DUL KEMIT THE SERIES 14.
Jahe Merah 2
Oleh : Arif Yosodipuro
Rumor, kabar kabari kehadiran sang janda yang penuh tanya bagaikan hot news nasional. Selain warga pesantren hari-hari mempergunjingkan, mereka pun menaruh hormat kepada sang janda, termasuk petugas penjaga pintu gerbang pesantren.
Sekilas, dilihat dari cara berdandan dan berias, janda ini berselera tinggi dan modis. Pandangan pertama begitu menggoda, kata iklan. Hati kyai Dul Kemit sepertinya pun berbunga-bunga. Bagai ABG yang sedang dilanda asmara. Tak bicara dengannya sehari saja serasa setahun.
Tak ayal dengan bertameng pada jabatan dan kekuasaannya, kyai Dul Kemit menggunakan peluang untuk selalu bisa berbincang dengan janda pujaan, walau hanya sekedar ngobrol, kadang melalui telepon atau saat sang janda laporan tugas kepramuniagaan.
Kehadiran janda muda ini sedikit mengusik pengurus pesantren lainnya. "Wah kita kegeser nih," keluh mereka.
Kalau sang janda laporan kepada kyai Dul Kemit, mereka (Dul Kemit & sang janda) begitu asyik melihat angka-angka secara bersamaan di atas meja ... Padahal, selama belasan tahun yang lain laporan, jangankan bersama-sama membaca, meminta atau melihat kertasnya saja nggak pernah.
Biasanya kalau ada yang laporan, kyai Dul Kemit menyuruh pelapor untuk membacanya ... Tapi terhadap laporan sang janda ini sungguh luar biasa, kyai Dul Kemit mau bersama membaca, padahal cuma tulisan tangan, nggak diketik ...
Selain itu, meski sedang ada yang laporan kepada kyai Dul Kemit, kalau sang janda mau laporan, ya langsung saja nyelonong nyerobot ... Sebaliknya, jika sang janda sedang laporan, yang lain tidak ada yang berani dan tidak boleh ada yang mengganggu...
"Masa sih kang Encep, kok begitu amat?" tanya kang Ujang memotong. "Terus jahe merah ieu naon kang....?
Ikuti the series berikutnya.
"Ah kang Encep...bikin penasaran aja."
No comments:
Post a Comment