DUL KEMIT THE SERIES 73
Sensasi atau Stress…?
Kholif tu’rof, nyelenehlah maka akan dikenal. Adagium ini sering digaungkan oleh Dul Kemit. Tak heran ia sering menggulirkan statement maupun perbuatan yang nyeleneh. Kenyelenehan yang paling anyar adalah fatwa menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza.
Lagu ini digubah oleh komponis beken di masa perjuangan, W.R. Supratman, terdiri dari tiga stanza. Syairnya berisi tentang nasionalisme dan ikatan kebangsaan. Teks lagu Indonesia Raya dipublikasikan pertama kali oleh suratkabar Sin Po.
Sementara Indonesia Raya pertama dinyanyikan pada Kongres Pemuda II di Batavia, 28 Oktober 1928. Pertemuan tersebut melahirkan deklarasi pemuda, yang kemudian dikenal sebagai sumpah pemuda.
Selanjutnya Indonesia Raya (stanza pertama) dikomandangkan kembali ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Stanza pertama dari Indonesia Raya inilah dipilih sebagai lagu kebangsaan.
Sejak itu, hanya satu stanza Indonesia Raya yang dinyanyikan hingga sekarang. Karena itu, dalam kurun waktu tujuh dekade-an, masyarakat banyak yang tidak tahu tentang tiga stanza Indonesia Raya tersebut, terutama generasi muda, generasi pasca kemerdekaan.
Indonesia Raya tiga stanza memiliki makna yang dalam bagi bangsa. Di dalamnya tersurat dan tersirat cita-cita luhur, kondisi bangsa dan negara yang diinginkan. Maka tak heran jika lagu tersebut mampu menjadi pemersatu dan penyemangat perjuangan kemerdekaan di masa itu.
Agar masyarakat memahami hal tersebut, perlu dilakukan sosialisasi atau pengenalan tiga stanza Indonesia Raya secara wajar, seperti di sekolah, di kampus, maupun di kantor pemerintahan. Dengan sosialisasi tiga stanza Indonesia raya masyarakat bisa menghayati lebih dalam.
Namun, akan menjadi aneh bila pengenalan tiga stanza tersebut dilakukan di waktu dan tempat yang tidak lazim, seperti yang dilakukan oleh Dul Kemit. Di mana anehnya….?
***
Lagu kebangsaan itu lazimnya dinyanyikan pada upacara bendera, acara kenegaraan, dan acara-acara resmi lainnya. Namun entah apa yang ada di benak Dul Kemit, ia menyuruh pengikut dan pendukung setianya untuk menyanyikan tiga stanza Indonesia Raya pada acara pernikahan.
Tak ayal perintah Dul Kemit ini langsung di-accept oleh pengikut mindednya tanpa pikir panjang. Berita tersebut menjadi trend baru di kalangan taqlider. Mereka sangat bangga bisa menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza. Tak segan mereka pamerkan seperti anak kecil yang dibelikan sepeda baru.
Berita tentang menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza di acara pernikahan menjadi hit dan ramai dibicarakan orang, baik offline maupun online. Banyak media masa yang menyajikan berita tersebut, juga bertebaran status di akun medsos yang menggosip Indonesia Raya tiga stanza di pesta pernikahan.
Dalam sebuah video yang diunggah ke youtube menunjukkan bagaimana semangat mereka menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza. Seorang dirijen berpakaian rapi, berjas dan berdasi memandu dan menuntun dengan birama yang heroik.
Sementara belasan gadis remaja berbusana seragam, bawahan dan blazer hitam berkerudung merah berbaris menjadi pagar betis. Di belakang mereka, berdiri barisan hadirin dari handai taulan maupun kolega. Tak kalah smart. Meraka pun rapih dan necis.
Sang dirijen menari-narikan kedua tangannya menuntun hadirin menyanyikan Indonesia Raya sesuai dengan melodi dan ritmenya. Gerakannya ke bawah, ke kanan, ke kiri, dan ke atas, layaknya pemimpin konser professional sedang berlaga, Ireng Maulana.
Bagi taqlider, bisa menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza dalam recepsi pernikahan merupakan prestise tersendiri. Ada nilai khusus dari Dul Kemit. Ia akan megangguk-angguk ketika mendapat laporan dari demang-demang setianya. Pujian pun akan mengalir dari mulut sang tuan tinggi, kyai Dul Kemit.
Titah Dul Kemit menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza tidak saja di acara pesta pernikahan tetapi juga di awal mulai kerja. Aneh bukan….? Tetapi itulah yang terjadi. Lebih aneh lagi ia memberi fatwa kepada ibu hamil untuk menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza.
Entah misi apa yang hendak dicapai oleh Dul Kemit sehingga ibu hamil disuruh menyanyikan lagu kebangsaan tersebut. Apakah biar dibilang patriotis dan jiwa nasionalismenya tinggi. Atau, bikin sensasi biar dikenal masyarakat luas dan dibilang hebat. Hanya Dul Kemit yang tahu.
Atau…, bisa jadi seperti Bokir dalam sebuah film. Dalam film itu Bokir berlagak sebagai komandan pasukan dan pelatih. Dengan sikap tegas, dia melatih baris berbaris kepada anggota baru. Anggota pun mengikuti perintah dan arahannya yang kadang aneh dan nyeleneh.
Namun karena sebagai anggota yang harus taat pada pimpinan atau senior, sekalipun hatinya berontak mereka pun menurut. Eh….setelah berjalan sekian waktu, ternyata sang komandan adalah ORANG GILA yang kabur dari RSJ.
Mungkinkah perintah menyanyikan Indonesia Raya tiga stanza di acara pernikahan, awal kerja dan ibu hamil itu seperti aksi Bokir dalam film tersebut....?
Sumber : klik di sini

No comments:
Post a Comment