Thursday, July 13, 2017

DUL KEMIT THE SERIES 32

DUL KEMIT THE SERIES 32. 
Dibilang Pungli Ujungnya Diikuti
Oleh : Arif Yosodipuro



Kebutuhan mendesak akan biaya listrik dan perawatan gedung tak hanya dirasakan oleh pengurus asrama, tetapi dirasakan juga oleh kyai Dul Kemit. Dan telisik punya telisik ada kemungkinan belum ditanggapinya ajuan perbaikan karena kondisi keuangan pesantren menipis. Oleh sebab itu, mau tidak mau Dul Kemit mesti menarik iuran juga, minta kepada wali santri untuk mengatasi masalah tersebut. 

Maka, dalam sambutannya pada pembukaan pembelajaran, Dul Kemit mulai merayu hadirin dengan orasi yang menghipnosis. Soal beginian memang kyai Dul Kemit jagonya. Prolog penggiringan opini pun dimulai.
"Hadirin, santri yang cukup besar maka kami punya tanggung jawab yang cukup besar juga. Kami mempersiapkan tempat yg sebaik baiknya. Belasan tahun pesantren berdiri secara mandiri. Pesnatren belum pernah meminta pembiayaan uang gedung kepada wali santri yang berkenaan fasilitas pembelajaran." Dul Kemit menengok kanan kiri, memandangi hadirin. 

Kemudian ia melanjutkan orasinya. "Namun, tatkala malam hari di tempat seperti ini kalau tidak ada penerangan jadi terganggu dan bagi kesehatan pun terganggu. Saat biaya baru mencapai puluhan juta tidak masalah. Setelah bertambah sampai mencapai ratusan juta (sekitar 200 - 300) maka kami sampaikan kepada wali santri. Sesiapapun yang mempunyai KID (Kartu Ijin Domisili), kita harapkan memberikan sumbangan listrik sebesar Rp24.000,. per bulan."

"Kami belum pernah meminta biaya perawatan pembangunan. Tapi ternyata biaya pembangunan dan perawatan gedung satu bulan mencapai sekitar 400 - 600 juta, maka kami meminta wali santri untuk membantu sebesar 24 ribu rupiah per bulan dan kursi citos (300 - 400 ribu rupiah) untuk santri belajar." 
Untuk menguatkan dan melegalkan ucapannya, Dul Kemit menegaskan, "Ini wajar, sebab kita pendidikan swasta. Semua ini atas keinginan kita dalam pendidikan. Ini adalah untuk kebersamaan. Tanpa ada persatuan maka tidak mungkin ada pendidikan seperti ini.

Selanjutnya agar hadirin mengiyakan ucapannya, mereka digiring, dibesarkan hatinya dengan dibombong, disanjung. "Kalian mesti bersyukur kepada Alloh karena sudah bisa menjawab apa yg dikehendaki oleh bangsa ini."

"Oalah....ujung-ujungnya DIIKUTI juga ya kang. Kondisi keuangan yang nipis akhirnya narik iuran juga kepada santri." Komen kang Ujang antusias. "Iya kang. Sekarang biaya listrik dan perawatan gedung. Besuk atau tahun depan bisa jadi minta kepada wali santri untuk HONOR GURU dan KARYAWAN karena keuangan menipis akibat kurangnya setoran dari donatur." "Gitu ya kang...? 

"Iya kang... sudah diprediksi dari awal. Ya ibarat pohon akarnya dah gak produktif otomatis pohon akan nyerap yang ada. Kalau donaturnya kurang setoran, mau gak mau biaya operasional pesantren akan dibebankan kepada wali santri, kang." Jelas kang Encep menganalisis.

"Lha.... kemana usaha ekonomi yayasan selama ini....Jadi gak ada lagi subsidi silang kang....? "Subsidi dari mana........? Wong santri yang masuk aja paksaan dan masih pada ngutang...." sanggah kang encep sewot.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment