Wednesday, March 28, 2018

Undercover 115

TESTIMONI PRIBADI 16
Dulu Ditolak Sekarang Diajak

Oleh : Arif Yosodipuro


Sejak peristiwa penghadangan di masyikhoh pada Sabtu, 17 Desember 2016, guru diklasifikasikan menjadi tiga. Guru merah – mereka yang ikut rombongan silaturahim ke syaykh yang kedua, guru kuning – mereka yang dalam kecurigaan, dan guru putih – mereka yang tidak masuk dalam daftar guru merah dan kuning.
Sembari seleksi guru baru berlangsung, ada beberapa guru yang ditugaskan untuk mengadakan pertemuan khusus. Mereka di antaranya Dewan Guru yang masih ada di Mahad, (Ust. Alfi Satria, Usth. Wina Safitri), manajer pendidikan dan wakil (kalau tidak salah Ust. Herman Sururi, Usth. Iis Humairoh, Usth. Nur Aliyah), dan guru (Ust. Budi Satro), serta beberapa orang lainnya.
Pertemuauan mereka sangat intens. Hampir tiap malam pada kurun waktu 1-8 Januari 2017, mereka mengadakan pertemuan. Hal yang dibahas dalam pertemuan adalah mempersiapkan pembelajaran dalam masa transisi, dihadangnya ratusan guru.
Selain itu, ada juga yang ditugaskan untuk menemui guru kuning dan guru merah. Yang bersangkutan mendatangi rumah guru merah dan membujuk agar mencabut surat pernyataan keberatan (somasi) kepada syaykh dan bertaubat (istilah mereka).
Seperti yang dilakun oleh Ust. Alwi. Dia mendatangi rumah Ust. Tatang Haryono, Ust. Yusaefudin, Ust. Suryana, dan Ust. Purbosari. Pada kesempatan lain, Ust. Noviastono, Ust. Tihan, Ust. Tatang, Ust. Moch. Yunus, dan Ust. Yusaefudin berkunjung ke rumah Ust. Alwi. Namun, yang bersangkutan tidak ada di rumah.
Karena tidak bertemu, mereka memutuskan untuk menunggu Ust. Alwi di rumah Ust. Yusaefudin. Beberapa saat kemudian, Ust. Alwi datang ke rumah Ust. Yusaefudin. Dia bilang bahwa guru yang tadi ia datangi agar bertaubat kepada syaykh bukan kepada Allah. Taubatnya pun melalui pintu Ust. Alfi, Usth. Wina atau Ust. Alwi.
Selajutnya guru kuning yang sudah diperiksa (ditaftis) dan guru putih dipanggil, ada yang melalui SMS dan ada yang melalui telepon untuk datang ke kampus. Mereka dikumpulkan dan bersilaturahim khusus dengan syaykh.
Silaturahim dilakukan secara bergiliran. Dalam silaturahim itu, syaykh bercerita panjang lebar tentang pendirian ma’had. Inti dari silaturahim itu adalah menanamkan kepercayaan dan empati kepada syaykh. Dengan orasi naratif, audience digiring agar mengakui bahwa syaykhlah orang yang paling berjasa dalam pendirian ma’had. Secara implisit menegaskan bahwa ma’had itu ada karena syaykh.
Informasi yang saya terima bahwa guru yang belum silaturahim disuruh tunggu sampai hari Ahad, 8 Januari 2017. Pada tanggal tersebut, guru merah mencoba datang ke Ma’had untuk persiapan tugas mengajar di semester genap.
Ternyata pintu benar-benar tertutup. Begitu sampai di gate, mereka (guru merah) disambut oleh bentangan rantai dan blockade ratusan pagar hidup dari keamanan ma’had dan orang tak dikenal. Selain itu, terpampang juga pengumuman yang tidak ada penanggung jawabnya.
Pengumuman itu berbunyi: “BAGI GURU YANG BELUM SILATURRAHIM KEPADA SYAYKH AL-ZAYTUN BARU BISA MASUK PADA HARI SENIN 09/01/2017 JAM 08.00 WIB.”
Mungkin dengan pertimbangan kebutuhan guru sangat mendesak di mana sebentar lagi santri akan datang dan pembelajaran pun akan dimulai, maka penerimaan guru baru dipercepat dan diperlonggar. Dulu tidak boleh ada suami istri dua-duanya menjadi guru.
Sebelum kejadian pengusiran dan pengahadangan, ada suami/ istri (guru) yang ketika melamar menjadi guru ditolak. Di antaranya Saudara Nasrul Alam, suami Usth. Waskitaningrum. Istri Ust. Kushartoyo, istri Ust. Suhiron, dan masih ada yang lain.
Namun sekarang berbalik. Bukannya ditolak tapi justru DITAWARI dan DIAJAK. Banyak suami guru yang masuk menjadi guru. Prinsip itu tak lagi dipedang. Yang penting ada guru. Siapa pun mereka asal mau dan bersedia direkrut, karwawan, kordinator donatur, atau pun suami guru.
Sederet nama suami guru yang sekarang mengajar di antaranya saudara Haryanto Mardhoni, suami Usth. Wina Safitri, membantu menagajar di Aliyah kadang Biologi kadang bidang studi lain.
Kemudian suami Usth. Eva Yosefa, dari P3T, mengajar di MI. Saudara Barkah, suami Usth. Mira Dewi, mengajar Biologi di Aliyah (jarang karena kembali fokus ke pertanian). Saudara Asep Sutisna, suami Usth. Ngaisah, mengajar di MTs. Saudara Nugroho, suami Usth Waway, mengajar di Aliyah. Dan masih ada yang lainnya.
Rupanya memang sudah tak ada itikad baik kepada “guru merah.” Dengan memanggil alumni untuk mengajar, juga menerima guru baru menunjukkan adanya penolakan terhadap guru merah, sekalipun menabrak statement yang pernah diucapkan.
DULU DITOLAK SEKARANG DIAJAK, dampak dari MENELAN LUDAH SENDIRI. Padahal dulu teriaknya TIDAK ADA AKAR ROTAN PUN JADI. Sekarang Rotannya tinggal ranting akar pun gering dan keriting.
Catatan:
1. Bila ada kekeliruan data dan nama bukan unsur kesengajaan dan akan direvisi kemudian.
2. Karena adanya sanggahan saudara Riyadi pada statusnya maka sy hapus nama ybs. Terima kasih.

Sumber : Klik di sini

Undercover 114

TESTIMONI ALUMNI 15
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (4)
Oleh : Arif Yosodipuro


“Berikan informasi ini kepada teman-teman,” lanjut syaykh dengan semangat. “Nanti kalau sudah terkumpul 100 atau minimal 40 orang, karena syarat minimal shalat Jum’at kan 40, kasih kabar syaykh. Di mana pun, di Jambi atau di Kalimantan sekalipun, syaykh akan datang. Gak perlu diongkosi,”
Menjelang adzan ashar, perbincangan pun selesai. Kami kemudian berpamitan pulang dan sebelumnya berfoto bersama. Kami meninggalkan mashikhoh menuju penginapan untuk berkemas-kemas. Baru saja hendak menunaikan shalat, bapak Soleh Aceng meminta kami untuk sesegera mungkin berkumpul di ruang restorasi Al Islah.
Kami berlima plus sofia mengampirinya. Satu per satu secara bergiliran kami ditanya tentang bagaimana pendapat kami mengenai pertemuan dengan syaykh yang baru saja tadi dan kesediaan untuk mengabdi.
Jawaban saya sama dengan apa yang saya sampaikan kepada syaykh. “Masalah ini akan bisa diselesaikan jika dibangun komunikasi kedua belah pihak. Saya juga mengumpamakan, "Kalau orang P*pu* tinggal di P*pu* dengan kot*ka* mereka tidak masalah, namun orang Jakarta tinggal di P*pu* dengan kot*k* itu sulit."
"Jangan samakan almamatermu dengan kot*k*." Sahut pak Sholeh Aceng tidak setuju. Saya hanya tersenyum. Kemudian pak Sholeh Aceng meminta, “Tolong sampaikan maksud dan tujuan syaykh ini kepada rekan rekan alumni yang lain.”
“Siap. Nanti akan kami sampaikan kepada teman-teman,” kata saya berjanji.
Alhamdulillah acara kelar. Kami bermaksud shalat terlebih dahulu sekalian pulang. Namun, baru juga keluar ruang restorasi kami langsung dipanggil oleh Shofia. “Eh temen temen.. Sini dulu.” Panggilnya sambil menggerakkan tangannya. “Gimana nie..., Ada yang mau gak ngajar? Ayolah…. San, Fuad, Husnul, Bli (panggilan Dwi).”
“Ayolah temen temen..” Sahut Nu'man menguatkan, menambah motivasi. “Al zaytun ini ibarat kapal yang dinahkodai oleh syaykh. Tahun 1999 kapal sudah angkat jangkar dan hari ini sudah berada di samudra. Memang banyak oknum yang akan membocorkan kapal dan tidak suka. Itu proses alam kawan. Ayo kita yang harus memperjuangkan almamater ini sebagai alumni.” Lanjutnya serius.
Saya pegang pundaknya "Nu'man ni yang paling siap nampaknya ni di antara kita," kata saya sambil senyam-senyum.
Selang beberapa saat Husnul menambahkan "Terus mau berhenti di mana dan ke mana nie tujuan kapal?"
Sambil membawa tanya kami berpamitan pulang. Sayonara. Rindu hati telah terobati. Berbincang dan bercerita sepanjang tengah hari. Memikir timbang sebelum mengambil aksi. Rupanya kami dipanggil UNTUK MENGABDI.
Fyi, for your information, saya tepati janji saya. Saya sampaikan kepada rekan-rekan alumni siapa yang mau menjadi guru di Al-Zaytun. Ternyata tidak ada alumni yang saya tawari di grup WA mau menjadi guru di sana, termasuk Nu'man rekan saya yang ikut hadir juga anggota jammas.

Sumber : Klik di sini

Undercover 113

TESTIMONI ALUMNI (14)
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (3)
Oleh : Arif Yosodipuro


Oh iya, paginya sebelum berangkat, saya sudah briefing kepada Fuad, Husnul dan Dwi agar tidak banyak bertanya. “Dengarkan saja apa yang disampaikan,” kata saya. Nu’man tidak ikut briefing, maka hanya dia yang sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus kepada kejadian guru. Di antaranya dia bertanya tentang goro-goro yang terjadi di Gontor.
Di tengah kami sedang asyik mendengarkan ceritanya syaykh, sekitar pukul 11.50, HP Dwi Ari Sandi berkumandang adzan dzuhur. Semua cuma melirik. Lalu bunyi itu dimatikan. Tak sedap kalau kami yang ngajakin shalat kan ya? Yaudah, ngobrolnya berlanjut.
Waktu makan pun tiba. Bersama syayh kami disilakan makan, satu meja. Lalu kami pindah ke meja makan. Hidangan gulai kambing tertata rapi di meja bundar menggugah selera. Sebagai menu pembuka, disajikan buah nangka. Sedangkan oleh-oleh khas Tasik yang dibawa saudara Husnul, di antaranya keripik singkong, keripik talas dihidangkan sebagai menu penutup.
"Syaykh saya sering makan di restoran Aljazirah Matraman (restoran Timur Tengah) tapi ini kambing jauh lebih enak di sini dari pada di restoran itu,” kata saya memuji.
“Wah Ikhsan ini persis seperti syaykh,” Sahutnya GR kali. “Wiw dipuji begitu jadi ge er sih,” kata saya dalam hati. Lalu dia bercerita bagaimana waktu dulu di Johor, Malaysia, waktu ibadah haji apa umroh yang makan di rumah orang. Karena hal seperti yang saya lakukan tadi, memuji orang dulu, lalu orang memberi yang dia mau.
Beliau tambah. Sebenernya saya mau tambah juga, namun sedikit jaim, jaga image. Alhamdulillah, ternyata gayung bersambut. Syaykh tahu keinginan hati saya. "Ikhsan tambah lagi,” kata syaykh menawari sembari menuangkan nasi ke piring saya. “Aduh…mimpi apa saya semalam dapat layanan dari syaykh,” kata saya dalam hati ke-GR-an.
Karena saya rasa obrolannya gak ada arah dan gak selesai-selesai. Sementara waktu sudah hampir pukul 14.00 dan saya juga sudah harus balik ke Jakarta, setidak-tidaknya ba'da ashar, maka saya memberanikan diri bertanya, "Syaykh sebenarnya apa yang terjadi dengan guru-guru?"
“Ini syaykh dari tadi diem aja ya,” jawabnya sambil menata diri. “Karena Ikhsan sudah bertanya. Maka syaykh akan menjawab,” syaykh menatap kami serius. “Beberapa oknum guru (guru merah) melakukan pungli kepada santri. Lalu syaykh menegur mereka di Al Hayyat.”
Kami mendengarkan dengan seksama. “Kenapa di Al Hayyat? Karena mimbar syaykh sebatas di Al Hayyat, maka jangan bawa-bawa ke Istiqlal. Jadi wajar syaykh menegurnya di Al Hayyat. Dan beberapa guru ternyata ada yang tidak terima dan meminta penjelasan syaykh tapi tidak diterima karena sudah dijelaskan semua di Al Hayyat.”
Kemudian melanjutkan. “Dan sysyh tidak menerima siapapun saat libur santri kecuali yang syaykh panggil dan saat itu juga syaykh sedang kurang sehat karena suara syaykh terganggu akibat kawan syaykh membawa oleh-oleh, keripik, yang mengandung MSG. Syaykh itu sangat sensitif terhadap MSG.
Lalu saya bilang, “Secara teknis saya tidak faham syaykh kejadiannya bagaimana. Tetapi saya punya keyakinan bahwa semua ini bisa diselesaikan dengan berkomunikasi. Ini semua bisa diselesaikan.” Mendengar jawaban saya seperti itu, beliau tidak merespon, diam membatin.
Selanjutnya kami pindah kembali ke kursi tamu. Dialog pun berlanjut. “Sudah waktunya alumni kembali ke almamaternya untuk mengabdi,” kata syaykh menjelaskan maksud undangannya. “Syaykh butuh tenaga pengajar. Tentang gajinya nanti minta berapa dan nanti syaykh tawar berapa.”
“Saya juga aktif di jammas syaykh,” Celetuk Nu'man menyela, memberi tahu ditengah-tengah pembicaraan. Syaykh senyum tipis.
Bersambung….testimoni 15. Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (4) Tamat

Sumber : Klik di sini

Undercover 112

TESTIMONI ALUMNI (13)
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (2)
Oleh : Arif Yosodipuro


Saat berada di lantai 31 menara yang rencana ketinggiannya lebih dari 200 m itu, kami mendapat penjelasan beberpa poin dan keagungan bangunan dari bapak Abu Fathir alias Sholeh Aceng. Tak berapa lama telepon bapak Soleh Aceng berdering, sepertinya dari shofia karena kami dengar pak Sholeh Aceng berkata, “Baik mbak shofi, saya segera ke masyikhoh.”
Informasi yang kami terima, pukul 09:00 tepat sudah harus berada di masyikhoh. Karena itu kami bersegera turun dan melaju ke masyikhoh. Alhamdulillah sebelum pukul 09.00 kami sudah tiba di masyikhoh. Tepatnya pukul 08:52
Saat berjalan menuju pendopo, kami menyaksikan beberapa petani sedang sibuk dengan pekerjaannya di halaman masyikhoh. Tepat pukul 09:00 kami disambut oleh syaykh, Shofia. Di sana juga ada bapak Latief, ibu Anis dan satu orang yang sering memfoto. Kalau tidak salah bapak Latief Weha.
Pukul 09.25 acara dimulai dengan basmalah. Pembicaraan diawali dari perkenalan yang dimulai dari saudara Fuad Hilmi, Husnul Muttaqien, Nu’man Rafiq, Dwi Arie Sandy dan M. Ikhsan.
Syaykh menjelaskan kenapa yang diundang angkatan 2 semua. Karena angkatan dua itu yang bisa dihubungi dengan cepat. Makanya syaykh minta Shofi untuk menghubungi Ikhsan.
Semua ditanya nama dan pekerjaan. Pertama, saudara Fuad Hilmi. Pekerjaan dosen dan ketua yayasan di Tasikmalaya. Syaykh bertanya perihal jurusan apa saja dan yayasannya bergerak di bidang apa.
Kedua, Husnul Muttaqien. Ia sebagai petani di Tasikmalaya. Pembicaraan hangat ketika syaykh bertanya tentang petani apa. Husnul bilang kalau ia tanam pepaya california. Mendengar jawaban Husnul, syaykh bilang bahwa pepaya california itu kurang bagus. Beliau bilang tanam pepaya hawai. Katanya rasanya lebih manis, dan paling manis dari semua jenis pepaya.
Kemudian Husnul menanyakan berapa kadar manisnya pepaya hawai dan apakah jika ditanam di ketinggian bisa berubah bentuk dan kadar manisnya apa nggak. Syaykh menjawab kalau belum diuji coba.
Selanjutnya ketiga, giliran Nu’man Rafiq. Asal Banten, tinggal di Kalimantan. Ia bergerak di bidang kuliner. Syaykh menanggapi dan sempat berbasa basi tentang kuliner.
Berikutnya, saudara Dwi Arie Sandy mendapat giliran ke 4. Ia bergerak di bidang industri olahan minuman sehat. Lalu syaykh bertanya jenis minumannya apa.
Dan, terakhir giliran saya, Muhammad Ikhsan. “Nah kalau ini syaykh sudah kenal,” kata syaykh sumringah. Saya ketua alumni. Sempat kami berbincang masalah reuni sedikit lalu beliau bertanya perihal usaha di bidang konveksi.
Setelah kami berlima menyebutkan nama dan kegiatan masing-masing, syaykh kemudian bercerita tentang bagaimana keberanian orang aceh. Banyak hal yang kami bicararakan dan kami bahas. Seperti GBHN, UUD, PANCASILA, program apa saja yang sedang dijalankan di mahad.
Syaykh menyebutkan salah satunya adalah kopi yang kata profesor saja tidak akan berbuah. Nyatanya di sekitar masyikhoh itu lebat. Kemudian program pembangkit listrik tenaga angin di pantai selatan Tasikmalaya, program udang ultra intensif yang berada di Losarang pantai utara Indramayu dengan luasan lahan 1 hektar.
Udang ultra intensif sama dengan 1000 hektar tambak biasa. Kata beliau Israel sudah menjalankan tambak udang ultra intensif dan kita coba di Indonesia. Selanjutnya beliau menyebutkan program pabrik gula dan sudah menanam tebu 120 hektar, wijen, dan lain lain.
Bersambung…. besok pagi at prime time, 11.30
Sumber : Klik di sini

Undercover 111

TESTIMONI ALUMNI 12
Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi (1)
Oleh : Arif Yosodipuro


Sejak persiapan hingga pasca reusni Persada, saya, Muhammad Ikhsan, intens berkomunikasi dengan Shofie, baik melalui telepon maupun chat di WA. Namun komunikasi itu sempat terputus karena setelah reuni kita evaluasi di grup panitia tentang acara tersebut.
Dari sekian banyak poin yang dievaluasi adalah perhatian terhadap guru. Sahabat kami, Chaidar mengungkapkan tentang perasaannya mengenai guru di sana. "Sepeda ustazah nurjanah yang sepuluh tahun lalu dipakai, masih tetap itu loh sekarang.” Dia tampak sedih dan kasihan. "Kasihan banget ya guru-guru kita di sana ga dipeduliin sama pimpinan di sana."
Karena Shofie ada di grup panitia, tampaknya ucapan Saudara Chaidar ini menyinggung perasaannya. "Kalau ga mau nyumbang ya ga usah ngomong begitu," kata Shofie dalam balasan chat-nya.
Kala itu sedang membahas kelebihan dana reuni, sebaiknya dana itu kita gunakan untuk apa. Tadinya mau kita serahkan begitu saja ke rekening pak Panji. Karena sebelumnya kami juga transfer uang reuni itu ke rekening mandiri pribadinya. Tapi akhirnya diputuskan bahwa dana digunakan untuk bikin kaos buat guru-guru.
Selanjutnya biar Shofie tidak marah terhadap ungkapan Chaidar, saya yang berkomunikasi kepadanya. Dan, komunikasi tersambung kembali. Sekitar 16 atau 17 Desember 2016 saya dihubungi Shofie via phone.
“San, ada waktu ga?” katanya menanyakan kesiapan saya. “Diundang syaykh untuk silaturrahmi dan ajak teman-teman lainnya ya.” Lanjutnya berpesan.
Lalu saya ajak beberapa teman yaitu Husnul Muttaqin, Fuad Hilmi dan Dwi Arie Sandi.
Sekitar tanggal 20 Desember 2016, Shofie menghubungi saya lagi menaanyakan kesiapan saya. “Gimana bisa gak?” kata dia minta konfirmasi.
“Bisa,” jawab saya singkat.
“Nanti tolong Nu’man Rafiq ajak bareng, ya.” Kata dia meminta saya agar bisa memberi tumpangan kepada Nu'man rafiq. Karena saya merasa kurang dekat maka saya bilang, “Wah maaf gak bisa, Shof.” Kata saya menegaskan.
Tanggal 23 Desember 2016 malam, saya berangkat menggunakan mobil saya bersama Dwi Ari Sandi. Sepanjang perjalanan, Saudara Dwi bercerita banyak hal, tentang Universitas Al-Zaytun, UAZ, tentang litbang yang cuma basa basi tanpa diaplikasikan, tentang bagaimana dia menjadi pengurus asrama.
Jalanan tak seberapa ramai. Hilir mudik kendaraan baik yang masuk maupun keluar ibukota menjadi ornamen di malam hari bagaikan guratan tangan dingin pelukis tenar Raden Saleh yang dipajang di dinding ruangan.
Rasa rindu dan segarnya udara malam membuat kami tak merasakan lelah menempuh perjalanan. Tengah malam mobil yang kami tumpangi mendekati pintu gerbang, gate. Kami tiba di Al-Zaytun. Memori langsung mengurai kembali mengingatkan masa-masa menjadi santri.
Usai lapor kepada petugas ketibaan, kami meluncur ke Wisma Tamu Al Ishlah untuk menginap. No free, tapi kami bayar. Tak lama setelah itu, dua rekan kami, Husnul dan Fuad datang menyusul. Mereka berangkat dari Bandung.
Keesokannya setelah rapih-rapih, mandi dan sarapan. Kami kembali ke kamar. Lalu dapat telepon dari front office wisma yang mengabari bahwa kami sudah ditunggu oleh abi Fathir, eksponen.
Kami bersegera menghampirinya dan sejenak berbasa-basi. Lalu beliau mengajak kami ke parkiran. "Yuk kita keliling-keliling dulu," Katanya sambil berjalan menuju mobil. Kami semua naik ke mobilnya Husnul, yang di dalamnya banyak oleh-oleh dari Tasik, ya pisang ya keripik.
Rasanya saya seperti 17 tahun yang lalu ketika saya masih menjadi calon santri diajak keliling untuk lihat-lihat. Kata-katanya nyaris saya hafal, cara menyampaikannya. Semuanyalah. Jadi ga ada yangg luar biasa buat saya.
Kami diajak ke istana beras melihat mesin pengering, stok beras yang sebagian saja - saya liat malah berjamur, juga pabrik gula yang sedang dibangun. Sampai akhirnya kami diajak naik ke menara menggunakan lift.
Jujur, saya belum pernah melihat tempat ini dari ketinggian seperti ini. Sebelumnya paling sampai kubah rahmatan. Indah memang. Tapi itu semua tidak bisa mengubah pikiran saya begitu saja. Setelah turun kami langsung ke masyikhoh skitar pukul 10:30. Syaykh sudah menunggu di sana.
Bersambung....
Sumber : Klik di sini

Undercover 110

Undang Alumni Tumbal untuk Mengabdi
by ustd Arif Yosodipuro
Testimoni brother Muhammad Ikhsan alumni angkatan 2
Diupload versi Full oleh : Rocki Purnando Rpn


Sejak persiapan hingga pasca reusni Persada, saya, Muhammad Ikhsan, intens berkomunikasi dengan Shofie, baik melalui telepon maupun chat di WA. Namun komunikasi itu sempat terputus karena setelah reuni kita evaluasi di grup panitia tentang acara tersebut.
Dari sekian banyak poin yang dievaluasi adalah perhatian terhadap guru. Sahabat kami, Chaidar mengungkapkan tentang perasaannya mengenai guru di sana. "Sepeda ustazah nurjanah yang sepuluh tahun lalu dipakai, masih tetap itu loh sekarang.” Dia tampak sedih dan kasihan. "Kasihan banget ya guru-guru kita di sana ga dipeduliin sama pimpinan di sana."
Karena Shofie ada di grup panitia, tampaknya ucapan Saudara Chaidar ini menyinggung perasaannya. "Kalau ga mau nyumbang ya ga usah ngomong begitu," kata Shofie dalam balasan chat-nya.
Kala itu sedang membahas kelebihan dana reuni, sebaiknya dana itu kita gunakan untuk apa. Tadinya mau kita serahkan begitu saja ke rekening pak Panji. Karena sebelumnya kami juga transfer uang reuni itu ke rekening mandiri pribadinya. Tapi akhirnya diputuskan bahwa dana digunakan untuk bikin kaos buat guru-guru.
Selanjutnya biar Shofie tidak marah terhadap ungkapan Chaidar, saya yang berkomunikasi kepadanya. Dan, komunikasi tersambung kembali. Sekitar 16 atau 17 Desember 2016 saya dihubungi Shofie via phone.
“San, ada waktu ga?” katanya menanyakan kesiapan saya. “Diundang syaykh untuk silaturrahmi dan ajak teman-teman lainnya ya.” Lanjutnya berpesan.
Lalu saya ajak beberapa teman yaitu Husnul MuttaqienFuad Hilmi dan Dwi Arie Sandy
Sekitar tanggal 20 Desember 2016, Shofie menghubungi saya lagi menaanyakan kesiapan saya. “Gimana bisa gak?” kata dia minta konfirmasi.
“Bisa,” jawab saya singkat.
“Nanti tolong Nu'man Rafiq Kulinerisme ajak bareng, ya.” Kata dia meminta saya agar bisa memberi tumpangan kepada Nu'man rafiq. Karena saya merasa kurang dekat maka saya bilang, “Wah maaf gak bisa, Shof.” Kata saya menegaskan.
Tanggal 23 Desember 2016 malam, saya berangkat menggunakan mobil saya bersama Dwi Ari Sandi. Sepanjang perjalanan, Saudara Dwi bercerita banyak hal, tentang Universitas Al-Zaytun, UAZ, tentang litbang yang cuma basa basi tanpa diaplikasikan, tentang bagaimana dia menjadi pengurus asrama.
Jalanan tak seberapa ramai. Hilir mudik kendaraan baik yang masuk maupun keluar ibukota menjadi ornamen di malam hari bagaikan guratan tangan dingin pelukis tenar Raden Saleh yang dipajang di dinding ruangan.
Rasa rindu dan segarnya udara malam membuat kami tak merasakan lelah menempuh perjalanan. Tengah malam mobil yang kami tumpangi mendekati pintu gerbang, gate. Kami tiba di Al-Zaytun. Memori langsung mengurai kembali mengingatkan masa-masa menjadi santri.
Usai lapor kepada petugas ketibaan, kami meluncur ke Wisma Tamu Al Ishlah untuk menginap. No free, tapi kami bayar. Tak lama setelah itu, dua rekan kami, Husnul dan Fuad datang menyusul. Mereka berangkat dari Bandung.
Keesokannya setelah rapih-rapih, mandi dan sarapan. Kami kembali ke kamar. Lalu dapat telepon dari front office wisma yang mengabari bahwa kami sudah ditunggu oleh abi Fathir, eksponen.
Kami bersegera menghampirinya dan sejenak berbasa-basi. Lalu beliau mengajak kami ke parkiran. "Yuk kita keliling-keliling dulu," Katanya sambil berjalan menuju mobil. Kami semua naik ke mobilnya Husnul, yang di dalamnya banyak oleh-oleh dari Tasik, ya pisang ya keripik.
Rasanya saya seperti 17 tahun yang lalu ketika saya masih menjadi calon santri diajak keliling untuk lihat-lihat. Kata-katanya nyaris saya hafal, cara menyampaikannya. Semuanyalah. Jadi ga ada yangg luar biasa buat saya.
Kami diajak ke istana beras melihat mesin pengering, stok beras yang sebagian saja - saya liat malah berjamur, juga pabrik gula yang sedang dibangun. Sampai akhirnya kami diajak naik ke menara menggunakan lift.
Jujur, saya belum pernah melihat tempat ini dari ketinggian seperti ini. Sebelumnya paling sampai kubah rahmatan. Indah memang. Tapi itu semua tidak bisa mengubah pikiran saya begitu saja. Setelah turun kami langsung ke masyikhoh skitar pukul 10:30. Syaykh sudah menunggu di sana.
Saat berada di lantai 31 menara yang rencana ketinggiannya lebih dari 200 m itu, kami mendapat penjelasan beberpa poin dan keagungan bangunan dari bapak Abu Fathir alias Sholeh Aceng. Tak berapa lama telepon bapak Soleh Aceng berdering, sepertinya dari shofia karena kami dengar pak Sholeh Aceng berkata, “Baik mbak shofi, saya segera ke masyikhoh.”
Informasi yang kami terima, pukul 09:00 tepat sudah harus berada di masyikhoh. Karena itu kami bersegera turun dan melaju ke masyikhoh. Alhamdulillah sebelum pukul 09.00 kami sudah tiba di masyikhoh. Tepatnya pukul 08:52
Saat berjalan menuju pendopo, kami menyaksikan beberapa petani sedang sibuk dengan pekerjaannya di halaman masyikhoh. Tepat pukul 09:00 kami disambut oleh syaykh, Shofia. Di sana juga ada bapak Latief, ibu Anis dan satu orang yang sering memfoto. Kalau tidak salah bapak Latief Weha.
Pukul 09.25 acara dimulai dengan basmalah. Pembicaraan diawali dari perkenalan yang dimulai dari saudara Fuad Hilmi, Husnul Muttaqien, Nu’man Rafiq, Dwi Arie Sandy dan M. Ikhsan.
Syaykh menjelaskan kenapa yang diundang angkatan 2 semua. Karena angkatan dua itu yang bisa dihubungi dengan cepat. Makanya syaykh minta Shofi untuk menghubungi Ikhsan.
Semua ditanya nama dan pekerjaan. Pertama, saudara Fuad Hilmi. Pekerjaan dosen dan ketua yayasan di Tasikmalaya. Syaykh bertanya perihal jurusan apa saja dan yayasannya bergerak di bidang apa.
Kedua, Husnul Muttaqien. Ia sebagai petani di Tasikmalaya. Pembicaraan hangat ketika syaykh bertanya tentang petani apa. Husnul bilang kalau ia tanam pepaya california. Mendengar jawaban Husnul, syaykh bilang bahwa pepaya california itu kurang bagus. Beliau bilang tanam pepaya hawai. Katanya rasanya lebih manis, dan paling manis dari semua jenis pepaya.
Kemudian Husnul menanyakan berapa kadar manisnya pepaya hawai dan apakah jika ditanam di ketinggian bisa berubah bentuk dan kadar manisnya apa nggak. Syaykh menjawab kalau belum diuji coba.
Selanjutnya ketiga, giliran Nu’man Rafiq. Asal Banten, tinggal di Kalimantan. Ia bergerak di bidang kuliner. Syaykh menanggapi dan sempat berbasa basi tentang kuliner.
Berikutnya, saudara Dwi Arie Sandy mendapat giliran ke 4. Ia bergerak di bidang industri olahan minuman sehat. Lalu syaykh bertanya jenis minumannya apa.
Dan, terakhir giliran saya, Muhammad Ikhsan. “Nah kalau ini syaykh sudah kenal,” kata syaykh sumringah. Saya ketua alumni. Sempat kami berbincang masalah reuni sedikit lalu beliau bertanya perihal usaha di bidang konveksi.
Setelah kami berlima menyebutkan nama dan kegiatan masing-masing, syaykh kemudian bercerita tentang bagaimana keberanian orang aceh. Banyak hal yang kami bicararakan dan kami bahas. Seperti GBHN, UUD, PANCASILA, program apa saja yang sedang dijalankan di mahad.
Syaykh menyebutkan salah satunya adalah kopi yang kata profesor saja tidak akan berbuah. Nyatanya di sekitar masyikhoh itu lebat. Kemudian program pembangkit listrik tenaga angin di pantai selatan Tasikmalaya, program udang ultra intensif yang berada di Losarang pantai utara Indramayu dengan luasan lahan 1 hektar.
Udang ultra intensif sama dengan 1000 hektar tambak biasa. Kata beliau Israel sudah menjalankan tambak udang ultra intensif dan kita coba di Indonesia. Selanjutnya beliau menyebutkan program pabrik gula dan sudah menanam tebu 120 hektar, wijen, dan lain lain.
Oh iya, paginya sebelum berangkat, saya sudah briefing kepada Fuad, Husnul dan Dwi agar tidak banyak bertanya. “Dengarkan saja apa yang disampaikan,” kata saya. Nu’man tidak ikut briefing, maka hanya dia yang sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus kepada kejadian guru. Di antaranya dia bertanya tentang goro-goro yang terjadi di Gontor.
Di tengah kami sedang asyik mendengarkan ceritanya syaykh, sekitar pukul 11.50, HP Dwi Ari Sandi berkumandang adzan dzuhur. Semua cuma melirik. Lalu bunyi itu dimatikan. Tak sedap kalau kami yang ngajakin shalat kan ya? Yaudah, ngobrolnya berlanjut.
Waktu makan pun tiba. Bersama syayh kami disilakan makan, satu meja. Lalu kami pindah ke meja makan. Hidangan gulai kambing tertata rapi di meja bundar menggugah selera. Sebagai menu pembuka, disajikan buah nangka. Sedangkan oleh-oleh khas Tasik yang dibawa saudara Husnul, di antaranya keripik singkong, keripik talas dihidangkan sebagai menu penutup.
"Syaykh saya sering makan di restoran Aljazirah Matraman (restoran Timur Tengah) tapi ini kambing jauh lebih enak di sini dari pada di restoran itu,” kata saya memuji.
“Wah Ikhsan ini persis seperti syaykh,” Sahutnya GR kali. “Wiw dipuji begitu jadi ge er sih,” kata saya dalam hati. Lalu dia bercerita bagaimana waktu dulu di Johor, Malaysia, waktu ibadah haji apa umroh yang makan di rumah orang. Karena hal seperti yang saya lakukan tadi, memuji orang dulu, lalu orang memberi yang dia mau.
Beliau tambah. Sebenernya saya mau tambah juga, namun sedikit jaim, jaga image. Alhamdulillah, ternyata gayung bersambut. Syaykh tahu keinginan hati saya. "Ikhsan tambah lagi,” kata syaykh menawari sembari menuangkan nasi ke piring saya. “Aduh…mimpi apa saya semalam dapat layanan dari syaykh,” kata saya dalam hati ke-GR-an.
Karena saya rasa obrolannya gak ada arah dan gak selesai-selesai. Sementara waktu sudah hampir pukul 14.00 dan saya juga sudah harus balik ke Jakarta, setidak-tidaknya ba'da ashar, maka saya memberanikan diri bertanya, "Syaykh sebenarnya apa yang terjadi dengan guru-guru?"
“Ini syaykh dari tadi diem aja ya,” jawabnya sambil menata diri. “Karena Ikhsan sudah bertanya. Maka syaykh akan menjawab,” syaykh menatap kami serius. “Beberapa oknum guru (guru merah) melakukan pungli kepada santri. Lalu syaykh menegur mereka di Al Hayyat.”
Kami mendengarkan dengan seksama. “Kenapa di Al Hayyat? Karena mimbar syaykh sebatas di Al Hayyat, maka jangan bawa-bawa ke Istiqlal. Jadi wajar syaykh menegurnya di Al Hayyat. Dan beberapa guru ternyata ada yang tidak terima dan meminta penjelasan syaykh tapi tidak diterima karena sudah dijelaskan semua di Al Hayyat.”
Kemudian melanjutkan. “Dan sysyh tidak menerima siapapun saat libur santri kecuali yang syaykh panggil dan saat itu juga syaykh sedang kurang sehat karena suara syaykh terganggu akibat kawan syaykh membawa oleh-oleh, keripik, yang mengandung MSG. Syaykh itu sangat sensitif terhadap MSG.
Lalu saya bilang, “Secara teknis saya tidak faham syaykh kejadiannya bagaimana. Tetapi saya punya keyakinan bahwa semua ini bisa diselesaikan dengan berkomunikasi. Ini semua bisa diselesaikan.” Mendengar jawaban saya seperti itu, beliau tidak merespon, diam membatin.
Selanjutnya kami pindah kembali ke kursi tamu. Dialog pun berlanjut. “Sudah waktunya alumni kembali ke almamaternya untuk mengabdi,” kata syaykh menjelaskan maksud undangannya. “Syaykh butuh tenaga pengajar. Tentang gajinya nanti minta berapa dan nanti syaykh tawar berapa.”
“Saya juga aktif di jammas syaykh,” Celetuk Nu'man menyela, memberi tahu ditengah-tengah pembicaraan. Syaykh senyum tipis.
“Berikan informasi ini kepada teman-teman,” lanjut syaykh dengan semangat. “Nanti kalau sudah terkumpul 100 atau minimal 40 orang, karena syarat minimal shalat Jum’at kan 40, kasih kabar syaykh. Di mana pun, di Jambi atau di Kalimantan sekalipun, syaykh akan datang. Gak perlu diongkosi,”
Menjelang adzan ashar, perbincangan pun selesai. Kami kemudian berpamitan pulang dan sebelumnya berfoto bersama. Kami meninggalkan mashikhoh menuju penginapan untuk berkemas-kemas. Baru saja hendak menunaikan shalat, bapak Soleh Aceng meminta kami untuk sesegera mungkin berkumpul di ruang restorasi Al Islah.
Kami berlima plus sofia mengampirinya. Satu per satu secara bergiliran kami ditanya tentang bagaimana pendapat kami mengenai pertemuan dengan syaykh yang baru saja tadi dan kesediaan untuk mengabdi.
Jawaban saya sama dengan apa yang saya sampaikan kepada syaykh. “Masalah ini akan bisa diselesaikan jika dibangun komunikasi kedua belah pihak. Saya juga mengumpamakan, "Kalau orang P*p*a tinggal di P*p*a dengan k*t*ka mereka tidak masalah, namun orang Jakarta tinggal di Papua dengan k*t*ka itu sulit."
"Jangan samakan almamatermu dengan k*t*ka." Sahut pak Sholeh Aceng tidak setuju. Saya hanya tersenyum. Kemudian pak Sholeh Aceng meminta, “Tolong sampaikan maksud dan tujuan syaykh ini kepada rekan rekan alumni yang lain.”
“Siap. Nanti akan kami sampaikan kepada teman-teman,” kata saya berjanji.
Alhamdulillah acara kelar. Kami bermaksud shalat terlebih dahulu sekalian pulang. Namun, baru juga keluar ruang restorasi kami langsung dipanggil oleh Shofia. “Eh temen temen.. Sini dulu.” Panggilnya sambil menggerakkan tangannya. “Gimana nie..., Ada yang mau gak ngajar? Ayolah…. San, Fuad, Husnul, Bli (panggilan Dwi).”
“Ayolah temen temen..” Sahut Nu'man menguatkan, menambah motivasi. “Al zaytun ini ibarat kapal yang dinahkodai oleh syaykh. Tahun 1999 kapal sudah angkat jangkar dan hari ini sudah berada di samudra. Memang banyak oknum yang akan membocorkan kapal dan tidak suka. Itu proses alam kawan. Ayo kita yang harus memperjuangkan almamater ini sebagai alumni.” Lanjutnya serius.
Saya pegang pundaknya "Nu'man ni yang paling siap nampaknya ni di antara kita," kata saya sambil senyam-senyum.
Selang beberapa saat Husnul menambahkan "Terus mau berhenti di mana dan ke mana nie tujuan kapal?"
Sambil membawa tanya kami berpamitan pulang. Sayonara. Rindu hati telah terobati. Berbincang dan bercerita sepanjang tengah hari. Memikir timbang sebelum mengambil aksi. Rupanya kami dipanggil UNTUK MENGABDI.
Fyi, for your information, saya tepati janji saya. Saya sampaikan kepada rekan-rekan alumni siapa yang mau menjadi guru di Al-Zaytun. Ternyata tidak ada alumni yang saya tawari di grup WA mau menjadi guru di sana, termasuk Nu'man rekan saya yang ikut hadir juga anggota jammas.

Sumber : Klik di sini

Undercover 109

Breaking News. 


1. Para pentolan jamassserrrs hari ini di panggil ke zae, kondisi pemasukan angka anjlok
kabar bahwa ip punya gebetan lebih dari dua ternyata berbuntut panjang , kemarin anggota jamassserrrs sampai berulang ulang bertanya ke kami. 
.
Hebat ya, ip sang ketua yysn, kawin pakai duit ummat
Sbg ketua yysan sangat leluasa bagi dia utk melakukan ini, pendapatan dia dari Pengurus inti lkmm dah lumayan cukup utk nikah lagi, belum lagi dari hal yang lain, termasuk menguasai semua toko toko mahad dilihat dari pemasok barang barang (jalur distribusi) yang di jual di toko toko mahad, inilah yang disebut maling yang cerdik 
.

2. Utk kegiatan ngumpulin peserta semakin sulit, dan suasana para pentolan jamaasssserrr semakin stress.
Karena di kejar dari masykithah (aki aki) agar pemasukan tetap stabil, sementara di lapangan titik jenuh semakin di rasakan oleh anggota jamaasssserrr, belum lagi kasus aki aki dan kroninya melawan 116 guru guru, yang terus bergulir
Anggota jamassserrrs taklid buta mulai kebingungan, gamang, dan galau .😊
Karena mereka dah mulai bisa menilai permasalahan yang sebenarnya dan mulai tampak kebenaran yang sebenarnya, dan kebusukan aki aki yg dibungkus indah atas nama karya membangun bangsa
Sumber : Klik di sini

Thursday, March 22, 2018

Undercover 108

ERNESTO DE LA CRUZ
(disudut dunia yang lain)
Oleh : Muhammad Ikhsan (Alumni)


Kepiawaiannya memetik senar-senar gitar tidak dapat diragukan lagi, jari-jemarinya menggeliat berpindah dari satu fret ke fret yang lain sehingga menghasilkan irama yang memukau untuk didengar, ditambah suara merdu dengan lirik lagu yang menyentuh hati para pendengar, lalu kepiawaiannya dalam berekting (ackting) pun menambah lengkapnya penyajian panggungnya, silih berjalannya waktu penggemarnya menjadi tak terbendung banyaknya, semuanya bak tersihir, semuanya terpukau, semuanya terhipnotis mengidolakan sang musisi yang menurut kebanyakan dari mereka ini adalah satu-satunya musisi terhebat didunia, tidak ada kekurangan disisinya, setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya menjadi kata-kata mutiara bagi penyanjungnya, cara dia berpakaian banyak diikuti, cara dia bicara banyak yg meniru, bahkan cara dia nyetop angkot aja kudu sama diikuti oleh pengikutnya itu (😁😁😁)

Ya, dia punya kemampuan dalam hal itu, dia mempunya pandangan yang jauh kedepan, rela melakukan apa saja demi tercapainya tujuannya itu, tanpa mempedulikan prosesnya baik atau buruk, dia memilih menjadi PEMBUNUH TEMANNYA sendiri, dengan meneteskan racun kedalam minuman temannya,teman yang telah lama dia kenal, teman yang mengajarkan dia musik dan cara bernyanyi, bahkan teman yang menciptakan seluruh lagu dan musik yang membuatnya menjadi seperti saat ini, awalnya hanya segelintir orang mengetahui akan hal ini (karena ini terjadi dibelakang panggung/layar), akan bengisnya si ernesto ini, akan kejamnya cara-cara si ernesto ini, ketika orang yang mengetahui ini mencoba membuka suara tentang siapa sebenarnya si ernesto ini, Beritanya menjadi TERLAMBAT karena ernesto sudah memiliki semuanya, dia telah terlanjur menjadi maestro, dia memiliki pengawal yang banyak dan setia, dengan mudahnya dia menyingkirkan orang-orang yang mencoba membongkar siapa sebenarnya dirinya itu, berkali-kali oleh orang yang berbeda mencoba membuka tentang siapa si ernesto itu sebenarnya tapi sampai detik ini masi bisa d bilang belum berhasil 100%..
Namun yang pasti hari ini, ada harapan tentang kebenaran yang akan terlihat, pemuja ernesto mulai siuman, setidak-tidaknya dari satu juta pemujanya dulu, kini 990 ribu sudah menyadari siapakah sang MAESTRO sebenarnya, siapakan pemilik lagu2 dan musik yang dinyanyikan oleh maestro jahat itu, adapun yang seratus ribu yang tersisa mereka-mereka sang penjual kaset, mereka anak baru gede labil yang sedang mencari jadi diri, mereka yang baru mengenal musik atau mereka-mereka yang tidak bisa hidup karena nafas hidupnya ada diketeknya sang MAESTRO JAHAT.

Sumber : Klik di sini

Undercover 107

Surat terbuka buat seluruh alumni al-zaytun
Oleh : Rocki Purnando Rpn (Alumni)

 


Assalamualaikum wr wb
Surat terbuka buat seluruh alumni al-zaytun
Sengaja memang saya menulis ini melihat realita yang saat ini sedang terjadi, permasalahan almamater yang datang silih berganti seperti tiada henti.

Kasus pengusiran/pemecatan #116 guru2 kita dan juga sahabat alumni kita sendiri yang mengabdikan dirinya disana menjadi pamong didik yakni kak Moestamah Syifa, bang Muhammad Rahmatullah serta bang @rahmat hidayat yg mana ketiganya adalah sahabat kita senior kita angkatan 1.
Sudah setahun lebih masalah ini berjalan sudah 3 kali sidang dipengadilan hubungan industri / PHI bandung diadakan hingga saat ini belum ada titik terang, tunda tunda dan tunda pekan depan adalah sidang ke 4nya.
antara kita sendiri sebgai alumni terbagi dalam 3 bagian, pro ypi, pro guru #116 dan apatis/diam, pribadi saya meminta kepada seluruh alumni untuk ikut andil mengikuti perkembangan kasus ini, apapun keberpihakan kita mari sama2 kita ikuti kasus persidangan ini. Supaya kita sama2 tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Saya juga berharap alumni yang berkecimpung dalam dunia hukum mari sama2 kita pantau dan kita ikut perkembangan kasus ini sehingga bisa memberikan masukan dan perbaikan pendidikan kedepannya kelak demi kemajuan almamater kita ini.
Bang Muhammad Fahrozi Zaelani bagi saya dan alumni yg lain masih menganggap engkau adalah ketua ikatan alumni walaupun belum diakui dari pihak sana tapi rapat kita hingga pagi demi terwujudnya ikatan ini adalah sesuatu hal yg tidak bisa kita pungkiri.
Mari kita jadikan moment ini untuk menyatuhkan semua alumni, banyak pihak yang menunggu kiprah untuk kemaslahatan bersama.
Salam alumni dari saya angkatan 4 #Fortuned
20020351
Pic by bang ozel dan deni

Sumber : Klik di sini

Wednesday, March 21, 2018

Undercover 106

TESTIMONI PRIBADI11
Guru Lama Dihadang dan Ditendang, Guru Baru Datang
Oleh : Arif Yosodipuro


Setelah kejadian dua kali saya dihadang, tidak boleh masuk, 30-31 Desember 2016, pengusiran Bu Prapti dan teman-teman lainnya, 1 dan 4 Januari 2016, Syaykh melakukan manuver. Guru merah diganti.
Pada Jum’at 06 Januari 2017 saatnya kembali ke kamppus usai cuti semester, guru-guru yang masuk dalam daftar guru merah tidak boleh masuk ma’had. Rantai panjang membentang mengait pada tiang. Ratusan orang dari keamanan ma’had dan orang yang tak dikenal berdiri berbaris mengahadang bagaikan benteng tinggi menjulang yang sulit diterjang.
Mata memandang dengan tatapan menantang, Wajah-wajah sangar tak bersahabat menjalankan instruksi bagai pasukan perang. Jangankan masuk, buang air di kamar kecil saja tak diizinkan oleh hulubalang. Sampai-sampai jum’atan pun harus di jalan di bawah terik yang garang mengarang.
Untuk mengganti guru merah, langkah yang ditempuh, pertama, syaykh memanggil khusus perwakilan alumni seangkatan dengan putrinya, Shofia Al Widad. Angkatan PERSADA. Mereka yang datang adalah Muhammad Ikhsan Husnul Muttaqin. Dwi Ari Sandi, Fuad Hilmi, dan Nu’man. (Detailnya akan disajikan pada episode MENGUNDANG ALUMNI UNTUK MENGABDI)
Langkah berikutnya, syaykh menginstruksikan jajaran di bawahnya untuk merekrut guru baru. Melalui koordinator donatur, mereka diminta untuk mengirim calon guru. Tak hanya itu, perekrutan guru baru ini pun diumumkan melalui media sosial facebook oleh ketua yayasan, Saudara Imam Prawoto.
Namun, sekarang entah dihapus atau diunfriend, saya tidak lagi bisa mengakses pengumuman tersebut. Kalau tidak salah ingat, pengumuman itu diupload di akun yang foto sampulnya Saudara Imam Prawoto mengenakan baju/ jaket sebuah partai warna hijau, waktu nyaleg utusan PPP.
Dalam kurun waktu 01- 08 Januari 2017 sampai menjelang kedatangan santri, Calon guru baru berdatangan dari berbagai daerah; Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta. Kemudian secara bergerilya dan senyap proses pengecekan calon guru berlangsung.
Lantas bagaimana perlakuan kepada guru lama….?
bersambung….

Sumber : Klik di sini