Saturday, April 28, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 56

DUL KEMIT THE SERIES 56
Kiat Kaya Ala Dul Kemit (2)
Oleh : Arif Yosodipuro



Dul Kemit terus melenggang tanpa ada yang menghadang, melangkah tanpa ada yang mencegah, dan semaunya berbuat tanpa ada yang mencegat. Kiprahnya bagaikan anak manusia yang pertama kali turun ke bumi, Adam dan Hawa.
Ia bagai berkelana di Gurun Sahara, Afrika, bagai berselancar di Pantai Ombak Tujuh, Sukabumi, tanpa pesaing, bagai berburu di Amazon sendirian. Ia bagai bermain sepak bola di stadion Camp Nou, Spanyol, tanpa lawan.
Terlebih setelah dihadang dan diusirnya guru-guru yang kritis, cengkeraman kekuasanaanya semakin kokoh. Tak ada yang mengaru biru. Lenggangnya lapang, langkahnya bebas sebebas angin berhembus ke semua arah.
Tindakannya tak ada yang berani mengingatkan. Dia yang berkuasa, yang memutuskan, dan yang menanda tangani semua dokumen dan ajuan, termasuk harga komoditi. Berapa yang dia mau itulah yang menjadi harga dan harus diterima oleh dapur pesantren. Tidak bisa ditawar apalagi ditolak.
Aji mumpung sebagai kyai benar-benar ia maksimalkan dalam mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sebenarnya dalam jual beli itu sah-sah saja mencari keuntungan. Hanya caranya yang tidak elegan, bahasa agamanya tidak halal. Masa garam Rp30.000,-/kg? Terlalu kan…?
Seharusnya dia berpikir bagaimana pesantren bisa menghemat anggaran dan memaksimalkan penggunaannya untuk kesejahteraan santri, guru, dan karyawan. Ini tidak. Justru yayasan dipeloroti, digerogoti. Ekstrimnya DIRAMPOK secara halus.
“Pantas saja tidak ada rasa kasihan kepada wali santri, Kang,” sela kang Ujang sambil geleng-geleng kepala. “Santri yang belum bisa bayar tagihan tidak boleh masuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Padahal kan terima donasi dari donatur tiap bulan. Untuk apa ya, Kang?
“Ya untuk bayar tagihan ke dia,” sahut kang Encep kesal, menimpali komentar sahabatnya. “Pokoknya bayar ke dia harus didahulukan. Yang lain belakangan. Dan berapa pun yang dia mau harus ada hari itu juga.”
Lucunya belanja kopi dari luar kemudian diklaim sebagai kopi produk pesantren, hasil tanam sendiri, dengan harga yang WOOOOOW…. Per kilonya Dul Kemit patok harga setinggi langit. Mau tahu atau tahu banget….? Belinya kisaran Rp30 – 60 ribu/kg. Kemudian dengan brand cheating dia jual seharga Rp225.000,-
“Apa sih Kang brand cheating?”
“Itu… nipu cap atau label merk.”
“Lho, kok pembelinya percaya ya?” Kang Ujang terheran-heran.
Parahnya lagi, Kopi itu Dul Kemit yang beli, dia yang jual, dan dia yang mengantongi untungnya. Tagihannya dimasukkan ke dalam tagihan yayasan. Yayasan yang suruh bayar. Hebat kan kyai satu ini?
“Kata pendukung setianya dia itu turunan rosul Kang.” Koment kang Ujang mengait-ngaitkan dengan fenomena yang terjadi. “Calon pemimpin negeri masa hadapan yang akan bisa membebaskan hutang negeri ini. Sang pembaharu peradaban.”
“Peradaban…?” Sanggah kang Encep sinis sambil nyengir. “PERADABAN NGIBUL DAN BOHONG.” Kang Encep gemes dan geram. “Sudah ah, Kang. Baper saya nyeritakan Dul Kemit. Bawaannya pengin emosi. Dilanjutkan lain waktu aja.”

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment