Pujian Adiktif
Oleh : Arif Yosodipuro
Konon di sebuah kampung, berdirilah sebuah pesantren besar nan megah bangunannya.
Slogan yang diusung sungguh indah memesona, membuat orang terkesima melihatnya.
Keberadaan pesantren ini diakui oleh maayarakat luas.
Hal ini tak lepas dari peran seorang sosok "yang diagungkan" oleh warga pesantren, yaitu kyai Dul Kemit.
Dia karismatik, "visioner", katanya, orator.
Orang bisa terpukau mendengar orasinya.
Suaranya lantang dan menggelegar kalau sedang berteriak.
Titahnya sama dengan sabdo pandito ratu, tan biso nolak (tak bisa menolak).
"Ide dan program besar" sering ia lontarkan (maaf sering gagal dan tertipu).
Tak pelak kyai Dul Kemit mendapat pujian dan sanjungan dari berbagai kalangan, bukan saja warga internal tetapi juga eksternal pesantren.
Secara perlahan pujian itu lama kelamaan menjadi adiktif.
Sang kyai ketagihan dengan pujian.
Siapa warga yang tidak memujinya akan didamprat dan dihardik, puncaknya diusir.
Tapi mereka yang memujinya akan diacungi jempol dan sang kyai manggut-manggut.
Akibatnya warga bersikap pasrah yang berujung pada tindakan YPKS, yang penting kyai senang.
Kadang nalar dibelakangkan, mengutamakan meredam kemarahan sang kyai.
Apa kata kyai diiyakan saja sekalipun bertentangan dengan hati nurani.
......bersambung.
No comments:
Post a Comment