Kabayan Rayahan 1
Oleh : Arif Yosodipuro
Syahdan, pesantren pimpinan Dul Kemit semakin populer yang berakibat mendobrak kepopuleran Dul Kemit.
Dia semakin dikenal oleh masyarakat se antero.
Tiga empat tahun pertama, slogan yang selalu diusung "pesantren milik bersama" masih tampak.
Secara perlahan tapi pasti, slogan itu semakin pudar dan menghilang.
Titik-titik atau sumber yang bisa menghasilkan uang, satu persatu diakuisisi dengan dikeluarkan kebijakan agar seolah-olah yang dilakukan itu legal.
Mula-mula dibentuklah paguyuban penggarap lahan (PPL) yang beranggotakan 6-10 orang dari guru dan pengurus yayasan.
Sejak itulah rayahan dimulai.
Kerakusan harta tumbuh.
PPL kyai Dul Kemit mulai menjadi transit, ekstrimnya broker, keperluan yayasan.
PPL kyai Dul Kemit mulai menjadi transit, ekstrimnya broker, keperluan yayasan.
Satu di antaranya beras.
Seharusnya yayasan bisa membeli langsung kepada petani atau produsen, namun dengan kepiawaiannya, dibuatlah kebijakan yayasan membeli beras melalui PPL kyai Dul Kemit.
Selanjutnya, pabrik beras yang semula dikelola oleh yayasan diambil alih oleh PPL kyai Dul kemit dan ditunjuklah sang putri menjadi manajernya..
Peralatan dan karyawan dari yayasan tapi yayasan harus beli beras ke PPL kyai Dul Kemit.
Alih-alih swastanisasi.
Alih-alih swastanisasi.
Kerakusannya ibarat Kabayan rayahan.
Ambil sana, ambil sini.
Pondong sana, pondong sini.
Tangan kanan penuh, isi tangan kiri.
Apalagi ya....?
Ikuti serial berikutnya......!
No comments:
Post a Comment