TESTIMONI PRIBADI 3
Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (2)
Oleh : Arif Yosodipuro
Dalam perjalanan pulang di tengah kegelapan malam yang kadang detak jantung dikagetkan oleh benturan ban dan jalan bergelombang, saya terus mengira-kira kenapa guru mau bertugas kok tidak boleh masuk.
“Ah sudahlah,” pikir saya. “Mungkin malam ini suasananya sedang panas. Besok saja saya coba ke ma’had lagi. Masa ijin BIT juga habis.” Saya berpikir begitu karena sesuai jadwal saya harus tugas di ma’had sampai dengan tanggal 5 Januari 2016.
Berdasarkan musyawarah Dewan Guru menetapkan bahwa pada 06 Januari 2017 seluruh guru harus sudah kembali ke ma’had untuk persiapan kepanitiaan penerimaan kedatangan santri setelah libur semester yang di Al-Zaytun diistilahkan BELAJAR DI MASYARAKAT. Sebab itu saya tetap berusaha untuk bisa masuk menjalankan tugas sebelum 06 Januari 2017.
Tidak banyak teman-teman guru yang bertugas di gelombang III. Kebanyakan mereka memilih atau meminta tugas piket di ma’had pada gelombang awal. Sehingga mereka bisa nyaman bercuti.
Sebagai rasa tanggung jawab wakil ketua II Dewan Guru, saya berkewajiban mengontrol teman-teman guru yang sedang piket. Karena itu keesokannya – Sabtu, 31 Desember 2016, sesuai dengan rencana, sekitar pukul 15.00-an saya berangkat lagi ke ma’had.
Dengan percaya diri bahwa saya dibolehkan masuk, saya kembali mengarungi gelombang jalan yang rata-rata lubangnya berdiameter lebih dari satu meter. Bebatuan yang berserakan terhempas oleh desingan roda kendaraan reseh seperti anak kecil yang menghalangi orangtuanya bepergian.
Udara pedesaan yang tak banyak dipolusi oleh limbah pembakaran kendaraan ditambah sinar matahari yang mulai memucat, saya keasyikan menari sambil mengendalikan batangan sepeda bermesin. Sambil melirik pemandangan di kanan dan kiri jalan yang tampak natural membuat saya tak terasa sudah sampai di jembatan jamal. Pertanda sudah sampai di komplek ma’had.
BYEEERR….. Sesampainya di gate, saya dikagetkan oleh suasana yang tak wajar. Tampak tegang. Tidak seperti biasa. Banyak petugas keamanan, baik yang berseragam putih biru maupun hitam berdiri berjaga-jaga, waspada.
Tak hanya itu, pintu masuk yang biasanya terbuka bebas tanpa halang, sore itu ditutup dengan rantai membentang. Sehingga, tak semua orang bisa leluasa lalu lalang tanpa seizin hulu balang. Setiap orang yang mau masuk distop dan ditanyai. Mata-ma9ta curiga larak-lirik mengamati setiap gerak dan gerik. Semua lensa alam itu langsung tertuju kepada orang yang datang.
Saya pelankan laju motor dan mengeremnya lalu berusaha masuk, namun hasrat itu harus menyerah kepada bentangan rantai yang menghadang. Seorang kepala keamanan gate, Pak NAKAM, berdiri siap siaga. Saya mengampirinya dan bilang kalau saya mau masuk. Tapi Nakam tidak membolehkan.
“Ada apa sih pak ini?” Tanya saya sambil senyum terpaksa.
“Nggak ada apa-apa.” Jawab Nakam sambil senyum tersembunyi.
“Kok dirantai..?” Kata saya terus mendesak.
“Ya…. hanya untuk jaga-jaga saja….” Lanjutnya enteng, deplomatif sambil meletakkan kedua tangannya ke belakang di atas pinggang.
“Jadi saya tidak boleh masuk ini, pak?”
“Tidak… Silakan habiskan masa cutinya dulu.”
“Lha BIT saya sudah habis masa izinnya, gimana? Nanti saya disalahkan?”
“Tidak. Kami tahu kok. Kami catat dan nanti kami laporkan kehadiran bapak.” Ia menoleh kepada rekan kerjanya bagian mencatat yang sedang duduk di kursi.
Paham suasana dan tidak mau ribut, saya sadar bahwa Pak Nakam hanyalah menjalankan tugas. Saya tahu Pak Nakam orangnya baik. Ia punya naluri dan nurani. Apalagi kami, khususnya saya, sering tugas bareng dalam berbagai kegiatan di ma’had.
Dan lagi-lagi dengan perasaan sedih dan kecewa, saya pun terpaksa harus pulang kembali. “Ya udah Pak kalau begitu. Mari….” Pamit saya dengan suara lemah sembari membelokkan motor, putar balik. Dialog dengan pak Nakam waktu itu saya rekam, namun sayang, rekamannya terhapus ketika HP di-upgrate.
Rasa penasaran terus menggelayut dalam pikiran. Siapa saja yang tidak dibolehkan masuk?
To be continued, Testimoni 4. Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang
Sumber : klik di sini

No comments:
Post a Comment