Sunday, March 11, 2018

Undercover 95

TESTIMONI PRIBADI 4
Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (3)
Oleh : Arif Yosodipuro



Setelah nguping sana, nguping sini, mencari info valid kenapa saya tidak boleh masuk dan siapa saja guru yang tidak boleh masuk, akhirnya mendapat titik terang. Semua guru yang ikut datang ke masyikhoh pada sesi II, juga mereka yang dicurigai mendukung dicap sebagai GURU MERAH dan TIDAK BOLEH MASUK.
Kenapa kami, saya dan teman-teman, datang ke masyikhoh adalah bermula dari ucapan Syayh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang, pada dzikir Jum’at di mimbar masjid Al Hayyat Jumat, 18 November 2016. Dalam pidatonya, Syaykh mengatakan bahwa guru-guru di Ma’had Al-Zaytun banyak yang nyeruwat. …Otaknya diisi oleh ASU EDAN. Video terkait guru dibilang nyeruwat bisa dilihat di sini : 



Kami merasa keberatan, ekstrimnya tidak terima, dengan pernyataan tersebut. Karena itu kami berkehendak bersilaturahim kepada Syaykh Al-Zaytun untuk klarifikasi. Pada Jum’at, 09 Desember 2016 pukul 10, kami sejumlah 49 orang, terdiri dari Dewan Guru, Manajer Pendidikan, Ketua Lajanah, juga staf dan guru lainnya datang ke masyikhoh.
Sebelum bertemu Syaykh Al-Zaytun, kami ketua bertiga – Ust. Ali Aminulloh, Ust. Sarju, dan saya, menemui Abi Abdul Halim, orang kepercayaan Syaykh. Sementara rekan yang lain menunggu di luar. Kami bertiga duduk berhadapan dengan Abi Halim, menyampaikan maksud kedatangan kami.
“Bi,” kata Ust. Ali mengawali pembicaraan, “teman-teman ingin bersilaturahim dengan Syaykh.”
Dari raut wajahnya, Abi Halim sudah menduga apa yang kami maksud. Kemudian dengan suara pelan ia berkata, “Ya, disampaikan dulu.” Abi Halim merapikan beberapa surat ajuan yang ada di depannya. “Saya aja beberapa hari ini belum bisa komunikasi. Banyak yang akan disampaikan belum bisa.”
Kemudian Abi Halim memandang saya seraya bilang, “Kemarin pak Arif ngajukan rekomendasi aja gak bisa ketemu…” Berita yang beredar mengabarkan bahwa Syaykh tidak bisa bicara beberapa hari setelah mengatakan guru nyeruwat dan asu edan pada dzikir Jum’at.
“Ya, keinginan teman-teman begitu.” Lanjut Ust. Ali Aminulloh sambil memegang-megang buku agendanya, dikuatkan oleh Ust. Sarju.
Abi Halim lalu keluar ruangan, ke lantai dua. Sementara kami bertiga tetap menunggu. Tak berapa lama kemudian, Abi Halim masuk kembali ruangan dan duduk di kursinya lalu meneyampaikan hasil konsultasinya. “Beliau belum bisa ditemui.”
Kami bertiga saling pandang seolah diskusi mengambil kesepakatan. “Kalau gitu lain kali aja.” kata saya menaggapi. “Iya lain kali,” sambung Ust. Ali Aminulloh dan Ust. Sarju. Lantas kami pamit dan berjabat tangan.
Gagal silaturahim pada sesi pertama, kami terus berupaya untuk bisa bersilaturahim. Maka pada Sabtu 17 Desember 2016 pukul 10.30, kami datang kembali ke masykoh dalam jumlah yang lebih banyak. Mengapa lebih banyak? Karena sebelumnya pernah 20 orang perwakilan menghadap Syaykh, Syaykh bilang, “Kalau 20 orang, itu bukan perwakilan.” Mintanya lebih dari itu
Pada sesi ke-2 ini, kami menulis pernyataan keberatan. Tidak semua guru ikut datang dan menulis pernyataan keberatan dengan berbagai alasan. Dewan Guru pun tidak semua. Pada sesi kedua, Ust. Ali Aminulloh sedang izin ke Garut, Ust. Purnomo sedang cuti, Usth. Wina Safitri di kantor Dewan (dia tipe oranng orang yang tidak mau “macam-macam”), Ust. Alfi tidak diajak karena jarang bertemu, hampir tidak pernah ikut ijtima’ karena tugas belajar. Sehingga hanya dua ketua – Ketua I dan II, Ust. Sarju dan saya – yang mendampingi teman-teman ke masyikhoh.
Kami berjalan dari gedung Abu Bakar menuju masyikhoh dengan berbaris dua-dua. Ust. Sarju dan saya berada paling depan. Rupanya sejak kedatangan kami ke masyikhoh yang pertama, pihak keamanan langsung mengantisipasi.
Gerak-gerik kami selalu dipantau oleh mereka, baik yang berseragam maupun tidak. Kasak-kusuk rencana kedatangan kami yang kedua pun sudah mereka pahami. Keamanan pun di pasang di beberapa titik. Ada pula yang patroli, mondar mandir di gedung Abu Bakar, memonitor pergerakan kami.
Kami terus melangkah mengular mendekati masyikhoh. Sesampainya di sudut barat daya kantin umum, yang oleh santri disebut GANG PEDE, tampak dari kejauhan beberapa keamanan berpakaian lengkap, biru putih, siaga sambil memegang HT di jalan belakang masikhoh.
Dalam hati saya bertanya, “Jangan-jangan pintunya digembok?”
To be continued testimoni 5. Kiat Hadang Diolah Selezat Rendang (4)

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment