Lebih Baik Dibiarkan Berkarat
Oleh : Arif Yosodipuro
Suatu ketika ada seorang pengusaha dermawan yang simpati kepada pesantren kyai Dul Kemit.
Melihat jarak antara asrama dan gedung madrasah lumayan jauh, sang pengusaha memutuskan bershadaqah sepeda sebagai transportasi dalam pesantren.
Beberapa hari kemudian, dikirimlah ratusan sepeda oleh sang pengusaha.
Maksud dan tujuan sang pengusaha bershadaqah sepeda adalah agar bisa digunakan sebagai alat transportasi, utamanya guru, dalam beraktifitas.
Namun naif, entah apa alasan kyai Dul Kemit, ratusan sepeda shadaqah itu tidak dibagikan kepada guru sebagaimana yang diniatkan oleh sang pengusaha.
Justru ditumpuk di sebuah ruangan dibiarkan mangkrak dan berkarat
Anehnya..., sekian tahun kemudian sepeda tersebut ditawarkan/ dijual kepada guru dan warga pesantren, setelah berkarat.
Sekali lagi dijual....
Ada juga guru yang beli tapi sepeda tak habis dijual, lagi pula sepeda sudah pada karatan.
Karena kurang laku, ekstrimnya tidak laku, barulah sepeda diberikan kepada petugas keamanan sebagai sarana transportasi dalam bertugas menjaga kyai Dul Kemit keliling pesantren, bukan kepada guru.
"Hadeuh.... kumaha ieu kyai Dul Kemit, Kang Encep.....? PELIT pisan. Bisa-bisanya dijual..," celetuk kang Ujang terheran-heran.
"Sekarang nyeruput kopi dulu....
kalau tujuan pengusahanya bagus.
Tujuan visi dan misi pesantrennya bagus..... tapi kyai Dul Kemit ini yang....
Ah terserah kamulah Ujang....
Hhhhhmmmmm
itulah Ujang kyai dul kemit... "
Kang Encep kok gitu si..? tanya Ujang.
"Tanya aja kpd mushadiq- yang shadaqah" kata kang Encep lantang
"Gak aneh visi misi pesantren. Yang aneh kyai dul kemit," komentar kang Encep
"Kalau visi misinya memang itu yang diinginkan oleh warga pesantren" lanjut kang Encep.
"Perilaku kyai Dul Kemit itu lho..." sambung Kang Ujang
"Kyai Dul Kemit tahu agar kuat kedudukannya, harus dikuatkan keamanan dan pendukungnya." kang Encep sebel.
Kang Ujang nyambung, "kan niru gaya hitler, sadam husein dan diktator lainnya."
"Oh ternyata dari dulu begitu ya kelakuan dul kemit," celoteh kang Ujang bengong.
Kata teman Ujang beda Uda Iman.
Fakta dan sejarah.
"Uda Iman dah dapat oleh-oleh Jumatan belum....?"
"Kalau belum, sini. "
"Nyeruput kopi ngariung. "
"Oleh-olehnya Dul Kemit tahu ilmunya tapi kelakuannya beda."
Terus...., lanjutannya gimana...?
Tunggu the series berikutnya.
No comments:
Post a Comment