Monday, April 10, 2017

NYERUWAT SEJARAH 3

Oleh : Abu Bakar 116

Masih seputar musyawarah para tetua dalam mempersiapkan berdirinya lembaga pendidikan, cukup menyita waktu mereka, segala macamnya sudah dibicarakan dalam rapat-rapat terbatas yang tentunya dihadiri oleh semua anggota, keputusan pimpinan rapat adalah hasil sumbangsih dari semua anggota, sehingga merumuskan program-program yang siap diimplementasikan.


Akhirnya pada tanggal 2 Maret 1988, di rumah Abu Ansori Mursyidi (pondok Aren,Ciledug) berkumpulah para orang tua penggagas berdirinya lembaga pendidikan yang belakangan ini disebut Ma’had Al Zaytun, diketuai oleh Abdul Karim Hasan, diikuti oleh Haji Rais, Abdu Syukur , Abu Ansori Mursidi, Abdusalam, Nurdin Abu Tsabit, Abdul Halim, Abdul Hamid, Abdurrosyid, , Abdul Qudus, Abdul Khoir, dan Harjadinata.


Pertemuan membahas dan mengesahkan lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mempersiapkan kader-kader yang akan berkiprah di masa yang akan datang, maka dari rapat tersebut memutuskan untuk mengutus beberapa orang mencari lokasi strategis untuk lembaga pendidikan, kemudian berangkatlah 6 orang utusan pergi ke daerah Lampung (Tulang Bawang) untuk melihat lahan yang sudah disiapkan, mereka adalah: Abdul Karim Hasan, Abdul Halim, Harjadinata, Abdurrosyid, Nurdin Abu Tsabit dan abdussalam, berangkat dengan mengendarai 3 unit sepeda motor.

Setelah pengecekan lokasi kemudian tim memutuskan untuk menunda pembangunan lembaga pendidikan di daerah ini, karena alasana keamanan, namun tak patah arang, semangat untuk membangun lembaga pendidikan terus disiapkan dari sisi kurikulum maupun keuangan, Abdul Karim Hasan sebagai ketuapun ikut mengonsep pendidikan yang berbasis ekonomi dan ekonomi yang berbasis pendidikan(selain latar belakang beliau sebagai ketua cabang Muhammadiyah Ciledug yang konsen terhadap pendidikan).

Namun Allah berkehendak lain, di penghujung tahun 1991, Abdul Karim Hasan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah Abdul Halim, diiringi dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh abu Ansori Mursidi, Abdussalam……, beliau wafat sambil mengucapkan ayat suci AlQuran, tak bisa dielakan, suasana dukapun menyelimuti, tetesan air mata tak terasa membasahi pipi, dan keheninganpun melanda, semua kepala mengingat kembali memori-memori kebersamaan dengan Abdul Karim Hasan, sosok pemimpin yang mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, sosok pemimpin pemberi uswah dan sangat memperhatikan keadaan umat dengan kemampuan keilmuannya, membekali umat dengan konsep pemahaman terhadap alquran dan hadis nabi, Mabadi Tsalatsah adalah ijtihad beliau dalam memahami semua unsur kehidupan.


Di tengah kesedihan yang sedang melanda, berucaplah salah seorang dari yang hadir “habis sudah orang tua kita” sempat terlintas oleh yang lain, apa maksud dari ucapannya ini, sedangkan dalam forum masih ada orang-orang yang dituakan, namun keadaan tak mendukung untuk mempertanyakan kalimat tersebut, bahkan dia melanjutkan dengan ucapan “ kita lanjutkan perjuangan orang tua ini!” sambil menjabat tangan orang muda yang berada disampingnya. 


Kemudian jasad Abdul Karim Hasan dibawa oleh Abdul Halim, Iskandar Saifullah dan abd Hamid ke rumah duka di bilangan Kreo, Ciledug dan dikebumikan di daerah tersebut. Keluargapun telah menanti, dan banyak sekali yang hadir untuk menghantarkan jasad Abdul Karim Hasan ke tempat peristirahatan terakhirnya, maklumlah beliau adalah guru ngaji di banyak tempat, pernah mengislamkan ratusan suku Baduy, pernah mengajar ngaji di daerah labuan Banten, mengajar ngaji rutin di daerah Ciledug Tangerang, daerah Jakarta Timur, daerah Rempoa Tangerang Selatan, sehingga murid beliaupun tumpah ruah turut menhantarkan jasadnya.


Banyak sekali yang merasa kehilangan almarhum, karena kesederhanaannya dalam memimpin, mengutamakan musyawarah dalam memutuskan sesuatu, mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, terbukti dari harta yang ditinggalkan setelah wafatpun tak banyak, padaha beliau yang memprakarsai pengumpulan infaq dan shodaqoh untuk pembangunan lembaga pendidikan yang jumlahnya tidak sedikit, banyak kesempatan sebagai amil zakat untuk menggunakan harta tersebut, namun semua itu tidak dilakukannya semata-mata mempersiapkan kader dengan lembaga pendidikan yang baik dan mumpuni.


Pasca wafat abdul Karim Hasan.
Setelah wafatnya Abdul Karim Hasan, jabatan ketua jatuh ke tangan Haji Rais, yang selang berapa lama beliau non aktif karena alasan syar’i yang mesti diselesaikan. Dalam kondisi seperti ini, Abdussalam maju dan mengangkat dirinya sebagai caretaker (padahal masih ada orang tua dan senior lainnya seperti Abu Ansori Murayidi dan Abd Syukur)

Bagaimana Aspg memimpin persiapan ini?

Apakah yang dilakukan ASPG setelah H.Rais merampungkan alasan Syar’inya dan kembali ke organisasi?
Dan strategi apa yang dilakukannya?

to be continoued

No comments:

Post a Comment