Friday, March 9, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 53

DUL KEMIT THE SERIES 53
Guru Mencari Keadilan (2); Naik Menara untuk Membangun Citra
Oleh : Arif Yosodipuro


Menghadapi derasnya kritikan dengan berbagai gaya (meme, karikatur, artikel, dll) dan volume (tinggi, datar, dan rendah), juga sidang PHI, aura dan kepercayaan kepada Dul Kemit berangsur surut. Indikasinya, setoran bammas dari donatur tak setebal sebelumnya.
Hal itu disebabkan sebagian donatur banyak yang mulai sadar, lelah, capek, dan jenu dengan berbagai tarikan yang dikemas indah memesona melalui beraneka program. Koordinator donatur mengalami kesulitan berkoordinasi dan berkomunikasi. Mereka pun enggan dan ogah membayar iuran. Otomatis pendapatan setoran berkurang.
Karena itu Dul Kemit mulai mencari solusi untuk mengembalikan citra dan dukungan. Dalam dialog imajinerya kurang lebihnya begini. Sore menjelang ashar, Dul Kemit duduk santai sambil membaca koran di pendopo kantornya. Datanglah sahabat karibnya yang sifatnya mirip Sengkuni dalam pewayangan. Sebut saja Mr. Keok.
“Assalamu alaikum kyai.” Sapa Mr. Keok sambil senyum meringis, lalu jabat tangan dan menciumnya.
“Wa’alaikum salam.” Sahut Dul Kemit melirik dari balik kaca bacanya, seperti orang melerok. “Gimana suasanaya….” Lanjutnya setelah Mr. Keok duduk di depan kanannya, di kursi panjang.
“Ini kyai…,” katanya lirih, “kritikan di medsos sangat gencar. Banyak alumni yang mendukung guru merah. Juga banyak donatur bammas yang mengundurkan diri.”
Mendengar laporan intel pribadinya, Dul Kemit diam sambil mengangguk-angguk dan terus membentang korannya. “Kalau santri-santri bagaimana?” tanyanya sambil mendongak memandang Mr. Keok.
“Wah setahu saya kalau santri sepertinya tidak ada, kyai.” jawab Mr. Keok meyakinkan.
“Kalau gitu, ajak mereka naik menara.” Kata Dul Kemit seraya menutup koran dan menaruhnya ke meja.
“Baik kyai.” Kata Mr. Keok sembari berdiri minta pamit untuk koordinasi. Ia kemudian berjalan ke lantai dasar menghampiri telepon yang ada di pos keamanan. Gagang telepon ia sahut dengan tangan kiri lalu memencet ekstesen ke Aliyah, 20….
“Siapa ini?” Tanya Mr. Keok kepada penerima telepon yang mengucapkan salam. Belum sempat dijawab, ia melanjutkan, “Ada kepala sekolah? Mana? Mr. Keok mau bicara.” pintanya kepada petugas pike. Petugas memberi tahu kepada kepala sekolah dan memberikan telepon kepadanya.
“Perintah kyai ini.” Kata Mr. Keok mengawali instruksi. “Siapkan anak-anak kelas tertinggi besok untuk naik menara. Diatur saja jadwalnya.”
“Siap, bi,” jawab kepala sekolah sedikit gugup. Percakapan pun usai. Kepala sekolah langsung beraksi. Ia panggil wakil bidang kesiswaan dan memerintahkan untuk menjadwal naik menara bagi santri kelas tertinggi sekaligus guru pendampingnya. Perintah itu pun langsung ditindaklanjuti.
Sesuai dengan jadwal yang telah disusun tanggal dan kelasnya, kelompok demi kelompok santri menaiki menara didampingi guru yang ditugaskan. Walaupun, hari-hari mereka sudah biasa melihat bahkan bermain di sekitarnya.
Untuk memberi penjelasan, bukan dari insinyur atau dari guru tetapi ditugaskan orang khusus kepercayaan Dul Kemit. Ia menunjuk langsung Mr. Keok sebagai pemandunya.
Mereka berjalan berduyun-duyun dengan penuh kehati-hatian. Lantai demi lantai mereka lalui. Pada lantai yang ditetapkan, para santri di kumpulkan, dibariskan. Di sinilah Mr. Keok mulai menyihir para santri. Ia mulai memasukkan kata-kata hipnosisnya.
“Anak-anak…” katanya lantang dengan suara cemprengnya. “Pesantren ini ada karena kyai Dul Kemit. Termasuk menara ini. Pesantren ini adalah karya kyai Dul Kemit. Kalau tidak kyai, tidak bakalan pesantren menjadi seperti ini.” Lanjut Mr. Keok sambil memencong-mencongkan bibirnya yang tebal.
“Jadi…. PESANTREN INI KARYA SIAPA ANAK-ANAK…?!” Tanyanya teriak berapi-api dengan wajah serius.
“KYAI….” jawab mereka serempak.
“Iya….” Bibirnya nyunak-nyunek sambil petentang-petenteng, meledek. “Guru merah itu tidak tahu. Kalian sebagai santri mesti tahu kalau pesantren ini karya kyai. Jangan terpengaruh oleh GURU MERAH.
Tak semuanya senyap. Sebagian santri ada yang apriori. Mereka mau mengikuti naik menara karena terpaksa saja. Mendengarkan ocehan Mr. Keok, santri yang dibarisan belakang ada yang cuek saja, bahkan berbisik-bisik kepada teman di depan dan di sampingnya. Bagaimana tidak, tiap sore mereka lewati menara itu saat berangakat dan pulang dari olahraga di lapangan.
“Oooo, jadi kampanye, kang?” Tanya kang Ujang memotong. “Mencari dukungan, gitu?”
“Iya kang.” Kata kang Encep meneruskan. “Kan gampang percaya kalau anak kecil. Kalau yang sudah dewasa kemungkinan sulit karena bisa berpikir nalar. Apalagi yang belasan tahun bersamanya, sudah tahu tabiatnya.”
“Pinter ya?” Celetuk kang Ujang. “Doktrinnya kepada anak-anak. Bawa-bawa guru merah lagi… Apa ini pencitraan menghadapi sidang PHI, kang?

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment