Tuesday, July 31, 2018

DUL KEMIT THE SERIES 69

DUL KEMIT THE SERIES 69
Politik Burung Emprit



Mempunyai masa pendukung yang cukup banyak membuat Dul Kemit menjadi incaran partai politik. Hampir setiap musim pesta politik, ia kedatangan punggawa partai yang ingin meminangnya, meminta dukungan suara. Tentunya tidak gratis. Ada deal-deal khusus di antara keduanya.
Karena mempunyai daya tawar, bargaining power, maka Dul Kemit tak segan-segan pindah ke partai lain bila partai tersebut tidak sesuai lagi dengan kepentingannya. Baginya tak ada yang abadi dalam berpolitik, yang ada hanyalah kepentingan. Ini yang sering diucapkan kepada para pendukung dan pengagumnya.
Sebab itu dalam menjalin hubungan ASPOL, ASMARA POLITIK, Dul Kemit selalu berpindah-pindah partai, seperti BURUNG EMPRIT, atau klisenya kutu loncat.
Angin berlalu di kaki bukit.
Banyak siput di atas perahu
Pengin tahu politik Dul Kemit.
Berikut kang Encep kasih tahu.
Tahu kan burung emprit? Itu…, burung kecil yang suka makan padi di sawah. Orang sunda bilang burung piit. Bahasa Indonesianya pipit. Burung mini ini biasanya selalu koloni dalam mencari makan. Mereka termasuk hama padi yang tidak disukai oleh petani. Diusir sana pindah sini. Diusir sini pindah sana. Habis sini, pindah sana. Habis sana, pindah sini.
BegituIah branding politik Dul Kemit. POLITIK BURUNG EMPRIT.
Dulu zaman jayanya partai kuning, Dul Kemit hinggap ke partai tersebut. Bersama warganya, ia mampu mengontribusi suara yang signifikan. Tak heran kalau hal ini menambah intim dalam bermitra.
Menjelang pemilihan legislatif, penggede partai bermaksud meminang kader yang memang sudah terlibat aktif dalam kegiatan partai, istri seorang eksponen, untuk diusung sebagai calon legislatif. Datanglah penggede itu ke pesantren menemui Dul Kemit untuk minta izin.
“Pak kyai,” kata penggede partai hendak menyampaikan maksud kedatangannya setelah berbasa-basi. “Kami ingin ada kader dari pesantren kyai bisa berkontribusi sebagai caleg.”
Saking serakahnya, belum sempat ketua partai menyebut siapa nama yang hendak dipinang, Dul kemit langsung memotong pembicaraan seraya berkata, “Saya kasih kader yang lebih bagus.” Dia menyodorkan putrinya yang ia anggap sebagai kader yang bagus.
Padahal ia masih amatir dan bayi dalam berpolitik. Lumayan, dari serobotannya itu ia berhasil melobi penggede partai sehingga bukan istri eksponen yang diusung tetapi anaknya yang maju dalam pileg (Pemilihan Legislatif). Sehingga sang putri menjadi anggota dewan kabupaten.
Hubungan mesra dengan partai ini tak langgeng. Ia pun mencerai partai yang menghantarkan anaknya duduk di kursi legeslatif itu. Kemudian ia menjajal menjalin aspol dengan partai biru berlambang mercy. Namun baru PDKT, sang ketua keburu tersandung masalah hukum.
Dul Kemit pindah hinggap. Ia merajut aspol dengan partai oranye yang dipimpin oleh mantan senopati ngalaga. Demi mendapatkan prestise dan pujian dari sang partner, ia nekad melakukan kecurangan dengan menggelembungkan suara. Namun kecurangannya terendus oleh panpilu, panitia pemilihan umum, dan hasilnya dianulir.
Tak berhenti di situ. Jalinan aspol berikutnya dilengketkan kepada partai baru berlambang manuk. Bagaikan nemu harta qarun dalam jalinan aspol kali ini. Dul kemit diberi jatah kursi legislatif yang cukup menggiurkan. BUAAAANYAAK. Di seluruh bagian pulau jawa; timur, tengah, dan barat ada. Akan tetapi target suara tak terpenuhi. Calegnya galmua, gagal semua.
Kegagalan kali ini disusul oleh isu panas menerpa pesantren Dul Kemit. Dikabarkan kalau pesantrennya terkait dengan ajaran sesat dan tindakan makar. Isunya santer, hampir-hampir ia terjungkal.
Sebagaimana tabiat emprit, Dul Kemit pun hengkang ke partai lain. Ia mencari perlindungan, merapat kepada birokrat yang juga ketua umum partai hijau berlambang bangunan historis.
Benar juga. Pendekatannya manjur. Sang petinggi partai bersedia menjadi tameng dan bamper. Ia mengeluarkan statement bahwa pesantren Dul Kemit tidak sesat dan tidak ada yang perlu dicurigai. Selain itu, anaknya pun mendapat jatah nyaleg tetapi gagal maning.
Persis burung emprit. Kemesraannya dengan partai hijau pun hanya semusim. Musim berikutnya Dul Kemit hinggap ke partai merah dalam pilbub di daerahnya. Tujuan terselubungnya adalah kalau calon dukungannya jadi, ia akan bikin deal pembagian wilayah. Ia akan mengusulkan pemekaran dan mengusung pangerannya menjadi petinggi daerah yang baru itu.
Rupanya Allah tidak ridho. Calon penguasa dari partai merah yang ia dukung itu kandas, asor ing ngalaga. KEOK. Entah ini kebetulan atau qadha Allah, setiap tokoh partai yang menjalin aspol dengan Dul Kemit berakhir TRAGIS dan selalu KALAH.
Putus hubungan dengan nyamuk…. Maksudnya, putus humes, hubungan mesra, dengan partai merah, belakangan ada selentingan Dul Kemit main mata dengan partai biru berlambang sinar. Isu itu hilang dari pergunjingan politik.
Dan sekarang yang sedang santer, Dul Kemit merajut kembali aspolnya dengan partai biru berlambang mercy. Benar tidaknya isu ini, wait and see aja. Kita tunggu perkembangannya.
“Jadi, Dul Kemit pindah dari partai satu ke partai lain ya Kang?” Celetuk kang Ujang heran. “Bisa-bisa ia akan hinggap ke semua partai, menjajal satu per satu.”
“Iya kali, Kang,” sahut kang Encep. “Begitulah model POLITIK BURUNG EMPRIT, HINGGAP SANA HINGGAP SINI mencari untung sendiri.”

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment