DUL KEMIT THE SERIES 18.
Jahe Merah 6
Oleh : Arif Yosodipuro
Gonjang-ganjing Jahe Merah yang bergulir di kalangan warga pesantren akhirnya sampai juga ke telinga kyai Dul Kemit. Entah siapa yang memberi tahu, mungkin orang kepercayaanya atau simpatisan setianya.
Mendengar berita ulahnya terendus, saat itu pula kyai Dul Kemit meradang, namun dia tahan dan berusaha mengontrol diri sambil berpikir bagaimana cara menepis atau menutupinya. Seperti biasa, kyai Dul Kemit menggunakan forum shalat jamaah sebagai corongnya.
Usai shalat jamaah kyai menyampaikan isu yang menerpanya. Setelah prolog, kyai berkata, "Hadirin, guru-guru banyak yang usik. Yang begini ini, otaknya diisi oleh "bedhes gendeng." Bedhes gendeng itu kera gila. Hari-hari kyaimu ini selalu memikirkan guru; makannya, bulanannya. Sampai jualan buah. Anehnya, yang jaga kios diisukan sebagai simpenan. Kyai punya demenan." Kyai Dul Kemit menoleh ke kiri, memperhatikan bebarapa orang jamaah yang masuk dicurigai. "Ada orangnya di sini. Pringas pringis. Sekarang tengak tengok," lanjutnya sambil matanya menatap tajam.
"Terus bagaimana kang Encep?" potong kang Ujang curious, penasaran. "Dia bilang begitu biar warga gak curiga dan terbangun image gak ada apa-apa antara kyai Dul Kemit dengan Jahe Merah. Juga biar warga percaya bahwa Jahe Merah hanyalah penjaga kios. Gitu kang Ujang." Kata kang Encep menegaskan. "Percaya, nggak....?" tanya kang Encep minta pendapat. "Ya gak percayalah....Penjaga kios kok dibela-belai sampai begitu.....Terus bagaimana tanggapan warga dan juga nyai tuanya...? "Sabar kang, tunggu the series berikutnya.
No comments:
Post a Comment