DUL KEMIT THE SERIES 57
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (3)
Oleh : Arif Yosodipuro
Akulah sang penguasa. Akulah sang dewa. Barangkali kalimat itu yang ada di benak Dul Kemit. Sehingga tutur kata dan tingkah lakunya tak boleh dikritisi. Tak boleh disanggah. Pilihan jawaban hanya satu, one option only. Bukan yes or no, tetapi yes saja.
Mungkin saduran dari Al-Qur’an “Sami’na wa atho’na” ini yang menjadi dasar pijakannya, menjadi dalil naqlinya. Sehingga apapun yang dikatakan harus dilaksanakan, sekalipun tidak masuk nalar, sekalipun itu BOHONG dan CURANG.
Ketaatan warga pesantren ini dimanfaatkan oleh Dul Kemit untuk menutupi akal jahatnya. Dengan kerakusannya, Dul Kemit dalam qurun waktu tertentu bisa meraup untung melimpah. Sampai-sampai yayasan berhutang kepadanya belasan milyar. Padahal dia tidak mengeluarkan modal. Ya, TANPA MODAL.
Modalnya dari yayasan. Uangnya dari yayasan. Caranya…? Ya tadi….NYALO. Dia ambil belanjaan dulu bayar belakangan. Misalnya dia belanja kecap. Harga, katakanlah Rp15.000,- Kemudian dia jual ke yayasan Rp25.000,-
Karena dia yang berkuasa, dia yang menentukan harga berapa saja dia mau. Selanjutnya bon tagihan atas nama dia. Dia menagih ke yayasan baru setelah itu dia bayar ke toko tempat ia belanja. Dia tidak keluar uang sepeser pun, namun dapat keuntungan segunung.
Keuntungannya bukan jutaan, tapi milyaran. Iya, MILYARAN.
CERDAS KAN… kyai Dul Kemit?
CERDAS KAN… kyai Dul Kemit?
“Rupanya begitu caranya. Tega ya?” celoteh kang Ujang menyimpulkan di tengah mendengarkan cerita kang Encep dengan seksama. “Pantes yayasan punya hutang ke dia,”
“Kang Ujang mau niru? Kata kang Encep mencoba memancing temannya, menginvestigasi. “Gak berkah kang, dunia akhirat.”
***
Ternyata kerakusannya menurun kepada penerusnya. Setali tiga uang, jejak Dul Kemit diikuti putra sulungnya. Anak yang digadang-gadang menjadi penerima estafet tahta juga ikut menjarah aset yayasan. Ekstrimnya MENGGARONG.
Empang-empang yayasan airnya pada mulai surut. Sehingga ikan-ikan yang dulu ditanam oleh petugas pertanian bermunculan. Melihat ikan yang banyak, Gus Memet matanya hijau. Ia suruh petugas untuk menguras empang dan mengambil ikannya. SEMUANYA.
“Lho Gus, jangan semua. Yang indukan jangan,” kata petugas memberi masukan, mencegah. Karena indukan akan dijadikan untuk pembibitan. Namun tak digubris oleh Gus Memet.
“Gak usah. Semuanya saja,” kata Gus Memet sambil ngotot, memaksakan diri. Petugas hanya bisa mengelus dada. Yang mengherankan lagi. Ikan-ikan hasil tangkapan itu yang beratnya mencapai 1,5 ton dikirim ke dapur pesantren, bonnya atas nama GUS MEMET dengan harga yang tidak wajar.
Tahu nggak, berapa harga per kilonya? LIMA PULUH RIBU. Berapa kalau dikali 1,5 ton? Coba kita kalikan 1500 x Rp50.000. Hasilnya Rp75.000.000. Wow jumlah yang menggiurkan bukan? Nggak ngerawat, nggak modal. Hanya dengan empat kata, “gak usah, semuanya saja.”
Apa itu nggak MENGGARONG? Empang, empang yayasan. Ikan, ikan yayasan. Yang merawat petugas yayasan. Lha masuk dapur pesantren, kok atas nama dia dan yayasan suruh bayar. Harusnya tidak, kan?
“Coba mikir, kang. MIKIR…..!!!!” Kata kang Encep serius dengan perasaan kesal sambil menunjuk-nunjuk keningnya sendiri.
“Jadi bapaknya MERAMPOK, anaknya MENGGARONG Kang?” Sambung kang Ujang menguatkan rekannya sembari menggerak-gerakkan bibirnya. “Weleh, weleh. Kumaha eta?”
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment