Kabayan Rayahan 5
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep terus bertutur tentang kondisi pesantrenya dan ulah kyai Dul Kemit.
Dengan kelihaian dan kelicikannya, satu demi satu aset yayasan jatuh ke tangannya.
Entah ilmu sirep apa yang dipakai sehingga membuat pengurus lainnya juga warga pesantren cep kelakep tak bersuara mengkritisi ulahnya.
Sapi dan kambing yang dulu dibanggakan, menjadi daya tarik para pengunjung, dengan sistem pembiakan modern insemenasi buatan, kini tinggal cerita.
Sapi dan kambing tak lagi menjadi milik yayasan.
Semuanya menjadi milik kyai Dul Kemit.
Semuanya, kambing dan sapi.
Awalnya kyai Dul Kemit mengeluarkan kebijakan gado atau paron.
Warga pesantren, terutama kepala unit, diberi kesempatan untuk memelihara sapi.
Anakannya untuk yang memelihara, sementara indukannya dikembalikan kepada yayasan.
Entah bagaimana kelanjutannya, sapi yang dulu milik yayasan menjadi milik kyai Dul Kemit.
Pada waktu Idul Qurban, kyai Dul Kemit menyampaikan kepada jamaah bahwa pesantren akan berqurban sekian sapi, sekian kambing.
"Pilih sapi yang paling bagus, yang paling besar", katanya berapi-api.
Tahu gak teman-teman...?
Itu hanyalah basa-basi.
Setelah itu, ternyata kyai Dul Kemit menagih yayasan untuk membayar sapi dan kambing yang disembelih untuk qurban tadi dengan harga sangat tinggi.
"Hebat kan..... ? Gak percaya....? Cek aja sendiri." ujar kang Encep sambil nyengir.
Sabar ya .... ikuti the series berikutnya
No comments:
Post a Comment