TESTIMONI PRIBADI 5
Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (4)
Oleh : Arif Yosodipuro
Tak kuasa menahan praduga, saya menoleh seraya berkata kepada Ust. Sarju. “Jangan-jangan digembok pintunya...?”
“Ya kita lihat aja nanti.” Kata Ust. Sarju ragu apakah benar digembok atau tidak. Jalanan tampak lengang karena santri sedang berlibur semester. Sambil menata diri, kami terus melangkah.
Benar juga perkiraan saya. Sesampainya di belakang masyikhoh, pintu gerbangnya digembok dan dijaga oleh puluhan keamanan. Dua orang tepat di pintu gerbang. Sebagian di dalam halaman dan sebagian di luar.
Kebanyakan mereka (keamanan) adalah murid kami pada KEJAR PAKET yang oleh Al-Zaytun dinamakan KELAS DEWASA. Yaitu kelas untuk karyawan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah.
Beberapa petugas keamanan menenteng HP dan mem-video kami. Mereka mengambil gambar semua guru yang datang dari berbagai angle. Selain keamanan, ada juga petugas dokumentasi LKM, Saudara Lathief Weha. Ia tampak aktif mengabadikan momen.
Lensa kamera yang lumayan canggih dibidikkan kepada kami. Tangan kirinya memutar-mutar adjustment lantas bidik… jepret, bidik… jepret dari berbagai arah. Fokusnya, ia bisa mendapatkan gambar guru-guru.
Karena pintu gerbang digembok, kami hanya bisa bergerombol di depannya. Beberapa teman – di antaranya Ust. Djarot, Ust. Fahmi, Ust. Suarsa – mencoba negosiasi dengan pihak keamanan. Lelah berdiri menunggu pembicaraan, beberapa teman pun ada yang duduk di trotoar.
Karena tujuan kami hanya ingin silaturahim dengan Syaykh, sekalipun pintu gerbang digembok, kami tetap rapih dan tidak melakukan tindakan anarkis. Upaya kekeluargaan terus kami tempuh.
Dengan sabar Ust. Djarot Wahyu Santoso terus berdialog dengan keamanan yang ada di dalam dari balik tirai julur besi. Ia minta agar bisa bertemu dengan pihak yayasan, utamanya utusan Syaykh. Pembicaraan alot. Pihak keamanan tetap tidak membolehkan.
Tidak ada utusan syaykh yang menemui kami. Keamanan mondar-mandir menyampaikan pembicaraan baik dari kami maupun dari pihak yayasan.
Paham akan kondisi dan tak mau bersitegang, kami lalu minta perwakilan berapa orang untuk bisa menyerahkan surat pernyataan keberatan kepada syaykh. Ini pun tidak dikabulkan. Pihak syaykh minta surat diserahkan melalui keamanan. Seratus lebih surat pernyataan yang di dalam mab yang dibawa Ust. Noviastono kemudian diserahkan kepada keamanan.
Petugas lalu ke dalam kantor keamanan pusat, menyerahkan dokumen tersebut. Entah siapa yang menerima. Apakah diterima oleh Abi Halim atau Pak Fathan sebagai kepala keamanan ma’had.
Namun, penerima tidak mau menanda tangani ekspedisi yang kami siapkan tanpa alasan. Keamanan hanya bilang, “Surat sudah diterima….” seraya menyerahkan kembali tanda terima yang tidak ditanda tangani.
Kami lalu berkumpul melingkar untuk berdoa kepada Allah dipandu oleh Ust. Zaenal Arifin. Usai berdoa, kami dengan sabar kembali ke gedung Abu Bakar.
Apakah yang kemudian terjadi...?
To be continued Testimoni 6. Usir Sadis Ala Teroris
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment