TESTIMONI ALUMNI 15
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (4)
Oleh : Arif Yosodipuro
“Berikan informasi ini kepada teman-teman,” lanjut syaykh dengan semangat. “Nanti kalau sudah terkumpul 100 atau minimal 40 orang, karena syarat minimal shalat Jum’at kan 40, kasih kabar syaykh. Di mana pun, di Jambi atau di Kalimantan sekalipun, syaykh akan datang. Gak perlu diongkosi,”
Menjelang adzan ashar, perbincangan pun selesai. Kami kemudian berpamitan pulang dan sebelumnya berfoto bersama. Kami meninggalkan mashikhoh menuju penginapan untuk berkemas-kemas. Baru saja hendak menunaikan shalat, bapak Soleh Aceng meminta kami untuk sesegera mungkin berkumpul di ruang restorasi Al Islah.
Kami berlima plus sofia mengampirinya. Satu per satu secara bergiliran kami ditanya tentang bagaimana pendapat kami mengenai pertemuan dengan syaykh yang baru saja tadi dan kesediaan untuk mengabdi.
Jawaban saya sama dengan apa yang saya sampaikan kepada syaykh. “Masalah ini akan bisa diselesaikan jika dibangun komunikasi kedua belah pihak. Saya juga mengumpamakan, "Kalau orang P*pu* tinggal di P*pu* dengan kot*ka* mereka tidak masalah, namun orang Jakarta tinggal di P*pu* dengan kot*k* itu sulit."
"Jangan samakan almamatermu dengan kot*k*." Sahut pak Sholeh Aceng tidak setuju. Saya hanya tersenyum. Kemudian pak Sholeh Aceng meminta, “Tolong sampaikan maksud dan tujuan syaykh ini kepada rekan rekan alumni yang lain.”
“Siap. Nanti akan kami sampaikan kepada teman-teman,” kata saya berjanji.
Alhamdulillah acara kelar. Kami bermaksud shalat terlebih dahulu sekalian pulang. Namun, baru juga keluar ruang restorasi kami langsung dipanggil oleh Shofia. “Eh temen temen.. Sini dulu.” Panggilnya sambil menggerakkan tangannya. “Gimana nie..., Ada yang mau gak ngajar? Ayolah…. San, Fuad, Husnul, Bli (panggilan Dwi).”
“Ayolah temen temen..” Sahut Nu'man menguatkan, menambah motivasi. “Al zaytun ini ibarat kapal yang dinahkodai oleh syaykh. Tahun 1999 kapal sudah angkat jangkar dan hari ini sudah berada di samudra. Memang banyak oknum yang akan membocorkan kapal dan tidak suka. Itu proses alam kawan. Ayo kita yang harus memperjuangkan almamater ini sebagai alumni.” Lanjutnya serius.
Saya pegang pundaknya "Nu'man ni yang paling siap nampaknya ni di antara kita," kata saya sambil senyam-senyum.
Selang beberapa saat Husnul menambahkan "Terus mau berhenti di mana dan ke mana nie tujuan kapal?"
Sambil membawa tanya kami berpamitan pulang. Sayonara. Rindu hati telah terobati. Berbincang dan bercerita sepanjang tengah hari. Memikir timbang sebelum mengambil aksi. Rupanya kami dipanggil UNTUK MENGABDI.
Fyi, for your information, saya tepati janji saya. Saya sampaikan kepada rekan-rekan alumni siapa yang mau menjadi guru di Al-Zaytun. Ternyata tidak ada alumni yang saya tawari di grup WA mau menjadi guru di sana, termasuk Nu'man rekan saya yang ikut hadir juga anggota jammas.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment