sambil memutarkan badan, depan, samping, dan belakang.
Keesokannya, hari H, santri, guru, eksponen mengenakan kaos seragam warna gelap dan bertuliskan moto di bagian belakangnya. Mereka tampak bagaikan gambreng, sejenis tawon berwarna hitam (kumbang), sedang menyerbu bebungaan mencari madu. Tak ada pikiran BAYAR di benak mereka. Yang ada cuma senang dan girang pakai kaos baru sambil bisa jalan-jalan ke sawah.
GUBRAAAAAK…... JDAAARRRR….!, kegembiraan mereka sirna bak disapu tsunami yang membencana. Sehari pasca panen, ada informasi bahwa kaos tersebut bukan GRATIS tapi harus beli. Harganya pun cukup lumayan Rp50.000,- yang kalau beli di pasaran hanya sekitar Rp30.000 – 35.000,- Coba Kang Ujang hitung, berapa keuntungan yang diraih kalau per kaosnya Rp20.000, dikali sekian orang. Banyak kan…..?
Kena dech JEBAKAN BATMAN….
“Oalah kang, kang.” Potong kang Ujang. “Ini mah acaranya tivi, KENA DECH. Hanya pengalihan isu dan pencitraan. Kok nggak dari dulu.”
“Iya kang.” tukas kang Encep mengamini pendapat rekan ngobrolnya. “Biasalah Dul Kemit ingin menunjukkan kepada publik biar dipandang wah…. Ini lho AKU. Padahal ini justru KEMUNDURAN. Bukankah sebelumnya pengurus organisasi pelajar DIBERI LAHAN GARAPAN untuk berlatih bercocok tanam. Lha ini santri diajak ke sawah, panen, hanya sekadar untuk pencitraan, menutupi kasus hukum perdata, PHI, yang dihadapinya.”
OO… KAMU KETAHUAAN, BERBOHONG LAGI PADA DIRINYA….Silakan dilanjut kang, lagunya….

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment