Tuesday, April 11, 2017

DUL KEMIT THE SERIES 1

Kumaha Aing 
Oleh : Arif Yosodipuro

Dul Kemit semakin mencengkeram wewenang dan kekuasaannya.

Semuanya sendiko dawuh kepada sinuhun kyai Dul Kemit.
Tak ada yang berani mengutarakan pendapat beda.
Kalau beda, disapu bersih.
Dibombardir dengan hardikan dan pelototan.
Semua jadi mengkeret.
Ngelokro.
Tak bergairah, seperti kaki seribu menyelamatkan diri.
Melungker.
Kalau ada yang mengkritisi dinilai membantah titah kyai, klimaknya dianggap bughat. vulgarnya alergi kritik dan masukan.
Apapun yang dititahkan harus dilaksanakan, tanpa ada analisis lapangan.
Dan ketika programnya gagal, dengan enteng berdalih "ga papa. kan ini usaha. daripada gak pernah mencoba."
Merasa penguasa tunggal pesantren, Dul Kemit tak lagi menganggap rekan-rekannya yang secara bersama-sama merintis dari awal.
 Mereka yang dianggap mengganggu bahkan menggoyahkan singgasana kekuasaannya, langsung ditendang.
Segala program dan kebijakan tak lagi berpedoman pada musyawarah, apalagi ad art pesantren.
Semuanya tergantung kyai Dul Kemit.
Keputusan hasil musyawarah hanya menumpuk tak pernah dilakukan, dilanggar.
Yang dikerjakan justru pikiran sepintas, ide sporadis.
Yang menjadi guyonannya adalah kabayan bawa golok.
"Kumaha aing. Ceuk aing hideung, hideung. Lamun henteuk ieu golok."
(maaf tolong dibetulkan kalau salah tulis) ......
bersambung ......

No comments:

Post a Comment