Misteri Kandang & Makelar Sapi
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep melanjutkan ceritanya.
Dalam sebuah pertemuan, kyai Dul Kemit menyampaikan gagasanya dengan berapi-api.
Dia bilang bahwa santri harus minum susu agar otaknya cerdas, tubuhnya tinggi dan sehat.
Tiap hari santri mesti minum susu, minimal 1 liter.
Karena itu pesantren merencanakan untuk berternak sapi perah.
Sapinya didatangkan khusus dari luar negeri.
Banyak yang memberi masukan bahwa lokasi geografi pesantren kurang cocok untuk berternak sapi perah.
Apalagi bibit sapinya diimpor dari daerah yang dingin, perlu adaptasi dan perlakuan khusus.
Namun, masukan itu tak digubris, termasuk masukan dari tenaga ahli peekspor sapi.
Biarlah orang ngomong apa yang penting rencana jalan terus.
Kandang dan fasilitas lainnya dibangun.
Mobil tengki pun dibeli sebagai persiapan alat transportasi.
Selanjutnya, kyai Dul Kemit menyuruh Gus Memed mencari eksportir dan melakukan negosiasi penawaran.
Setelah ada titik temu, dibuatlah kesepakatan dan ditandatanganilah MoU oleh kedua belah pihak.
Dalam MoU disepakati bahwa harga per satu sapi adalah sekian dolar, yang dikurskan menjadi Rp17.500.000.
Lagi-lagi kejanggalan ulah kyai Dul Kemit terjadi.
Harga yang sudah disepakati dalam MoU tiba-tiba berubah begitu fantastis.
Dari Rp17.500.000 menjadi Rp22.500.000.
Bayangkan, Rp5.000.000 kenaikanya.
Sebuah kenaikan yang sangat signifikan.
Berapa keuntungan yang didapat oleh kyai Dul Kemit dan gus Memed....?
Katakanlah kenaikan yang Rp5.000.000 adalah harga di luar MoU, maka Rp5.000.000 x 1200 (sapi) = 6 milyar.
Wow jumlah yang sangat membelalakkan mata.
Setelah transaksi, datanglah 1200 sapi bunting yang siap produksi.
Akan tetapi faktor alam yang kurang mendukung, kesiapan pakan yang tidak memadai, 1200 sapi bunting itu satu persatu mati mengenaskan tak terselamatkan dan mobil tengki pun mangkrak. 22,5 juta x 1.200= 27 milyar sirna tanpa berita.
Kyai Dul Kemit membisu seribu kata dan bahasa.
Biasanya berkoar-koar dengan ombesnya (omong besar) di setiap pertemuan, kini jangankan ditengok disebut pun tidak.
Padahal di awal proyek semua civitas pesantren disuruh tengok.
Tamu yang berkunjung pun diajak keliling ke proyek tersebut.
Bahkan pemandu tamu bisa dipelototi kalau dalam laporannya tidak mengajak tamu ke sana.
"Wah wah wah....bener-bener kyai Dul Kemit" gerutu kang Encep kepada temannya.
Tunggu the series berikutnya ya...
Tuesday, April 11, 2017
DUL KEMIT THE SERIES 9
Investasi Bodong
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep terus menggelengkan kepala melihat ulah kyai Dul Kemit yang semakin menggila.
Dengan kepiawaian retorikanya, kyai Dul Kemit menyampaikan gagasannya kepada para kordinator donatur.
Di hadapan mereka, kyai Dul Kemit mengajak untuk kerjasama,menggarap lahan yayasan.
Dengan PD-nya, kyai Dul Kemit mengeluarkan kalkulator dari sakunya.
Ia hitung berapa hektar lahan yang akan digarap.
Berapa biaya per hektarnya.
Setelah ketemu jumlahnya kemudian dibagi berapa kordinator.
Hitung punya hitung tiap kelompok kordinator dijatah 15 juta rupiah.
Janjinya, nanti kalau panen akan mendapat bagian keuntungan sekian.
Namun apa lacur, begitu panen tak ada kata dan tak ada cerita.
Modal tidak kembali, keuntungan tak bisa dinikmati.
Kang Encep jadi ngitung-itung, kalau ada saja 60 kelompok, masing-masing kelompok invest 15 juta, berapa ya jumlahnya...?
Wah banyak lho....
Namun lagi-lagi mereka, para kordinator, lidahnya kaku membisu, tak berani berkata.
Apalagi bertanya...takut kuwalat.
Terus apalagi kang Encep....?
Sabar ya... tunggu the series berikutnya.
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep terus menggelengkan kepala melihat ulah kyai Dul Kemit yang semakin menggila.
Dengan kepiawaian retorikanya, kyai Dul Kemit menyampaikan gagasannya kepada para kordinator donatur.
Di hadapan mereka, kyai Dul Kemit mengajak untuk kerjasama,menggarap lahan yayasan.
Dengan PD-nya, kyai Dul Kemit mengeluarkan kalkulator dari sakunya.
Ia hitung berapa hektar lahan yang akan digarap.
Berapa biaya per hektarnya.
Setelah ketemu jumlahnya kemudian dibagi berapa kordinator.
Hitung punya hitung tiap kelompok kordinator dijatah 15 juta rupiah.
Janjinya, nanti kalau panen akan mendapat bagian keuntungan sekian.
Namun apa lacur, begitu panen tak ada kata dan tak ada cerita.
Modal tidak kembali, keuntungan tak bisa dinikmati.
Kang Encep jadi ngitung-itung, kalau ada saja 60 kelompok, masing-masing kelompok invest 15 juta, berapa ya jumlahnya...?
Wah banyak lho....
Namun lagi-lagi mereka, para kordinator, lidahnya kaku membisu, tak berani berkata.
Apalagi bertanya...takut kuwalat.
Terus apalagi kang Encep....?
Sabar ya... tunggu the series berikutnya.
DUL KEMIT THE SERIES 8
Kabayan Rayahan 5
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep terus bertutur tentang kondisi pesantrenya dan ulah kyai Dul Kemit.
Dengan kelihaian dan kelicikannya, satu demi satu aset yayasan jatuh ke tangannya.
Entah ilmu sirep apa yang dipakai sehingga membuat pengurus lainnya juga warga pesantren cep kelakep tak bersuara mengkritisi ulahnya.
Sapi dan kambing yang dulu dibanggakan, menjadi daya tarik para pengunjung, dengan sistem pembiakan modern insemenasi buatan, kini tinggal cerita.
Sapi dan kambing tak lagi menjadi milik yayasan.
Semuanya menjadi milik kyai Dul Kemit.
Semuanya, kambing dan sapi.
Awalnya kyai Dul Kemit mengeluarkan kebijakan gado atau paron.
Warga pesantren, terutama kepala unit, diberi kesempatan untuk memelihara sapi.
Anakannya untuk yang memelihara, sementara indukannya dikembalikan kepada yayasan.
Entah bagaimana kelanjutannya, sapi yang dulu milik yayasan menjadi milik kyai Dul Kemit.
Pada waktu Idul Qurban, kyai Dul Kemit menyampaikan kepada jamaah bahwa pesantren akan berqurban sekian sapi, sekian kambing.
"Pilih sapi yang paling bagus, yang paling besar", katanya berapi-api.
Tahu gak teman-teman...?
Itu hanyalah basa-basi.
Setelah itu, ternyata kyai Dul Kemit menagih yayasan untuk membayar sapi dan kambing yang disembelih untuk qurban tadi dengan harga sangat tinggi.
"Hebat kan..... ? Gak percaya....? Cek aja sendiri." ujar kang Encep sambil nyengir.
Sabar ya .... ikuti the series berikutnya
Oleh : Arif Yosodipuro
Kang Encep terus bertutur tentang kondisi pesantrenya dan ulah kyai Dul Kemit.
Dengan kelihaian dan kelicikannya, satu demi satu aset yayasan jatuh ke tangannya.
Entah ilmu sirep apa yang dipakai sehingga membuat pengurus lainnya juga warga pesantren cep kelakep tak bersuara mengkritisi ulahnya.
Sapi dan kambing yang dulu dibanggakan, menjadi daya tarik para pengunjung, dengan sistem pembiakan modern insemenasi buatan, kini tinggal cerita.
Sapi dan kambing tak lagi menjadi milik yayasan.
Semuanya menjadi milik kyai Dul Kemit.
Semuanya, kambing dan sapi.
Awalnya kyai Dul Kemit mengeluarkan kebijakan gado atau paron.
Warga pesantren, terutama kepala unit, diberi kesempatan untuk memelihara sapi.
Anakannya untuk yang memelihara, sementara indukannya dikembalikan kepada yayasan.
Entah bagaimana kelanjutannya, sapi yang dulu milik yayasan menjadi milik kyai Dul Kemit.
Pada waktu Idul Qurban, kyai Dul Kemit menyampaikan kepada jamaah bahwa pesantren akan berqurban sekian sapi, sekian kambing.
"Pilih sapi yang paling bagus, yang paling besar", katanya berapi-api.
Tahu gak teman-teman...?
Itu hanyalah basa-basi.
Setelah itu, ternyata kyai Dul Kemit menagih yayasan untuk membayar sapi dan kambing yang disembelih untuk qurban tadi dengan harga sangat tinggi.
"Hebat kan..... ? Gak percaya....? Cek aja sendiri." ujar kang Encep sambil nyengir.
Sabar ya .... ikuti the series berikutnya
DUL KEMIT THE SERIES 7
Rayahan 4
Oleh :
Arif Yosodipuro
Kang Encep terus bergumam bersama temannya mengenai perilaku kyai mereka yang semakin menjadi-jadi.
Sukses menggagahi kitchen di mana istrinya, bu nyai, menjadi pemasok tunggal, tak lantas membuat kyai Dul Kemit berhenti.
Pikirannya terus berkeliaran ke mana-mana mencari apalagi yang bisa dimangsa.
Kali ini toko pesantren menjadi target berikutnya.
Lagi-lagi kyai Dul Kemit menggunakan kekuasaannya.
Dengan dalih penataan, untuk sementata kegiatan toko distop, diopname.
Pemasok distop.
Begitu toko beroperasi kembali, mereka tidak memasok lagi.
Namun, putera pertama kyai Dul Kemit, Gus Memet, yang menjadi pemasoknya dan satu pengurus orang dekat kyai.
Isu yang berkembang, Gus Memet masih berlindung di balik nama bu nyai.
Makanan ringan yang mengandung msg, yang dulu katanya dilarang, sekarang penuh juga di etalase.
"Widih-widih kyai '.' gue gitu lho."
Kang Encep mengelus dada.
Sudah Kang....? Belum... atuh.
Dirantos...episode berikutnya...
Arif Yosodipuro
Kang Encep terus bergumam bersama temannya mengenai perilaku kyai mereka yang semakin menjadi-jadi.
Sukses menggagahi kitchen di mana istrinya, bu nyai, menjadi pemasok tunggal, tak lantas membuat kyai Dul Kemit berhenti.
Pikirannya terus berkeliaran ke mana-mana mencari apalagi yang bisa dimangsa.
Kali ini toko pesantren menjadi target berikutnya.
Lagi-lagi kyai Dul Kemit menggunakan kekuasaannya.
Dengan dalih penataan, untuk sementata kegiatan toko distop, diopname.
Pemasok distop.
Begitu toko beroperasi kembali, mereka tidak memasok lagi.
Namun, putera pertama kyai Dul Kemit, Gus Memet, yang menjadi pemasoknya dan satu pengurus orang dekat kyai.
Isu yang berkembang, Gus Memet masih berlindung di balik nama bu nyai.
Makanan ringan yang mengandung msg, yang dulu katanya dilarang, sekarang penuh juga di etalase.
"Widih-widih kyai '.' gue gitu lho."
Kang Encep mengelus dada.
Sudah Kang....? Belum... atuh.
Dirantos...episode berikutnya...
DUL KEMIT THE SERIES 6
Kabayan Rayahan 3.
Oleh : Arif Yosodipuro
Sukses mengakuisisi kantin umum, Dul kemit membidik sasaran sumber uang lainnya.
Lirik sana, lirik sini.
Ketemulah sasaran lain yaitu kitchen.
Dengan menggunakan otoritas yang dimilikinya, supplier semua distop.
Setelah itu, masuklah bu nyai sebagai pemasok keperluan kitchen, dapur umum.
Seluruh keperluan seperti tempe, minyak sayur, telor dipasok oleh bu nyai.
Selama kurun waktu yang cukup lama, bu nyai menyandang supplier tunggal.
Belakangan terkuak bahwa bu nyai tak lagi memasok.
Sepertinya bu nyai teringat putranya, tak tega makan sendirian.
Tiket sebgai supplier, diam-diam ia berikan kepada putra pertamanya, Gus Memed (Gus adalah panggilan orang jawa kepada anak kyai.) yang nota benenya sebagai ketua yayasan pajangan.
Dengan berlindung di balik ketiak bu nyai, eh salah... kok ketiak, mendompleng nama bu nyai, Gus Memed yang memasok keperluan kitchen dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran.
Selisih harga telor bisa mencapai Rp3000,- per kg, dan setiap bulan pasokan telur bisa puluhan ton.
Anggaplah sebulan 10 ton, maka dari telor Gus Memed bisa mengantongi keuntungan 30 juta.
Ini baru telur belum dari yang lain, tempe, minyak sayur, dll. yang total tagihan per pekannya 130 jutaan.
Setiap ada warga pesantren yang hendak mengajukan menjadi supplier, jawabya klise, "Pakai yang sudah ada saja."
Oleh : Arif Yosodipuro
Sukses mengakuisisi kantin umum, Dul kemit membidik sasaran sumber uang lainnya.
Lirik sana, lirik sini.
Ketemulah sasaran lain yaitu kitchen.
Dengan menggunakan otoritas yang dimilikinya, supplier semua distop.
Setelah itu, masuklah bu nyai sebagai pemasok keperluan kitchen, dapur umum.
Seluruh keperluan seperti tempe, minyak sayur, telor dipasok oleh bu nyai.
Selama kurun waktu yang cukup lama, bu nyai menyandang supplier tunggal.
Belakangan terkuak bahwa bu nyai tak lagi memasok.
Sepertinya bu nyai teringat putranya, tak tega makan sendirian.
Tiket sebgai supplier, diam-diam ia berikan kepada putra pertamanya, Gus Memed (Gus adalah panggilan orang jawa kepada anak kyai.) yang nota benenya sebagai ketua yayasan pajangan.
Dengan berlindung di balik ketiak bu nyai, eh salah... kok ketiak, mendompleng nama bu nyai, Gus Memed yang memasok keperluan kitchen dengan harga lebih tinggi dari harga pasaran.
Selisih harga telor bisa mencapai Rp3000,- per kg, dan setiap bulan pasokan telur bisa puluhan ton.
Anggaplah sebulan 10 ton, maka dari telor Gus Memed bisa mengantongi keuntungan 30 juta.
Ini baru telur belum dari yang lain, tempe, minyak sayur, dll. yang total tagihan per pekannya 130 jutaan.
Setiap ada warga pesantren yang hendak mengajukan menjadi supplier, jawabya klise, "Pakai yang sudah ada saja."
DUL KEMIT THE SERIES 5
Cicilan Bayar, Garap Lahan Jalan.
Oleh: Arif Yosodipuro
Aneh bin ajaib gumam sebagian warga pesantren melihat kenyataan.
Bagaimana tidak, mesin yang beli yayasan, karyawan, lisyrik dan fasilitas lainnya yang bayar yayasan.
Namun, transaksi harus melalaui PPL kyai Dul Kemit.
Akibat dari transaksi itu, hitung punya hitung katanya yayasan mempunyai hutang kepada kyai Dul Kemit 14 MILYAR.
Agar memilki kekuatan hukum, kyai Dul Kemit minta pengurus yayasan menanda tangani surat pernyataan bahwa yayasan memliki hutang kepadanya.
Berbekal dengan surat pernyataan itu, kyai Dul Kemit menyampaikan perihal hutang yayasan kepadanya sambil menunjukkan surat pernyataan tersebut.
Sebagai pembayarannya, kyai Dul Kemit minta menggarap lahan yayasan seluas 200 hektar.
Permintaan itu disetujui.
Lantas selesaikah hutang yang 14 MILYAR.....?
Belum.
Ternyata selain kyai Dul Kemit menggarap 200 hektar lahan yayasan cuma-cuma, yayasan masih harus mencicil 600 juta per bulan dalama kurun waktu sekian tahun.
Padahal kalau mau perhitungan, sewa lahan di lingkungan sekitar, perhektarnya berkisar 5 - 7 juta pertahun.
Anggaplah 6 juta harga sewanya per tahun perhektarnya dikalikan 200 maka akan terkumpul 1,2 milyar.
Sementara kyai Dul Kemit menggarap cuma-cuma.
Warga kritis menceletuk, "Lihai benar, cicilan tetap bayar, garap lahan terus jalan. Cerdas. Tanpa modal hasil milyaran."
Namun, lagi-lagi karena rasa takut, tak seorang pun anggota pengurus yang berani menolaknya.
Terus Rayahan 3 kapan.....? Ikuti Dul Kemit The Series berikutnya. Eng...ing...eeeeeng.....!
Oleh: Arif Yosodipuro
Aneh bin ajaib gumam sebagian warga pesantren melihat kenyataan.
Bagaimana tidak, mesin yang beli yayasan, karyawan, lisyrik dan fasilitas lainnya yang bayar yayasan.
Namun, transaksi harus melalaui PPL kyai Dul Kemit.
Akibat dari transaksi itu, hitung punya hitung katanya yayasan mempunyai hutang kepada kyai Dul Kemit 14 MILYAR.
Agar memilki kekuatan hukum, kyai Dul Kemit minta pengurus yayasan menanda tangani surat pernyataan bahwa yayasan memliki hutang kepadanya.
Berbekal dengan surat pernyataan itu, kyai Dul Kemit menyampaikan perihal hutang yayasan kepadanya sambil menunjukkan surat pernyataan tersebut.
Sebagai pembayarannya, kyai Dul Kemit minta menggarap lahan yayasan seluas 200 hektar.
Permintaan itu disetujui.
Lantas selesaikah hutang yang 14 MILYAR.....?
Belum.
Ternyata selain kyai Dul Kemit menggarap 200 hektar lahan yayasan cuma-cuma, yayasan masih harus mencicil 600 juta per bulan dalama kurun waktu sekian tahun.
Padahal kalau mau perhitungan, sewa lahan di lingkungan sekitar, perhektarnya berkisar 5 - 7 juta pertahun.
Anggaplah 6 juta harga sewanya per tahun perhektarnya dikalikan 200 maka akan terkumpul 1,2 milyar.
Sementara kyai Dul Kemit menggarap cuma-cuma.
Warga kritis menceletuk, "Lihai benar, cicilan tetap bayar, garap lahan terus jalan. Cerdas. Tanpa modal hasil milyaran."
Namun, lagi-lagi karena rasa takut, tak seorang pun anggota pengurus yang berani menolaknya.
Terus Rayahan 3 kapan.....? Ikuti Dul Kemit The Series berikutnya. Eng...ing...eeeeeng.....!
DUL KEMIT THE SERIES 4
Kabayan Rayahan 2
Oleh : Arif Yosodipuro
Namanya juga kabayan yang sedang rayahan, gak ada puasnya.
Kyai Dul Kemit belum cukup puas mendapatkan keuntungan atau komisi jual beras ke yayasan.
Manuver berikutnya adalah melirik kantin umum.
Menurut analisis dan observasinya, pos ini bisa menambah pundi-pundi dolar berikutnya. Untuk bisa masuk, dikeluarkanlah sebuah kebijakan yang disampaikan dalam pasewakan agung bahwa makanan yang dijual di kantin umum pesantren harus heginis, tidak mengandung msg.
Dengan alasan supaya jelas dan dapat dipantau maka produk yang dijual harus dimasak di dalam pesantren.
Seluruh supplier sebelumnya kelabakan, tidak bisa memenuhi persyaratan tersebut.
Semuanya distop.
Dengan dalih itu, hanya istri kyai yang bisa jualan produknya dimasak di dalam pesantren karena tinggal nyuruh dan pesan di dapur umum.
Walhasil hanya istri kyailah satu-satunya supplier yang memasok kantin umum.
Pada awal waktu, makanan benar tidak mengandung msg.
Namun seiring berjalannya waktu, bukan hanya makanan yang dimasak di pesantren saja yang dijual, tapi jajan pasar pun turut dipajang meramaikan bursa kuliner.
Setiap petugas ditanya, "Milik siapa kue pasar ini?”
Dengan cepat petugas menjawab, "Milik bu nyai."
Terus..... apalagi....? Nantikan Rayahan 3....
Oleh : Arif Yosodipuro
Namanya juga kabayan yang sedang rayahan, gak ada puasnya.
Kyai Dul Kemit belum cukup puas mendapatkan keuntungan atau komisi jual beras ke yayasan.
Manuver berikutnya adalah melirik kantin umum.
Menurut analisis dan observasinya, pos ini bisa menambah pundi-pundi dolar berikutnya. Untuk bisa masuk, dikeluarkanlah sebuah kebijakan yang disampaikan dalam pasewakan agung bahwa makanan yang dijual di kantin umum pesantren harus heginis, tidak mengandung msg.
Dengan alasan supaya jelas dan dapat dipantau maka produk yang dijual harus dimasak di dalam pesantren.
Seluruh supplier sebelumnya kelabakan, tidak bisa memenuhi persyaratan tersebut.
Semuanya distop.
Dengan dalih itu, hanya istri kyai yang bisa jualan produknya dimasak di dalam pesantren karena tinggal nyuruh dan pesan di dapur umum.
Walhasil hanya istri kyailah satu-satunya supplier yang memasok kantin umum.
Pada awal waktu, makanan benar tidak mengandung msg.
Namun seiring berjalannya waktu, bukan hanya makanan yang dimasak di pesantren saja yang dijual, tapi jajan pasar pun turut dipajang meramaikan bursa kuliner.
Setiap petugas ditanya, "Milik siapa kue pasar ini?”
Dengan cepat petugas menjawab, "Milik bu nyai."
Terus..... apalagi....? Nantikan Rayahan 3....
Subscribe to:
Posts (Atom)