Oleh : Abu Bakar 116
Untuk membangun dunia pendidikan, maka persiapan SDM adalah mutlak diperlukan. Kader-kader yang dipersiapkan dan dididik di pesantren-pesantren untuk berdirinya Al Zaytun, pada periode pertama adalah ahmad lutfi bin Anshori Mursidi (putra ke 4 dari salah satu pendiri Al Zaytun), kemudian periode kedua Agus Faishol bin Abdul Karim Hasan (putra dari perintis Al Zaytun) ,Imam Prawoto bin ASPG, Ikhwan Triatmo bin ASPG, Ajat Sudrajat bin Haji Rais, dan Neneng Khoiriyah binti Anshori Mursyidi , mereka semua menimba ilmu kepesantrenan untuk dipersiapkan sebagai perintis pendidikan.
Kemudian pada periode ke tiga tahun (1988), menyusul berikutnya Ahmad Fahmi bin Anshori Mursyidi, Ahmad Prawira Negara bin ASPG, Iim Ibrohim bin H. Abdul Khoir, dan Dandi Permadi bin H Dija.
Kemudian pada tahun 1989 mereka semua masuk ke gontor pusat, kecuali Iim Ibrohim (tetap di Al Risalah).
Pengiriman kaderpun berlanjut seperti Abdul Fikri bin Abdul Rosyid, Erwin Kurniawan, dan beberapa kader putri dipersiapkan masuk ke pesantren Gontor putri, Mnatingan, di situlah mereka bersama-sama berbagi rasa, tak ada kasta, dan golongan, siapapun mereka dan anak siapapun mereka, dalam hal ini peran jiddahpun sangat fital, karena mesti bolak balik jakarta-jawa timur, setiap bulan, brondong petong(membawa bekal dan buah tangan untuk semua kader), dan sebagai posko keberangkatanpun rumah saksi sejarah yang terletak di parung serab (dekat masjid al muqorrobin), menjadi saksi pengakaderan.
Setelah mahad berjalan, mereka bersama membangun sistem pendidikan dengan peran yang sudah berbeda, tak ada lagi kebersamaan, kasta mulai terbangun disengaja maupun tidak, namun seiring waktu berjalan telinga terbiasa mendengar dan hati terbiasa merasakan, dan pada akhirnya satu persatu mereka mengambil sikap, keluar atau dikeluarkan, tak tersisa satupun kecuali yang memiliki garis keturunan dengan "PEMANGKU KEKUASAAN", ada apa dengan mereka?
Dan apa sebenarnya yang terjadi pada hati mereka?
To be continued....
No comments:
Post a Comment