Wednesday, March 28, 2018

Undercover 111

TESTIMONI ALUMNI 12
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (1)
Oleh : Arif Yosodipuro


Sejak persiapan hingga pasca reusni Persada, saya, Muhammad Ikhsan, intens berkomunikasi dengan Shofie, baik melalui telepon maupun chat di WA. Namun komunikasi itu sempat terputus karena setelah reuni kita evaluasi di grup panitia tentang acara tersebut.
Dari sekian banyak poin yang dievaluasi adalah perhatian terhadap guru. Sahabat kami, Chaidar mengungkapkan tentang perasaannya mengenai guru di sana. "Sepeda ustazah nurjanah yang sepuluh tahun lalu dipakai, masih tetap itu loh sekarang.” Dia tampak sedih dan kasihan. "Kasihan banget ya guru-guru kita di sana ga dipeduliin sama pimpinan di sana."
Karena Shofie ada di grup panitia, tampaknya ucapan Saudara Chaidar ini menyinggung perasaannya. "Kalau ga mau nyumbang ya ga usah ngomong begitu," kata Shofie dalam balasan chat-nya.
Kala itu sedang membahas kelebihan dana reuni, sebaiknya dana itu kita gunakan untuk apa. Tadinya mau kita serahkan begitu saja ke rekening pak Panji. Karena sebelumnya kami juga transfer uang reuni itu ke rekening mandiri pribadinya. Tapi akhirnya diputuskan bahwa dana digunakan untuk bikin kaos buat guru-guru.
Selanjutnya biar Shofie tidak marah terhadap ungkapan Chaidar, saya yang berkomunikasi kepadanya. Dan, komunikasi tersambung kembali. Sekitar 16 atau 17 Desember 2016 saya dihubungi Shofie via phone.
“San, ada waktu ga?” katanya menanyakan kesiapan saya. “Diundang syaykh untuk silaturrahmi dan ajak teman-teman lainnya ya.” Lanjutnya berpesan.
Lalu saya ajak beberapa teman yaitu Husnul Muttaqin, Fuad Hilmi dan Dwi Arie Sandi.
Sekitar tanggal 20 Desember 2016, Shofie menghubungi saya lagi menaanyakan kesiapan saya. “Gimana bisa gak?” kata dia minta konfirmasi.
“Bisa,” jawab saya singkat.
“Nanti tolong Nu’man Rafiq ajak bareng, ya.” Kata dia meminta saya agar bisa memberi tumpangan kepada Nu'man rafiq. Karena saya merasa kurang dekat maka saya bilang, “Wah maaf gak bisa, Shof.” Kata saya menegaskan.
Tanggal 23 Desember 2016 malam, saya berangkat menggunakan mobil saya bersama Dwi Ari Sandi. Sepanjang perjalanan, Saudara Dwi bercerita banyak hal, tentang Universitas Al-Zaytun, UAZ, tentang litbang yang cuma basa basi tanpa diaplikasikan, tentang bagaimana dia menjadi pengurus asrama.
Jalanan tak seberapa ramai. Hilir mudik kendaraan baik yang masuk maupun keluar ibukota menjadi ornamen di malam hari bagaikan guratan tangan dingin pelukis tenar Raden Saleh yang dipajang di dinding ruangan.
Rasa rindu dan segarnya udara malam membuat kami tak merasakan lelah menempuh perjalanan. Tengah malam mobil yang kami tumpangi mendekati pintu gerbang, gate. Kami tiba di Al-Zaytun. Memori langsung mengurai kembali mengingatkan masa-masa menjadi santri.
Usai lapor kepada petugas ketibaan, kami meluncur ke Wisma Tamu Al Ishlah untuk menginap. No free, tapi kami bayar. Tak lama setelah itu, dua rekan kami, Husnul dan Fuad datang menyusul. Mereka berangkat dari Bandung.
Keesokannya setelah rapih-rapih, mandi dan sarapan. Kami kembali ke kamar. Lalu dapat telepon dari front office wisma yang mengabari bahwa kami sudah ditunggu oleh abi Fathir, eksponen.
Kami bersegera menghampirinya dan sejenak berbasa-basi. Lalu beliau mengajak kami ke parkiran. "Yuk kita keliling-keliling dulu," Katanya sambil berjalan menuju mobil. Kami semua naik ke mobilnya Husnul, yang di dalamnya banyak oleh-oleh dari Tasik, ya pisang ya keripik.
Rasanya saya seperti 17 tahun yang lalu ketika saya masih menjadi calon santri diajak keliling untuk lihat-lihat. Kata-katanya nyaris saya hafal, cara menyampaikannya. Semuanyalah. Jadi ga ada yangg luar biasa buat saya.
Kami diajak ke istana beras melihat mesin pengering, stok beras yang sebagian saja - saya liat malah berjamur, juga pabrik gula yang sedang dibangun. Sampai akhirnya kami diajak naik ke menara menggunakan lift.
Jujur, saya belum pernah melihat tempat ini dari ketinggian seperti ini. Sebelumnya paling sampai kubah rahmatan. Indah memang. Tapi itu semua tidak bisa mengubah pikiran saya begitu saja. Setelah turun kami langsung ke masyikhoh skitar pukul 10:30. Syaykh sudah menunggu di sana.
Bersambung....
Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment