Wednesday, March 28, 2018

Undercover 112

TESTIMONI ALUMNI (13)
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


Saat berada di lantai 31 menara yang rencana ketinggiannya lebih dari 200 m itu, kami mendapat penjelasan beberpa poin dan keagungan bangunan dari bapak Abu Fathir alias Sholeh Aceng. Tak berapa lama telepon bapak Soleh Aceng berdering, sepertinya dari shofia karena kami dengar pak Sholeh Aceng berkata, “Baik mbak shofi, saya segera ke masyikhoh.”
Informasi yang kami terima, pukul 09:00 tepat sudah harus berada di masyikhoh. Karena itu kami bersegera turun dan melaju ke masyikhoh. Alhamdulillah sebelum pukul 09.00 kami sudah tiba di masyikhoh. Tepatnya pukul 08:52
Saat berjalan menuju pendopo, kami menyaksikan beberapa petani sedang sibuk dengan pekerjaannya di halaman masyikhoh. Tepat pukul 09:00 kami disambut oleh syaykh, Shofia. Di sana juga ada bapak Latief, ibu Anis dan satu orang yang sering memfoto. Kalau tidak salah bapak Latief Weha.
Pukul 09.25 acara dimulai dengan basmalah. Pembicaraan diawali dari perkenalan yang dimulai dari saudara Fuad Hilmi, Husnul Muttaqien, Nu’man Rafiq, Dwi Arie Sandy dan M. Ikhsan.
Syaykh menjelaskan kenapa yang diundang angkatan 2 semua. Karena angkatan dua itu yang bisa dihubungi dengan cepat. Makanya syaykh minta Shofi untuk menghubungi Ikhsan.
Semua ditanya nama dan pekerjaan. Pertama, saudara Fuad Hilmi. Pekerjaan dosen dan ketua yayasan di Tasikmalaya. Syaykh bertanya perihal jurusan apa saja dan yayasannya bergerak di bidang apa.
Kedua, Husnul Muttaqien. Ia sebagai petani di Tasikmalaya. Pembicaraan hangat ketika syaykh bertanya tentang petani apa. Husnul bilang kalau ia tanam pepaya california. Mendengar jawaban Husnul, syaykh bilang bahwa pepaya california itu kurang bagus. Beliau bilang tanam pepaya hawai. Katanya rasanya lebih manis, dan paling manis dari semua jenis pepaya.
Kemudian Husnul menanyakan berapa kadar manisnya pepaya hawai dan apakah jika ditanam di ketinggian bisa berubah bentuk dan kadar manisnya apa nggak. Syaykh menjawab kalau belum diuji coba.
Selanjutnya ketiga, giliran Nu’man Rafiq. Asal Banten, tinggal di Kalimantan. Ia bergerak di bidang kuliner. Syaykh menanggapi dan sempat berbasa basi tentang kuliner.
Berikutnya, saudara Dwi Arie Sandy mendapat giliran ke 4. Ia bergerak di bidang industri olahan minuman sehat. Lalu syaykh bertanya jenis minumannya apa.
Dan, terakhir giliran saya, Muhammad Ikhsan. “Nah kalau ini syaykh sudah kenal,” kata syaykh sumringah. Saya ketua alumni. Sempat kami berbincang masalah reuni sedikit lalu beliau bertanya perihal usaha di bidang konveksi.
Setelah kami berlima menyebutkan nama dan kegiatan masing-masing, syaykh kemudian bercerita tentang bagaimana keberanian orang aceh. Banyak hal yang kami bicararakan dan kami bahas. Seperti GBHN, UUD, PANCASILA, program apa saja yang sedang dijalankan di mahad.
Syaykh menyebutkan salah satunya adalah kopi yang kata profesor saja tidak akan berbuah. Nyatanya di sekitar masyikhoh itu lebat. Kemudian program pembangkit listrik tenaga angin di pantai selatan Tasikmalaya, program udang ultra intensif yang berada di Losarang pantai utara Indramayu dengan luasan lahan 1 hektar.
Udang ultra intensif sama dengan 1000 hektar tambak biasa. Kata beliau Israel sudah menjalankan tambak udang ultra intensif dan kita coba di Indonesia. Selanjutnya beliau menyebutkan program pabrik gula dan sudah menanam tebu 120 hektar, wijen, dan lain lain.
Bersambung…. besok pagi at prime time, 11.30
Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment