Tuesday, April 11, 2017

DUL KEMIT THE SERIES 3

Kabayan Rayahan 1
Oleh : Arif Yosodipuro

Syahdan, pesantren pimpinan Dul Kemit semakin populer yang berakibat mendobrak kepopuleran Dul Kemit. 
Dia semakin dikenal oleh masyarakat se antero. 
Tiga empat tahun pertama, slogan yang selalu diusung "pesantren milik bersama" masih tampak. 
Secara perlahan tapi pasti, slogan itu semakin pudar dan menghilang. 
Titik-titik atau sumber yang bisa menghasilkan uang, satu persatu diakuisisi dengan dikeluarkan kebijakan agar seolah-olah yang dilakukan itu legal. 
Mula-mula dibentuklah paguyuban penggarap lahan (PPL) yang beranggotakan 6-10 orang dari guru dan pengurus yayasan. 
Sejak itulah rayahan dimulai. 
Kerakusan harta tumbuh. 
PPL kyai Dul Kemit mulai menjadi transit, ekstrimnya broker, keperluan yayasan. 
Satu di antaranya beras. 
Seharusnya yayasan bisa membeli langsung kepada petani atau produsen, namun dengan kepiawaiannya, dibuatlah kebijakan yayasan membeli beras melalui PPL kyai Dul Kemit.
Selanjutnya, pabrik beras yang semula dikelola oleh yayasan diambil alih oleh PPL kyai Dul kemit dan ditunjuklah sang putri menjadi manajernya.. 
Peralatan dan karyawan dari yayasan tapi yayasan harus beli beras ke PPL kyai Dul Kemit. 
Alih-alih swastanisasi. 
Kerakusannya ibarat Kabayan rayahan. 
Ambil sana, ambil sini. 
Pondong sana, pondong sini. 
Tangan kanan penuh, isi tangan kiri.
Apalagi ya....? 
Ikuti serial berikutnya......! 

DUL KEMIT THE SERIES 2

Pujian Adiktif
Oleh : Arif Yosodipuro

Konon di sebuah kampung, berdirilah sebuah pesantren besar nan megah bangunannya. 
Slogan yang diusung sungguh indah memesona, membuat orang terkesima melihatnya. 
Keberadaan pesantren ini diakui oleh maayarakat luas.
Hal ini tak lepas dari peran seorang sosok "yang diagungkan" oleh warga pesantren, yaitu kyai Dul Kemit. 
Dia karismatik, "visioner", katanya, orator. 
Orang bisa terpukau mendengar orasinya. 
Suaranya lantang dan menggelegar kalau sedang berteriak. 
Titahnya sama dengan sabdo pandito ratu, tan biso nolak (tak bisa menolak). 
"Ide dan program besar" sering ia lontarkan (maaf sering gagal dan tertipu).
Tak pelak kyai Dul Kemit mendapat pujian dan sanjungan dari berbagai kalangan, bukan saja warga internal tetapi juga eksternal pesantren. 
Secara perlahan pujian itu lama kelamaan menjadi adiktif. 
Sang kyai ketagihan dengan pujian. 
Siapa warga yang tidak memujinya akan didamprat dan dihardik, puncaknya diusir. 
Tapi mereka yang memujinya akan diacungi jempol dan sang kyai manggut-manggut.
Akibatnya warga bersikap pasrah yang berujung pada tindakan YPKS, yang penting kyai senang. 
Kadang nalar dibelakangkan, mengutamakan meredam kemarahan sang kyai. 
Apa kata kyai diiyakan saja sekalipun bertentangan dengan hati nurani.
......bersambung.

DUL KEMIT THE SERIES 1

Kumaha Aing 
Oleh : Arif Yosodipuro

Dul Kemit semakin mencengkeram wewenang dan kekuasaannya.

Semuanya sendiko dawuh kepada sinuhun kyai Dul Kemit.
Tak ada yang berani mengutarakan pendapat beda.
Kalau beda, disapu bersih.
Dibombardir dengan hardikan dan pelototan.
Semua jadi mengkeret.
Ngelokro.
Tak bergairah, seperti kaki seribu menyelamatkan diri.
Melungker.
Kalau ada yang mengkritisi dinilai membantah titah kyai, klimaknya dianggap bughat. vulgarnya alergi kritik dan masukan.
Apapun yang dititahkan harus dilaksanakan, tanpa ada analisis lapangan.
Dan ketika programnya gagal, dengan enteng berdalih "ga papa. kan ini usaha. daripada gak pernah mencoba."
Merasa penguasa tunggal pesantren, Dul Kemit tak lagi menganggap rekan-rekannya yang secara bersama-sama merintis dari awal.
 Mereka yang dianggap mengganggu bahkan menggoyahkan singgasana kekuasaannya, langsung ditendang.
Segala program dan kebijakan tak lagi berpedoman pada musyawarah, apalagi ad art pesantren.
Semuanya tergantung kyai Dul Kemit.
Keputusan hasil musyawarah hanya menumpuk tak pernah dilakukan, dilanggar.
Yang dikerjakan justru pikiran sepintas, ide sporadis.
Yang menjadi guyonannya adalah kabayan bawa golok.
"Kumaha aing. Ceuk aing hideung, hideung. Lamun henteuk ieu golok."
(maaf tolong dibetulkan kalau salah tulis) ......
bersambung ......

Monday, April 10, 2017

NYERUWAT SEJARAH 4

Oleh : Abu Bakar 116

Gusdur pernah berkata, besarnya seseorang terlihat setelah wafatnya, berapa orang yang hadir dalam pemakamannya dan berapa orang yang ta’ziyah ke pemakamannya, hal inilah yang kita temukan ketika Abdul karim Hasan wafat, saat itu juga, murid-murid beliau datang untuk melihat jasad sang ustadz untuk terakhir kalinya, dari berbagai penjuru Jakarta dan Banten, Umi Jannah(istri alm) pun kewalahan menerima para peziarah berhari-hari lamanya.

Fondasi telah dirancang, tiang-tiang telah ditegakan, dari segala penjuru Jakarta dan Banten pun telah memahami proyek besar peninggalan almarhum, lembaga pendidikan yang akan mendidik para kader Islam untuk berjuang menegakan kalimatillah.

Kumpulan-kumpulan pengajian yang berada di Jakarta Selatan, Barat, Timur dan Utara mulai merealisasikan pendanaan lembaga pendidikan ini, namun apa boleh dikata, usia tak mengizinkan beliau untuk menggagas tiang pancang bangunan pertama lembaga ini.

Estafeta dilanjutkan dan dipimpin Haji Rais bersama orang tua lainnya, Desember 91, kumpulan pengajian yang telah digagas oleh alm Abdul Karim Hasan terpencar karena terkendala dengan keamanan rezim orde baru, Dalam kondisi seperti ini para orang tua dan jama’ah pengajian terpencar, sehingga cita2 membangun lembaga pendidikanpun tertunda.

Walau dalam kondisi seperti itu, jama’ah yang tercerai berai, penggalangan dana tetap dilanjutkan walau dg jumlah terbatas, dan bertambah masalah lagi ketika Haji Rais tidak bisa melaksanakan kewajibannya karena alasan syar’i.

Ketika Haji Rais terkendala untuk memimpin langsung, kemudian ASPG mengambil alih sebagai care taker, dengan ketegasan manajemennya mencoba membangun manajemen perkumpulan pengajian yang berada di sekitar Jakarta, dengan memilih orang-orang yang bisa diajak bekerja sama.

Hari demi hari berlalu, selesailah tugas syar’i haji Rais, yang berencana kembali aktif dalam pengajian ini, namun, sebelum haji Rais beranjak, sudah terlebih dahulu ASPG mendatanginya, sambil berkata “ pak haji, saya sudah mendapatkan surat mandat dari orang tua untuk melanjutkan tongkat estafeta ini( sambil tidak menunjukan surat sama sekali).

Haji Rais adalah orang yang rendah hati, tidak pernah mempermasalahkan jabatan, baginya adalah amanah, maka ketika mendengar berita tersebut, beliaupun hanya diam.

Kemudian ASPG mendatangi orang tua lainnya yang menjadi orang dekat Abdul Karim Hasan, dialah Abdul Syukur, sambil mengajak Haji Rais, dia menyampaikan kepada Abdul Syukur, bahwa dia telah mendapatkan mandat dari orang tua dalam sebuah surat, kali inipun tak diperlihatkan surat tersebut, namun ekspresi berbeda didapatkan ASPG, kini orang yang dia hadapi tidak diam seperti Haji Rais, Abdul Syukurpun berdalih “tidak etis membicarakan ini, ketika kuburan masih berwarna merah (yg dimaksud adalah makam Abdul Karim Hasan) juga kita belum bermusyawarah tentang hal ini.

Mendengar jawaban tersebut, ASPGpun meninggalkan Abdul Syukur dengan muka masam, dan Abdul Syukur melanjutakan aktifitasnya mencangkul kebun.

Akhirnya, tanpa menghiraukan masukan, saran dan pendapat dari orang tua, orang yang lebih berhak untuk memimpin dan musyawarah yang sudah dibiasakan oleh alm Abdul Karim Hasab, ASPG, manusia separuh baya dengan badan tinggi besar, berperawakan mantap, gagah dalam menyampaikan ide2nya, mampu menghipnotis massa dengan orasinya, dan mampu meyakinkan jama’ah pengajian yang lainnya, dapat ditaklukannya.

Berbagai macam gebrakan dalam membentuk manajemen modern dalam pengajian tersebutpun mendapat respon positif, gebrakan manajemen seperti:
1. Restrukturisasi Organisasi daerah Jakarta Raya: Jaktim, Jakbar, Jaksel, Jakut, Banten, Tangerang dan Bekasi
2. Maka pada tahun 1995, Dipilihlah Orang-orang generasi kedua untuk menangani daerah2 tersebut (di sini peran orang tua mulai tak terlihat)
A. Jakut : Kamaludin
B. Banten : Abah muslim
C. Jaktim : Saefullah
D. Bekasi : Abdul Hamid
E. Tangerang : Ja’far Syubbani
F. Jakbar : Silmi Auliya
G. Jakpus : Fadli muhammad
H. Jaksel :Hilmi mubasyir
3. Membekali petugas dengan surat Jalan (untuk mengeliminir infiltrasi dari orang yang tidak sepaham dengannya terutama kehadiran orang tua dalam barisan jama’ah ), hal yg sama pun dilakukan untuk kasus 116 guru dengan diterbitkannya surat izin mengajar, untuk mengeliminir guru yg berada di luar.
4. Menghapus arahan orang tua sebelumnya dalam penentuan besaran zakat.(sudah tidak menggunakan besaran 2,5% untuk zakat, dan bukan karena kesadaran diri, tapi karena Thouan aw karhan, ayat yg selalu dijadikan dasar paksaan.
5. Mengeluarkan ketetapan 8 pokok sumber pemasukan,(pada akhirnya umat memaksakan diri untuk menutupi 8 sumber tersebut dengan berbagai macam cara, baik dengan cara yang baik ataupun tidak baik) sedangkan seluruh dana hasil mobilisasi dari ummat di setorkan ke Bank CIC a/n Abu Ma'arik alias ASPG dengan jumlah puluhan milyar Rupiah setiap bulannya.
6. Melarang rokok bagi setiap pengikut.
7. Dll

Bila dilihat kasat mata, pergerakan yang super cepat ini sangat baik untuk perkembangan pisik lembaga yang dicita-citakan, penekanan dana menjadi prioritas dalam pergerakan ini, sehingga menafikan semua dampak yang timbul, seperti putus kuliah, putus kerja, menghalalkan segala macam cara untuk menutupi target dll yang tidak bisa disebutkan satu persatu, terutama kegiatan seperti ini tidak dibarengi dengan konsolidasi keilmuwan, seperti yang dilakukan oleh para pendahulunya, timbulah disetiap pengajian yang dilaksanakan berbicara tentang target, target dan target,. forum ilmiah yang sudah dibiasakan oleh Abdul Karim Hasan kini sirna, diganti dengan marah, tekanan, hinaan, cacian, makian bagi yang belum menutupi target, tidak sedikit dari mereka yang takut pulang ke rumah, kemudian tidur di emperan toko atau mushola, demi mengindari kejaran target para pemimpin, tentunya merekapun mendapat teguran keras dari “care taker” yang mendaulat dirinya sebagai orang nomor satu.

Mabadi tsalasahpun sedikit demi sedikit tak terdengar lagi, pembahasan ayat dalam pengajianpun tak bisa dirasakan lagi sebagai penyejuk hati, fondasi keimanan dan keilmuanpun berganti dengan fondasi ketakutan yang dalam samarnya adalah taat, mencekam dalam samar iman, berbohong ke orang tua dalam samar ibadah, bagi mereka yang tak mau bekerja dicap sebagai kaslan, bagi mereka yang mengkritis dicap sebagai bughot dan banyak lagi istilah lainnya untuk mengikat “ketakwaan” pengikutnya, bagi mereka cap kaslan, bughot dll adalah istilah yang sangat ditakuti, bila mereka mendapat gelar tersebut, serasa selesai kehidupan di dunia ini.

Bagaimana Yayasan bisa terbentuk, dan bagaimana perjalanan para eksponen sebagai saksi sejarah awal mula yayasan dan bayi Al Zaytun merangkak, serta bagaimana perjuangan sahabat karyawan berbaju kuning? Tunggu pada episode berikutnya dalam NYERUWAT SEJARAH SESI 5
(semua saksi sejarah yg termaktub, masih dalam keadaan sehat wal afiat)

NYERUWAT SEJARAH 3

Oleh : Abu Bakar 116

Masih seputar musyawarah para tetua dalam mempersiapkan berdirinya lembaga pendidikan, cukup menyita waktu mereka, segala macamnya sudah dibicarakan dalam rapat-rapat terbatas yang tentunya dihadiri oleh semua anggota, keputusan pimpinan rapat adalah hasil sumbangsih dari semua anggota, sehingga merumuskan program-program yang siap diimplementasikan.


Akhirnya pada tanggal 2 Maret 1988, di rumah Abu Ansori Mursyidi (pondok Aren,Ciledug) berkumpulah para orang tua penggagas berdirinya lembaga pendidikan yang belakangan ini disebut Ma’had Al Zaytun, diketuai oleh Abdul Karim Hasan, diikuti oleh Haji Rais, Abdu Syukur , Abu Ansori Mursidi, Abdusalam, Nurdin Abu Tsabit, Abdul Halim, Abdul Hamid, Abdurrosyid, , Abdul Qudus, Abdul Khoir, dan Harjadinata.


Pertemuan membahas dan mengesahkan lembaga pendidikan sebagai wadah untuk mempersiapkan kader-kader yang akan berkiprah di masa yang akan datang, maka dari rapat tersebut memutuskan untuk mengutus beberapa orang mencari lokasi strategis untuk lembaga pendidikan, kemudian berangkatlah 6 orang utusan pergi ke daerah Lampung (Tulang Bawang) untuk melihat lahan yang sudah disiapkan, mereka adalah: Abdul Karim Hasan, Abdul Halim, Harjadinata, Abdurrosyid, Nurdin Abu Tsabit dan abdussalam, berangkat dengan mengendarai 3 unit sepeda motor.

Setelah pengecekan lokasi kemudian tim memutuskan untuk menunda pembangunan lembaga pendidikan di daerah ini, karena alasana keamanan, namun tak patah arang, semangat untuk membangun lembaga pendidikan terus disiapkan dari sisi kurikulum maupun keuangan, Abdul Karim Hasan sebagai ketuapun ikut mengonsep pendidikan yang berbasis ekonomi dan ekonomi yang berbasis pendidikan(selain latar belakang beliau sebagai ketua cabang Muhammadiyah Ciledug yang konsen terhadap pendidikan).

Namun Allah berkehendak lain, di penghujung tahun 1991, Abdul Karim Hasan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah Abdul Halim, diiringi dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh abu Ansori Mursidi, Abdussalam……, beliau wafat sambil mengucapkan ayat suci AlQuran, tak bisa dielakan, suasana dukapun menyelimuti, tetesan air mata tak terasa membasahi pipi, dan keheninganpun melanda, semua kepala mengingat kembali memori-memori kebersamaan dengan Abdul Karim Hasan, sosok pemimpin yang mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, sosok pemimpin pemberi uswah dan sangat memperhatikan keadaan umat dengan kemampuan keilmuannya, membekali umat dengan konsep pemahaman terhadap alquran dan hadis nabi, Mabadi Tsalatsah adalah ijtihad beliau dalam memahami semua unsur kehidupan.


Di tengah kesedihan yang sedang melanda, berucaplah salah seorang dari yang hadir “habis sudah orang tua kita” sempat terlintas oleh yang lain, apa maksud dari ucapannya ini, sedangkan dalam forum masih ada orang-orang yang dituakan, namun keadaan tak mendukung untuk mempertanyakan kalimat tersebut, bahkan dia melanjutkan dengan ucapan “ kita lanjutkan perjuangan orang tua ini!” sambil menjabat tangan orang muda yang berada disampingnya. 


Kemudian jasad Abdul Karim Hasan dibawa oleh Abdul Halim, Iskandar Saifullah dan abd Hamid ke rumah duka di bilangan Kreo, Ciledug dan dikebumikan di daerah tersebut. Keluargapun telah menanti, dan banyak sekali yang hadir untuk menghantarkan jasad Abdul Karim Hasan ke tempat peristirahatan terakhirnya, maklumlah beliau adalah guru ngaji di banyak tempat, pernah mengislamkan ratusan suku Baduy, pernah mengajar ngaji di daerah labuan Banten, mengajar ngaji rutin di daerah Ciledug Tangerang, daerah Jakarta Timur, daerah Rempoa Tangerang Selatan, sehingga murid beliaupun tumpah ruah turut menhantarkan jasadnya.


Banyak sekali yang merasa kehilangan almarhum, karena kesederhanaannya dalam memimpin, mengutamakan musyawarah dalam memutuskan sesuatu, mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi, terbukti dari harta yang ditinggalkan setelah wafatpun tak banyak, padaha beliau yang memprakarsai pengumpulan infaq dan shodaqoh untuk pembangunan lembaga pendidikan yang jumlahnya tidak sedikit, banyak kesempatan sebagai amil zakat untuk menggunakan harta tersebut, namun semua itu tidak dilakukannya semata-mata mempersiapkan kader dengan lembaga pendidikan yang baik dan mumpuni.


Pasca wafat abdul Karim Hasan.
Setelah wafatnya Abdul Karim Hasan, jabatan ketua jatuh ke tangan Haji Rais, yang selang berapa lama beliau non aktif karena alasan syar’i yang mesti diselesaikan. Dalam kondisi seperti ini, Abdussalam maju dan mengangkat dirinya sebagai caretaker (padahal masih ada orang tua dan senior lainnya seperti Abu Ansori Murayidi dan Abd Syukur)

Bagaimana Aspg memimpin persiapan ini?

Apakah yang dilakukan ASPG setelah H.Rais merampungkan alasan Syar’inya dan kembali ke organisasi?
Dan strategi apa yang dilakukannya?

to be continoued

NYERUWAT SEJARAH 2

Oleh : Abu Bakar 116

Alhamdulillah, setelah susah payah untuk mencari sumber sohih, akhirnya tulisan ini rampung juga, bertabayun dan membongkar sejarah, fakta memang harus hati2, maka penulis agak lama untuk mengeluarkan NYERUWAT SEJARAH sesi 2 ini.

Berhubung kait dengan sesi satu, yaitu pengiriman duta dan kader untuk lahirnya lembaga pendidikan al Zaytun, maka timbul pertanyaan, atas inisiatif siapa kader2 tersebut dikirim? dan siapa yang memiliki konsep pendidikan ini?

Tanpa mengenyampingkan peran sesepuh lainnya dalam melaksanakan cita-cita bersama, ada peran sentral, dari seseorang yang perlu kita ketahui konsep-konsep yang ditawarkannya dan bahkan hingga saat ini diklem secara sepihak saja.

Seorang pemimpin cabang Muhammadiyah tahun 70an s.d 80an, ratusan suku baduy, mengakui kehebatan ilmu agamanya, dan para orang tua pergerakanpun mengangkat topi mereka untuk menghormati penguasaan ilmu dan uswah yang diberikannya.

Dengan keilmuan yang dimiliki, beliau mengenalkan Mabadi Tsalatsah, Metode tafsir alQuran yang dapat digunakan sebagai mizan haq, timbangan kebenaran dalam setiap langkah memahami ayat-ayat Allah, dialah Abdul Karim Hasan.

Lelaki perawakan kecil dan kurus inilah yang memiliki gagasan besar pergerakan umat Islam melalui sektor pendidikan, dibantu oleh beberapa para orang tua sezamannya, merumuskan lembaga pendidikan yang kredibel yang akan menyebar di 324 kota dan desa, merancang pendidikan ekonomi dan ekonomi pendidikan, menjadikan lembaga pendidikan sebagai pilot projek dalam membangun sumber daya umat Islam di era modern ini, dan menjadi inspirator dari kelompok-kelompok muslim lainnya di era 90an yang bergerak dalam bidang pendidikan seperti yang tersebar sekarang ini.  muslim lainnya di era 90an yang bergerak dalam bidang pendidikan seperti yang tersebar sekarang ini.

Senjata tidak lagi menjadi pilihan kaum muslim untuk mengamalkan perintah Allah pada era saat ini, pemahaman agama yang mendalam untuk dipraktekan dalam menegakan syariat Islam adalah membangun kesadaran melalui pemantapan sumber manusia muslim itu sendiri melalu pendidikan, terbukti menjadi kekuatan dan strategi jitu, jika dilakukan dengan profesional dan benar, hal tersebut dibuktikan oleh kelompok-kelompok muslim yang memang konsen dalam dunia pendidikan.

Apa konsep yang telah dituliskan oleh alm Abdul karim Hasan, pemilik sekolah “HADIQOTU NASYI’IN”beserta para orang tua di zamannya?

Adalah sebagian besar yang telah kita dengar selama ini seperti:
a. Ekonomi pendidikan dan pendidikan ekonomi
b. Mahad asas di setiap kota dan propinsi.
c. Pendidikan pesantren.
d. Lahan yang cukup untuk mempraktekan kehidupan yang madaniyah antar penghuni pesantren, perumahan orang2 tua yang berdampingan dengan perumahan guru dan para karyawan.
e. Penerapan hidup bersama sebagaimana halnya rosulullah dan para sahabat.

Hal ini dibuktikan dengan pencarian lahan untuk lembaga pendidikan maka sekitar tahun 1988 beliau bersama orang tua lainnya mempersiapkan lahan yang akan dibangun diatasnya lembaga pendidikan di daerah Tulang Bawang propinsi Lampung, lahan seluas 8 hektar inilah yang akan dijadikan tempat untuk mengaplikasikan konsep pendidikan ekonomi dan ekonomi pendidikan, namun karena faktor keamanan maka forum menyatakan dibatalkan, dan akan dipindahkan ke suatu tempat, yang akhirnya ditentukan Indramayu sebagai daerah yang dipilih untuk mengaplikasikan konsep matang yang sudah dibuat oleh para orang tua.

Bagaimana kepemimpinan jatuh ke tangan sang “prabu”?
Sesuaikah dengan cita-cita para orang tua terdahulu?
Insya Allah, dalam sesi berikutnya akan dikupas.
#saveourmision

NYERUWAT SEJARAH 1

Oleh : Abu Bakar 116

Untuk membangun dunia pendidikan, maka persiapan SDM adalah mutlak diperlukan. Kader-kader yang dipersiapkan dan dididik di pesantren-pesantren untuk berdirinya Al Zaytun, pada periode pertama adalah ahmad lutfi bin Anshori Mursidi (putra ke 4 dari salah satu pendiri Al Zaytun), kemudian periode kedua Agus Faishol bin Abdul Karim Hasan (putra dari perintis Al Zaytun) ,Imam Prawoto bin ASPG, Ikhwan Triatmo bin ASPG, Ajat Sudrajat bin Haji Rais, dan Neneng Khoiriyah binti Anshori Mursyidi , mereka semua menimba ilmu kepesantrenan untuk dipersiapkan sebagai perintis pendidikan. 


Kemudian pada periode ke tiga tahun (1988), menyusul berikutnya Ahmad Fahmi bin Anshori Mursyidi, Ahmad Prawira Negara bin ASPG, Iim Ibrohim bin H. Abdul Khoir, dan Dandi Permadi bin H Dija. 


Kemudian pada tahun 1989 mereka semua masuk ke gontor pusat, kecuali Iim Ibrohim (tetap di Al Risalah). 


Pengiriman kaderpun berlanjut seperti Abdul Fikri bin Abdul Rosyid, Erwin Kurniawan, dan beberapa kader putri dipersiapkan masuk ke pesantren Gontor putri, Mnatingan, di situlah mereka bersama-sama berbagi rasa, tak ada kasta, dan golongan, siapapun mereka dan anak siapapun mereka, dalam hal ini peran jiddahpun sangat fital, karena mesti bolak balik jakarta-jawa timur, setiap bulan, brondong petong(membawa bekal dan buah tangan untuk semua kader), dan sebagai posko keberangkatanpun rumah saksi sejarah yang terletak di parung serab (dekat masjid al muqorrobin), menjadi saksi pengakaderan. 


Setelah mahad berjalan, mereka bersama membangun sistem pendidikan dengan peran yang sudah berbeda, tak ada lagi kebersamaan, kasta mulai terbangun disengaja maupun tidak, namun seiring waktu berjalan telinga terbiasa mendengar dan hati terbiasa merasakan, dan pada akhirnya satu persatu mereka mengambil sikap, keluar atau dikeluarkan, tak tersisa satupun kecuali yang memiliki garis keturunan dengan "PEMANGKU KEKUASAAN", ada apa dengan mereka? 


Dan apa sebenarnya yang terjadi pada hati mereka? 

To be continued....