Oleh : Abu Bakar 116
Gusdur pernah berkata, besarnya seseorang terlihat setelah wafatnya, berapa orang yang hadir dalam pemakamannya dan berapa orang yang ta’ziyah ke pemakamannya, hal inilah yang kita temukan ketika Abdul karim Hasan wafat, saat itu juga, murid-murid beliau datang untuk melihat jasad sang ustadz untuk terakhir kalinya, dari berbagai penjuru Jakarta dan Banten, Umi Jannah(istri alm) pun kewalahan menerima para peziarah berhari-hari lamanya.
Fondasi telah dirancang, tiang-tiang telah ditegakan, dari segala penjuru Jakarta dan Banten pun telah memahami proyek besar peninggalan almarhum, lembaga pendidikan yang akan mendidik para kader Islam untuk berjuang menegakan kalimatillah.
Kumpulan-kumpulan pengajian yang berada di Jakarta Selatan, Barat, Timur dan Utara mulai merealisasikan pendanaan lembaga pendidikan ini, namun apa boleh dikata, usia tak mengizinkan beliau untuk menggagas tiang pancang bangunan pertama lembaga ini.
Estafeta dilanjutkan dan dipimpin Haji Rais bersama orang tua lainnya, Desember 91, kumpulan pengajian yang telah digagas oleh alm Abdul Karim Hasan terpencar karena terkendala dengan keamanan rezim orde baru, Dalam kondisi seperti ini para orang tua dan jama’ah pengajian terpencar, sehingga cita2 membangun lembaga pendidikanpun tertunda.
Walau dalam kondisi seperti itu, jama’ah yang tercerai berai, penggalangan dana tetap dilanjutkan walau dg jumlah terbatas, dan bertambah masalah lagi ketika Haji Rais tidak bisa melaksanakan kewajibannya karena alasan syar’i.
Ketika Haji Rais terkendala untuk memimpin langsung, kemudian ASPG mengambil alih sebagai care taker, dengan ketegasan manajemennya mencoba membangun manajemen perkumpulan pengajian yang berada di sekitar Jakarta, dengan memilih orang-orang yang bisa diajak bekerja sama.
Hari demi hari berlalu, selesailah tugas syar’i haji Rais, yang berencana kembali aktif dalam pengajian ini, namun, sebelum haji Rais beranjak, sudah terlebih dahulu ASPG mendatanginya, sambil berkata “ pak haji, saya sudah mendapatkan surat mandat dari orang tua untuk melanjutkan tongkat estafeta ini( sambil tidak menunjukan surat sama sekali).
Haji Rais adalah orang yang rendah hati, tidak pernah mempermasalahkan jabatan, baginya adalah amanah, maka ketika mendengar berita tersebut, beliaupun hanya diam.
Kemudian ASPG mendatangi orang tua lainnya yang menjadi orang dekat Abdul Karim Hasan, dialah Abdul Syukur, sambil mengajak Haji Rais, dia menyampaikan kepada Abdul Syukur, bahwa dia telah mendapatkan mandat dari orang tua dalam sebuah surat, kali inipun tak diperlihatkan surat tersebut, namun ekspresi berbeda didapatkan ASPG, kini orang yang dia hadapi tidak diam seperti Haji Rais, Abdul Syukurpun berdalih “tidak etis membicarakan ini, ketika kuburan masih berwarna merah (yg dimaksud adalah makam Abdul Karim Hasan) juga kita belum bermusyawarah tentang hal ini.
Mendengar jawaban tersebut, ASPGpun meninggalkan Abdul Syukur dengan muka masam, dan Abdul Syukur melanjutakan aktifitasnya mencangkul kebun.
Akhirnya, tanpa menghiraukan masukan, saran dan pendapat dari orang tua, orang yang lebih berhak untuk memimpin dan musyawarah yang sudah dibiasakan oleh alm Abdul Karim Hasab, ASPG, manusia separuh baya dengan badan tinggi besar, berperawakan mantap, gagah dalam menyampaikan ide2nya, mampu menghipnotis massa dengan orasinya, dan mampu meyakinkan jama’ah pengajian yang lainnya, dapat ditaklukannya.
Berbagai macam gebrakan dalam membentuk manajemen modern dalam pengajian tersebutpun mendapat respon positif, gebrakan manajemen seperti:
1. Restrukturisasi Organisasi daerah Jakarta Raya: Jaktim, Jakbar, Jaksel, Jakut, Banten, Tangerang dan Bekasi
2. Maka pada tahun 1995, Dipilihlah Orang-orang generasi kedua untuk menangani daerah2 tersebut (di sini peran orang tua mulai tak terlihat)
A. Jakut : Kamaludin
B. Banten : Abah muslim
C. Jaktim : Saefullah
D. Bekasi : Abdul Hamid
E. Tangerang : Ja’far Syubbani
F. Jakbar : Silmi Auliya
G. Jakpus : Fadli muhammad
H. Jaksel :Hilmi mubasyir
3. Membekali petugas dengan surat Jalan (untuk mengeliminir infiltrasi dari orang yang tidak sepaham dengannya terutama kehadiran orang tua dalam barisan jama’ah ), hal yg sama pun dilakukan untuk kasus 116 guru dengan diterbitkannya surat izin mengajar, untuk mengeliminir guru yg berada di luar.
4. Menghapus arahan orang tua sebelumnya dalam penentuan besaran zakat.(sudah tidak menggunakan besaran 2,5% untuk zakat, dan bukan karena kesadaran diri, tapi karena Thouan aw karhan, ayat yg selalu dijadikan dasar paksaan.
5. Mengeluarkan ketetapan 8 pokok sumber pemasukan,(pada akhirnya umat memaksakan diri untuk menutupi 8 sumber tersebut dengan berbagai macam cara, baik dengan cara yang baik ataupun tidak baik) sedangkan seluruh dana hasil mobilisasi dari ummat di setorkan ke Bank CIC a/n Abu Ma'arik alias ASPG dengan jumlah puluhan milyar Rupiah setiap bulannya.
6. Melarang rokok bagi setiap pengikut.
7. Dll
Bila dilihat kasat mata, pergerakan yang super cepat ini sangat baik untuk perkembangan pisik lembaga yang dicita-citakan, penekanan dana menjadi prioritas dalam pergerakan ini, sehingga menafikan semua dampak yang timbul, seperti putus kuliah, putus kerja, menghalalkan segala macam cara untuk menutupi target dll yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terutama kegiatan seperti ini tidak dibarengi dengan konsolidasi keilmuwan, seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, timbulah disetiap pengajian yang dilaksanakan berbicara tentang target, target dan target,. forum ilmiah yang sudah dibiasakan oleh Abdul Karim Hasan kini sirna, diganti dengan marah, tekanan, hinaan, cacian, makian bagi yang belum menutupi target, tidak sedikit dari mereka yang takut pulang ke rumah, kemudian tidur di emperan toko atau mushola, demi mengindari kejaran target para pemimpin, tentunya merekapun mendapat teguran keras dari “care taker” yang mendaulat dirinya sebagai orang nomor satu.
Mabadi tsalasahpun sedikit demi sedikit tak terdengar lagi, pembahasan ayat dalam pengajianpun tak bisa dirasakan lagi sebagai penyejuk hati, fondasi keimanan dan keilmuanpun berganti dengan fondasi ketakutan yang dalam samarnya adalah taat, mencekam dalam samar iman, berbohong ke orang tua dalam samar ibadah, bagi mereka yang tak mau bekerja dicap sebagai kaslan, bagi mereka yang mengkritis dicap sebagai bughot dan banyak lagi istilah lainnya untuk mengikat “ketakwaan” pengikutnya, bagi mereka cap kaslan, bughot dll adalah istilah yang sangat ditakuti, bila mereka mendapat gelar tersebut, serasa selesai kehidupan di dunia ini.
Bagaimana Yayasan bisa terbentuk, dan bagaimana perjalanan para eksponen sebagai saksi sejarah awal mula yayasan dan bayi Al Zaytun merangkak, serta bagaimana perjuangan sahabat karyawan berbaju kuning? Tunggu pada episode berikutnya dalam NYERUWAT SEJARAH SESI 5
(semua saksi sejarah yg termaktub, masih dalam keadaan sehat wal afiat)
No comments:
Post a Comment