DUL KEMIT THE SERIES 16.
Jahe Merah 4; Opinion Building
Oleh : Arif Yosodipuro
Soal giring menggiring, kyai Dul Kemit jagonya. Setiap ada program atau rencana baru, kyai Dul Kemit pasti menyampaikan orasinya di hadapan warga pesantren ba'da shalat berjamaah sebagai sosialisasi, termasuk kehadiran sang janda.
Pada suatu kesempatan, gak ada hujan gak ada angin, tiba-tiba kyai Dul Kemit menyebut-nyebut tokoh wanita terkenal yang secara kebetulan namanya sama dengan sang janda. Sebut sajalah Jahe Merah. Ia puja dan puji di hadapan audience. Ini dilakukan agar warga pesantren tidak kaget dan shock kalau nanti mendengar dan melihat sang Jahe Merah.
Upaya kyai Dul Kemit manjur. Orasinya menyihir dan menghipnosis pendengarnya. Mereka manggut-manggut dan seolah apa yang disampaikan itu memang mengait dengan tokoh wanita tersebut. Padahal udang di atas piring-nya - biar update dikit, karena udang di balik batu sudah jadul - adalah memasukkan nama sang janda ke otak warga pesantren. Dengan begitu warga tidak bergejolak sebab sudah digiring mind set mereka.
Sosialisasi kyai Dul Kemit benar-benar mujarab bagaikan obat ramuan Sin Sai tersohor. Warga nurut. Mereka menganggap keberadaan sang janda adalah hal biasa dan lumrah. Walaupun ke mana-mana selalu dikawal oleh orang khusus suruhan kyai Dul Kemit, tak ada yang berani protes atau menegurnya.
Kini keberadaan sang janda semakin leluasa kiprahnya. Dan anehnya, sang janda tampak sudah menyatu dengan pesantren sekalipun ia orang baru. Perhatian kyai pun semakin intens.
"Perhatian apa kang?" tanya kang Ujang penasaran. "Biasa, tunggu the series berikutnya."
No comments:
Post a Comment