DUL KEMIT THE SERIES 72
Kiat Dul Kemit Cari Duit Untuk Kursi Elit
Dul Kemit memang gesit soal cari duit. Seolah sudah banyak ide yang ditampung sebagai bibit. Karena itu ia selalu bilang soal uang kecil…. cuprit.
Menghadapi keperluan dana yang harus ia penuhi, Dul Kemit mempunyai strategi tersendiri. Setidaknya ia membutuhkan dana besar untuk dua hal. Pertama, untuk membayar pesangon ratusan guru yang dipecat semena-mena. Kedua, dana untuk nyaleg tiga anaknya yang kelak menjadi pewaris singgasana.
Dul Kemit memang kemaruk jabatan dan kekuasaan. Karena itu ambisinya untuk duduk di kursi elit seakan tak ada redanya. Pada pileg, pilihan legislatif, sebelumnya, ia menyodorkan dua anaknya dan beberapa orang civitas pesantren lainya.
Berbagai langkah dan kiat dilakukan demi mendapat dukungan dari konstituen. Seperti penyebaran tim sukses ke berbagai tempat di mana utusannya mencalonkan diri. Contohnya di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Nilai jual dagangan yang ditawarkan masih rendah. Kalah populer dengan calon lain yang telah lama malang melintang di dunia perpolitikan tanah air. Calon lain sudah dikenal masyarakat sebelum mereka mencalonkan diri, sedangkan jagoan Dul Kemit baru muncul saat pileg saja.
Terang saja mereka tak dapat suara di tiap TPS kecuali anggota tim sukses, relawan, yang bertugas di TPS tersebut. Materi jualannya tidak ada yang menyambut karena tidak kenal. Seperti dalam pepatah, tak kenal maka tak sayang. Tak kenal maka tak milih.
Walhasil, tak seorang pun calon Dul Kemit yang berhasil atau lolos duduk di parlemen. Semuanya kandas, bagai lele di waduk asat, kolet-kolet, kejet-kejet, kehabisan nafas. Modal habis, meratapi kegagalan, tinggal menangis.
Dari kisah jagoan Dul Kemit yang gagal menyebutkan bahwa mereka tidak mendapat perthatian Dul Kemit sama sekali. Ia hanya memerintah saja. Karena ketaatan, maka mereka pun mau saja walau hatinya tidak sreg. Dengan berat hati mereka pun menuruti instruksi.
Mereka harus memutar otak sendiri bagaimana mendanai kegiatan sosialisasi untuk dirinya. Tak ada fasilitas dari yayasan. Sementara dua anaknya mendapat perhatian khusus. Semua kekuatan dikerahkan untuk mendukung dan membiayai mereka berdua.
Namun, rupanya Dul Kemit bukan pobia dengan kegagalan. Keok dalam pencalonan anggota legislatif sebelumnya tak membuat ia kapok atau jera. Justru seolah hal tersebut memicu dan memacu adrenalinnya.
***
***
Bagi Dul Kemit, “Kegagalan adah kesuksesan yang tertunda”, sebagaimana umumnya kata-kata bijak motivatif yang disampaikan oleh motivator. Atau seperti kata Arif Yosodipuro, penulis buku motivasi berjudul “THE MIRACLE WAYS OF SUCCESS” – “Berani sukes harus berani gagal. Berani sukses harus berani menanggung risiko.”
Berbekal spirit tersebut, Dul Kemit tak kan pernah menyerah dalam mewujudkan ambisi sekalipun gagal berpuluh kali, beratus kali, atau bahkan beribu kali. Yang walau kadang hal itu terjadi secara berulang.
Karena itu, kali ini ia kembali mengutus jagoan-jagoan kerdilnya untuk ikut berebut kursi elit. Tak tanggung-tanggung. Tiga orang anaknya sekaligus. Bahkan anak ragilnya yang kala sekolah jarang masuk dan alasan sakit kalau ada tugas pun disuruh mencalon.
Untuk menutupi biar tidak mencolok tiga orang anaknya mencalonkan diri, ia suruh beberapa kacung setianya ikut “nyalon.” Meskipun mereka keberatan, Dul Kemit memaksa dan bahkan mengancam. Pilih mana mencalonkan atau berhenti jadi koordinator donatur.
Tentu saja bagai makan buah simala kama. Maka, mau tidak mau mereka pun menerima perintah tersebut dengan ribuan kekhawatiran dan kegamangan. Namun, bagi Dul Kemit ini kesempatan terbaik untuk meraup uang, khususnya untuk membiayai ketiga anaknya.
Ada dua langkah yang ia tempuh. Pertama, membuat buku tentang pesantren. Dan kedua, menggenjot donatur bammas untuk memberikan donasi sebanyak-banyaknya.
Buku tentang pesantren ini dikemas sedemikian rupa, semenarik mungkin. Kemudian sebelum selesai penulisannya, Dul Kemit sudah mempropagandakan dengan orasi yang menghipnosis. Keluarlah instruksi semua civitas pesantren, donatur dan keluarganya wajib beli.
Gampang kan?
Selain untuk mendapatkan dana, penulisan buku tentang pesantren ini implisitnya adalah untuk mengaburkan fakta sejarah pesantren. Orang-orang yang ada kaitannya dengan pendirian pesantren secara halus diputus.
Kemudian dimunculkanlah image bahwa yang membangun pesantren itu adalah Dul Kemit dan keluarganya. Sampai-sampai ada dua orang sesepuh yang ikut perjalanan dari awal berdirinya pesantren sekarang dikandangkan. Tak diberi jabatan dan tugas apa-apa.
Licik bukan…?
Sumber dana selanjutnya, selain dari penjualan buku, adalah dari donatur terstruktur, bammaser. Para bammaser dipecut dan dilecut untuk menyetor dana sebanyak-banyaknya.
Sampai-sampai dengan dalih membayar biaya kekalahan dalam sidang PHI & memenuhi tuntutan guru-guru yang ia pecat dengan sewenang-wenang, ia menargetkan kepada bammaser harus menyetorkan dana 20 miliar.
Sebagian dana tersebut memang untuk membayar pesangon guru-guru dan selebihnya untuk modal pencalonan legisltatif ketiga anaknya.
Hebat bukan….?
Dul Kemit yang cerdas, atau bammaser yang mau dibodohi…?
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment