TESTIMONI PRIBADI 6
Usir Sadis Ala Teroris 1
Oleh : Arif Yosodipuro
Tidak hanya saya yang tidak boleh masuk. Yang di dalam ma’had baik yang mukim (tinggal) ataupun sedang bertugas juga diusir dengan sadis. Seperti yang dialami oleh kolega saya, anggota Dewan Guru Bidang Pendidikan Sekolah, Ustadzah Suprapti.
Kecintaannya kepada Al-Zaytun tak perlu diragukan. Ia membulatkan keputusan bahwa Al-Zaytun adalah hidupnya dan tempat pengabdiannya di dunia. Sebab itu amanah ayahnya menjelang meninggal pun ia kalahkan demi Al-Zatun.
“Tik,” kata ayahnya yang sedang terbaring sakit dengan suara pelan sambil memegang lengannya. “Kalau bapak dipanggil Allah, tolong jaga ibu dan dua adikmu. Jangan sampai putus sekolah. Bapak yakin Atik mampu.”
“Iya, Pak.” Jawab bu Prapti tawadhu’. Ayahnya lebih percaya kepada bu Prapti dari pada kepada kakaknya. Ia tahu bahwa anak perempuannya itu berjiwa “fighter,” penuh semangat tak mudah menyerah. Tak ayal, sepeninggal ayahnya, bu Prapti menjadi tulang punggung keluarga.
Dengan tekad baja dan semangat yang membara, ia banting tulang kuliah sambil jualan ayam di pasar menggantikan ibunya yang tak bisa lagi beraktifitas. Dengan berjualan itulah ia merawat ibunya yang sakit, dan membiayai sekolah dua adiknya yang masih duduk di bangku SMP.
Lulus kuliah S1, ia mendapat tawaran biasiswa S2 ke Thailand. Namun, kesempatan itu ia biarkan berlalu karena ia memegang teguh wasiat ayahnya. Ia memilih merawat ibunya.
Ditengah tugas suci, berbakti kepada orangtua, bu Prapti mendapat panggilan jiwa, tugas mulia mendidik generasi di Ma’had Al-Zaytun. Dua pilihan yang sangat sulit, bagaikan memegang dua bilah mata pedang. Dua-duanya ibu baginya. Ibu kandung yang melahirkan dan Al-Zaytun sebagai ibu perjuangan dan harapan masa depan.
Beberapa hari ia tak bisa tidur. Pikirannya selalu aktif menimbang dan menimbang, antara merawat ibu juga menyekolahkan adik-adiknya. Atau, menerima panggilan jiwa. Ia pikir, merawat ibu dan adik-adiknya itu masalah personal. Sedangkan mendidik generasi di Mahad Al-Zaytun itu untuk kepentingan bangsa dan agama.
Dengan berat hati ia memberanikan diri minta izin kepada ibunya. “Bu,” katanya hati-hati penuh hormat. “Atik, mendapat panggilan tugas suci mendidik di Ma’had Al-Zaytun. Boleh ya?”
Ibunya tak langsung menjawab. Ia memandangnya tajam, tarik nafas dalam lalu berkata dengan suara lirih, “Tik…, kamu adalah hati ibu. Kalau kamu pergi, nanti yang ngrawat ibu siapa?” Mata ibunya mulai berkedip cepat menahan emosi sedihnya. “Tapi ibu juga kasihan kamu…, gara-gara ibu sakit kamu tidak jadi kuliah S2 di Thailand.”
Ia pegang erat tangan ibunya sambil dibelai-belai. “Insya Allah Bu, dengan mendidik di ma’had, nanti Atik dapat gaji dan bisa melanjutkan sekolah, S2.” katanya beralasan untuk meyakinkan dan menarik simpati ibunya.
Ibunya diam sejenak. Kemudian dengan sedikit terbata-bata melanjutkan, “Sebenarnya…, ibu berat…. Namun, walau dengan berat hati ibu izinkan kamu ke ma’had.” Rupannya ketidakberangkatannya ke Thailand menjadi catatan khusus ibunya.
Mendapat restu dari ibunya, bu Prapti lantas menyiapkan mental dan fisik. Segala perlengkapan dan perbekalan yang diperlukan di ma’had ia rapihkan dipak. Selain barang dan bekal materi, ia juga menyiapkan hafalan juz amma bersama rekan-rekannya, calon guru asal satu daerah.
Sesuai dengan target waktu yang dijadwalkan, berangkatlah bu Prapti ke Ma’had Al-Zaytun bersama calon guru lainnya. Saat ia pamit kepada ibunya, air matanya menderas, mengalir ke celah barisan pori-pori pipinya, demikian pula ibunya.
“Hati-hati kamu di ma’had, Tik. Jaga diri baik-baik.” Pesan ibunya sambil berat hati.
Dengan menegarkan diri, bu Prapti mengangguk seraya berkata, “Iya, Bu. Insya Allah Atik bisa menjaga diri.” Gesture matanya penuh semangat dan percaya diri walau harus rela meninggalkan ibunya yang sering sakit.
Usai minta restu ibunya, ia berpesan kepada dua adiknya. “Jaga ibu baik-baik. Sekalipun mbak Atik di ma’had, mbak Atik tidak lepas dari tanggung jawab. Mbak Atik akan bantu sebisa Mbak Atik.” Dua adiknya pun mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah.
Peluk kasih bincang sayang secara perlahan berjauhan, memisahkan kemesraan dan melahirkan kerinduan di antara umat manusia yang saling mencinta. Berat hati dan kecintaan mesti ia relakan demi pengabdian kepada generasi anak bangsa penerus ajaran agama.
Kaki melangkah, tangan pun melenggang menjauh meninggalkan sanak saudara ke tempat pengembara di hamparan sawah tertata, MA’HAD AL-ZATUN yang punya tujuan mulia.
Bagaimana kondisi ibunya setelah ditinggalkan dan bagaimana pula drama pengusirannya....?
To be continued pada seri berikutnya; TESTIMONI PRIBADI 7, Usir Sadis Ala Teroris (2)
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment