Oleh : Djarot Wahyusantoso
Surat dari kordinator kpd kita :
Ada sahabat kita kordinator ma'had , 17 tahun tinggal di kontrakan , yang di jadikan posko setingkat daeroh,,,
2 tahun lalu wafat, Ia meninggalkan dua anak.
Sebelum meninggal dalam keadaan sakit kronis, ia tetap bersemangat mengkawal program jammas, walau kadang sesampainya di tempat tujuan harus terbaring kelelahan , karna penyakit , diabet , gagal ginjal, dan batu empedu, usianya 45 tahun tinnggal di tanggerang,
Bersama team jamas sering sampai larut malam sampai jam 12'malam.
Keluarganya sering cemas, khawatir dan gelisah karena kalau sedang "'kumat"' ia bisa sampai hilang ingatannya, dan dokter sudah mengingatkan ia tidak boleh beraktifitas yang melelahkan, namun karna posisinya sebagai ketua kelompok ia merasa punya tanggung jawab utk mensukseskan program jamas, karena sakit berat istri dan anaknya sering mengingatkan agar ia jangan mengikuti kegiatan jamas, namun ia tidak hiraukan, karna ada beban target di kelompoknya yang harus ia kawal.
Pernah sampai jam 2 pagi ia baru sampai di rumah , dan ketika ditanya kenapa sampai larut malam, rupanya di dalam angkot ia hilang ingatan dan akhirnya nyasar entah kemana, anak perempuan dan istrinya sering menangis sedih melihat kondisi suaminya tersebut,
Ko teganya kawan -kawan di teamnya membiarkan ia pulang sendiri dari tempat acara pertemuan kordinasi jamas tersebut, padahal menurut istrinya para kordinator lainnya tahu kalau suaminya sudah lemah dan penyakitnya sudah kronis, tapi masih saja di mintakan tanggung jawab yang di luar batas kemampuannya.
Dari hari kehari penyakit sahabat tersebut semakin kronis, dan akhirnya Allah memanggilnya.
Pas hari beliau meninggal istrinya lagi-lagi merasakan kesedihan selain di tinggal tulang punggung keluarga ia pun merasa heran, kemana para kordinator yang lain, yg hampir 17 tahun selalu bersama siang malam. ..bahkan sampai pagi lagi berkumpul, untuk mengumpulkan setoran jamas ....
tapi ketika ia di rundung musibah kawan - kawan dan para pimpinannya tidak perduli , bahkan sekedar mnyatakan empatipun tidak.
Untungnya ketua lingkungan dan para tetangga di sekitar perduli. Dari mulai memandikan , sampai menghantrkan ke liang lahat di jawa tengah. Para tetangganyalah yang kompak menolong keluarga sahabat kita tersebut.
Sementara dari pimpinan kordinator tangerang sendiri tidak ada kontribusi untuk membantu kepada keluarga kami, keluh ibu itu, ketika ia kita silah...
Dan setelah suaminya meninggal bersambung di dinding atas
Sumber : Klik di sini
No comments:
Post a Comment