Pitik pun Diembat
Oleh : Arif Yosodipuro
Pada suatu kesempatan, kyai Dul Kemit
bertanya kepada seorang anggota pengurus digunakan untuk apa kandang
sapi yang mangkrak. Pengurus tersebut memberi saran atau masukan bahwa
kandang tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk kandang /ternak ayam.
Usulan diterima oleh kyai Dul Kemit.
Beberapa pekan berikutnya,
kandang sapi disulap menjadi kandang ayam dengan design closed house
yang bisa menampung puluhan ribu pitik, anak ayam. Selanjutnya dilakukanlah kerjasama dengan perusahaan penyuplai, baik bibit maupun pakan.
Dalam pengiriman, pihak perusahaan memberi ekstra satu pitik per
seratus atau per boks. Pada tahap awal, pesantren menernak 40.000 ayam.
Sehingga ada 400 ayam ekstra dari 400 boks bibit.
Bukan kyai
Dul Kemit kalau nggak cerdik. 400 anak ayam ekstra itu dimita dan
pemeliharaannya dititipkan bersama dengan ayam yang lain. Kyai Dul Kemit
tidak mau tahu, 400 ayam itu ada yang mati atau tidak. Pokoknya pada
saat panen ia harus terima 400 ayam dalam jumlah yang utuh, gak boleh
kurang.
Selanjutnya kyai Dul Kemit menyuruh orang kepercayaannya
untuk mengambil jatahnya. Kemudian ayam dikirim ke dapur pesantren
dengan harga ditentukan oleh kyai Dul Kemit. Katakanlah per satu ayam
beratnya 1,4 x 400 = 560 kg, lalu dikalikan Rp20.000 per kilonya maka
kyai Dul Kemit bisa mengantongi uang segar sejumlah Rp11.000.000 setiap
panennya. Itu kalau 40.000. Lha kalau 200. 000 ayam yang dipelihara,
berapa puluh juta rupiah yang kyai Dul Kemit terima?
"Biyuh-biyuh lha
kok serakah tenan...." komentar kang Ujang menirukan lugat jawa.
"Kumaha
saterasna Kang Encep...?"
"Sabar atuh kang....
Tunggu the series
berikutnya...JAHE MERAH
Sumber : Klik di sini
No comments:
Post a Comment