TESTIMONI PRIBADI - 1
Prediksi Jammas Ternyata Pas
Oleh : Arif Yosodipuro
Usai mengikuti sosialisasi program JAMMAS, hati saya berbunga-bunga. “Wah bagus program ini, ada harapan…” kata saya dalam hati sepanjang perjalanan dari masyikhoh. “Yayasan punya kegiatan ekonomi mandiri. ”
Saya berpikir begitu karena selama ini sebagian besar dana operasional yayasan diperoleh atau tergantung pada sumbangan donatur. Saya juga pernah sampaikan hal ini kepada ketua yayasan pada saat waktu luang di litbang di wisma tamu, kalau tidak salah tahun 2006. Persisnya tahun berapa saya lupa, tapi tempat saya ingat. Saya bilang, agar yayasan tidak tergantung pada donatur, maka harus ada kegiatan ekonomi mandiri.
Sesampainya di ruang Dewan Guru, saya duduk di sofa dan ngobrol dengan beberapa teman, di antaranya Ust. Noviastono dan Ust. Anang. Hampir semua anggota Dewan Guru ada, kecuali Ust. Alfi Satria yang tidak ada, karena sedang tugas belajar.
Sambil bercanda dan juga serius kami larut dalam diskusi ringan. Saya bercakap serius dengan keduanya. Sementara teman yang lain asyik berdialog dengan rekan bincangnya masing-masing.
“WAH BAGUS PROGRAM INI (JAMMAS). BISA MENYEJAHTERAKAN KITA,” kata saya semangat, penuh harapan, dan keyakinan. Saya kira ucapan saya ini akan mendapat dukungan dan diamini. Ternyata dugaan saya meleset. Mereka meledek dan menertawakan.
“Ha ha ha ….GAK BAKAL…..!” Sahut Ust. Novi sambil tertawa has.
“Eh jangan begitu.” Sanggah saya bertahan. “Kalau program ini berhasil bisa untuk kesejahteraan.” kata saya ngotot. Saya bilang begitu karena dalam arahannya, syaykh bilang bahwa hasil tanam jahe nanti bisa untuk menambah gaji guru dan karyawan.
“GAK BAKALAN BERHASIL.…. GAGAL IYA.” Lanjut mereka berdua sambil terus tertawa.
“BISA….” Jawab saya, tak mau kalah. ”SAYA YAKIN BISA BERHASIL.”
“AYO…, BERANI APA KALAU GAGAL…?” Tantang mereka sambil menatap saya serius.
Spontan saya berucap, “SAYA AKAN PROTES TERDEPAN.” Saya sedikit ragu. Saya ingin menarik ucapan saya. Namun dua teman saya, terutama Ust. Novi, keburu mendesak saya.
“Benar ini….?” Ust. Novi merogoh saku dan mengeluarkan HP BB jadulnya seraya berkata, “Ayo kalau gitu direkam.”
Sebagai konsekuensi, saya pun bersedia direkam dengan sedikit berdeplomasi. Saya tidak mengatakan paling depan tetapi “SAYA AKAN MEMBANTU SAUDARA PROTES.” “Tadi katanya paling depan…” desak Ust. Novi. “Iya saya akan bantu saudara“ bela saya sambil tertawa.
File rekaman tersebut disimpan rapih oleh Ust. Noviastono.
File rekaman tersebut disimpan rapih oleh Ust. Noviastono.
Dan beberapa bulan berikutnya, prediksi mereka benar. Terbukti TANAMAN JAHE PADA MATI, alias GATOT, GAGAL TOTAL. Dan untuk mengelabuhi warga, JAMMAS yang semula JAHE MEMBANGUN MASJID diganti/ diubah menjadi JALAN MENUJU MASYARAKAT SEJAHTERA.
Prediksi mereka bukan tanpa alasan. Tentu mereka sudah membaca sejarah kegagalan demi kegagalan sebelumnya. Memang perlu membaca sejarah ya…..?!
Dan perlu dicatat, KALAU INGIN PROGRAM BERHASIL SEPERTI SEBELUM SEBELUMNYA, KEMBALILAH KE KHITHOH. Insya Allah, Allah ridho.
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment