TESTIMONI PRIBADI 2
Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (1)
Oleh : Arif Yosodipuro
Jum’at menjelang senja, 30 Desember 2016, saya bersiap-siap berangkat ke ma’had karena jadwal tugas di ma’had. Sesuai dengan kesepakatan, tiga orang ketua digilir cutinya. Ust. Ali Aminulloh, Ketua Dewan, dan Ust. Sarju, wakil ketua I, mengambil tugas di ma’had duluan. Semetara Saya, wakil ketua II, kebagian tugas di gelombang terakhir.
Menjelang maghrib saya mendapat berita dari WA grup guru bahwa Ust. AGUS TABRI tidak boleh masuk. Saya penasaran dan bertanya-tanya, kenapa dan kenapa. Tak ada yang bisa menjawab. Saya hanya mengira-kira, mungkin ada kaitannya dengan kedatangan guru-guru ke masyikhoh.
Rasa ingin tahu membuat saya bergegas berangkat. Seusai shalat Maghrib, saya berpamitan kepada istri kembali ke ma’had untuk piket (masa cuti semester). Sebagai oleh-oleh, saya membawa pisang goreng buat teman Dewan Guru yang sedang bertugas. Yakni Usth Suprapti yang dari pagi sendirian di kantor Dewan.
Sebenarnya tugas wajib yang harus dipenuhi Usth. Suprapti tugas di ma’had sudah mencukupi. Namun, karena ia tinggal di ma’had, ia meluangkan diri untuk meng-cover rekan-rekan Dewan Guru lain yang sedang cuti.
Dengan penuh tanya, saya menyusuri jalan berlubang Haurgeulis – Sandrem, tempat ma’had berada. Sesampainya di gate, suasana biasa saja. Tak ada yang aneh. Petugas keamanan yang berjaga pun wajar-wajar saja, hanya sedikit tampak lebih waspada.
Saya mendekat ke loket pengentrian BIT, Buku Ijin Tinggal, seraya menyodorkan BIT kepada petugas, DADANG ABDULLAH. JDAAAAAR…..! Dadang bilang, “Ke keamanan dulu pak…” sambil mengembalikan BIT saya. Kaget saya. “Kenapa…?” Saya balik bertanya tak terima. “Aturannya begitu. Kalau kata keamanan boleh, nanti baru saya entri.” Lanjutnya sambil menggerak-gerakkan mouse. Ada apa ini? Tanya saya dalam hati.
Saya pun mengikuti perkataan Dadang. Saya berikan BIT kepada petugas keamanan, saya lupa namanya. Petugas keamanan lalu menelepon keamanan pusat, ekstensen 2111. Di saat menunggu, saya perhatikan ada serombongan polisi berpakaian dinas berjalan dari komplek pesantren menuju gate. Mereka masuk mobil yang menunggu di luar, kemudian meninggalkan ma’had.
Saya diam. Hanya bertanya dalam hati, apa ada kaitannya dengan ini, gak boleh masuk? Saya abaikan pikiran itu. Saya kembali memperhatikan petugas keamanan yang sedang berbicara di telepon. Usai menelepon, petugas memberitahu saya bahwa saya tidak boleh masuk.
“Disuruh melanjutkan cuti di rumah, ustadz,” katanya berdeplomasi sambil senyum terpaksa. Saya masih tak terima “Lho kenapa saya tidak boleh masuk…kan saya mau tugas, piket?” “Begitu perintahnya, Ustadz.” Jawab petugas keamanan bertahan.
Tak yakin dengan jawaban petugas keamanan, saya telepon ke ektensen 2005, kantor piket 2005. Saudara MASWINDRA yang menerima. “Pak gimana ini? Memangnya ada apa, saya tidak boleh masuk?” Desak saya dengan harapan Maswindra merekomendasikan saya masuk.
“Wah itu dari keamanan, Pak.” Kata Maswindra beralasan tanpa pandang. “Saya tidak tahu.” Saya kemudian mengakhiri percakapan dan bertanya kepada petugas keamanan. “Terus gimana ini, saya bawa pisang goreng untuk teman di Dewan?” “Biar orangnya ke sini mengambil,” lanjutnya teguh.
Saya kemudian menelepon 2038, ekstensen Dewan Guru. Saya bilang kepada bu Suprapti bahwa saya bawa pisang goreng dan tidak boleh masuk. “Bu, saya bawa pisang goreng, tapi saya gak boleh masuk. Tolong diambil, ya. Saya tunggu di gate.” kata saya dengan menahan kekecewaan.
Tak berapa lama kemudian, Bu Suprapti datang bersepeda. Sambil senyum dan tertawa tipis, ia mengampiri saya. “Lho wong mau piket kok gak boleh masuk.” ujarnya datar keheranan, namun tak ada tanggapan.
Dengan sedih dan kecewa saya berikan tas keresek hitam berisi pisang saba/ kepok goreng. Saya sembunyikan kekecewaan dan kesedihan saya dengan senyum dan tertawa, demikian juga bu Surpapti. Tak buang waktu, Bu Suprapti lantas berpamitan, kembali ke kantor Dewan Guru.
Saya pun balik badan dan mendekati motor yang setia menunggu. “Aneh,” gerutu saya dalam hati. “Orang mau tugas kok gak boleh masuk.” lalu saya nyalakan sepeda motor dan melaju meninggalkan gate. “Besok sajalah saya balik lagi.” Pikir saya menerawang.
To be continued Testimoni Pribadi 3
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment