DINASTI SINDROM
(studi kasus eksistensi penguasa MAZ)
WRITTEN BY: ABU BAKAR AL AHMAR
Masih ingat bagaimana dinasti Ottoman mempertahankan eksistensinya?
Saat Ayah membunuh anak, dan saudara satu membunuh saudara lainnya serta anak keturunannya untuk mempertahankan eksistensi kekuatan dinasti Sulaiman I.
Tatkala Sulaiman I, memberi dukungan kepada Salim II (putranya) untuk menghabisi Bayazid (putranya) jika di kemudian hari sang pangeran melakukan pemberontakan. Insiden itu pun terjadi.
Bayazid akhirnya melancarkan perlawanan terhadap sultan. Pengeran Salim II pun ditugaskan untuk menumpas pemberontakan tersebut.
Pasukan Salim II dan Bayazid bertemu di Konya pada Mei 1559. Bagi Salim II, tidak ada pilihan lagi selain menghabisi saudara kandungnya tersebut. Setelah perang selama dua hari, pasukan Salim berhasil memperoleh kemenangan. Pada waktu itu, Bayazid dapat menyelamatkan nyawanya dan kemudian lari ke Amasya.
Namun, pada 1561, Bayazid bersama keempat anak laki-lakinya akhirnya dieksekusi oleh orang suruhan Salim II bernama Ali Agha. Pada saat yang sama, Sulaiman I juga memerintahkan eksekusi terhadap anak kelima Bayazid bersama istrinya di Bursa. “Dengan dibunuhnya Bayazid, maka Salim II tampil sebagai satu- satunya pewaris tahta kerajaan pada 1562,”
Jika dinasti terbentuk, maka akan berulang sejarah yang hampir sama kejadiannya di semua kerajaan, hal ini terlihat dan mulai nampak dengan apa yang terjadi di Al Zaytun.
Perhatikan!
Yayasan umat (bukan yayasan keluarga), karena didirikan dengan dana umat dan aspirasi pemikiran umat, sedikit demi sedikit bergeser menjadi milik keluarga, hal ini bisa dilihat dari struktur organisasi yang terbentuk saat ini, bergeser kepada anak istri bahkan menantunya.
Begitupun dengan surat-surat berharga milik yayasan, seperti surat tanah, surat kendaraan dan unit usaha lainnya, bergeser kepemilikannya menjadi milik pribadi keluarga dan keturunannya.
Begitupun dengan kebijakan, yang awalnya semua diputuskan berdasarkan musyawarah, sidang yang selalu dikawal oleh majlis syuro dan dewan syuro, kini kata mufakat lahir hanya dari satu mulut, satu suara, tak boleh yang lain.
Lahirnya bibit dinasti ini sebetulnya sudah nampak sejak awal berdirinya ma’had, tak dilibatkannya beberapa anak orang tua pendiri yayasan untuk ikut menjadi guru atau staf lainnya, seperti tak diikutkannya Iim ibrahim (anak H.abdul Khoir, orang tua dr jakarta) dan tak diundangnya Agus Faishol (anak dari Abdul Karim Hasan) untuk menjadi guru di lingkungan ma’had bahkan ketika hadir ke ma’hadpun, seluruh civitas dilarang untuk menemuinya, menjadi awal langkah untuk memuluskan eksistensi dinasti.
Semakin kokoh dinasti ini mempertahankan eksistensinya ketika mampu menendang Ajat Sudrajat (anak dari Haji Rais, pemimpin pengganti Abdul Karim Hasan) dan melarang Nurmila ( anak dari Abah Seno, orang tua pencetus ma’had) untuk menjadi salah seorang suplier dapur yayasan.
Kemudian gangguan bagi dinasti dari pihak lainnya yaitu dr pihak yang memiliki kedekatan khusus dengan Matlaul Anwar Menes Banten, yakni keluarga besar Abu Hanifah, Adik dan anaknya dianggap sebagai gangguan eksistensi dinasti, maka dengan tangan besinya, tanpa ampun mengusir mereka dengan cara pengecut (karena dilakukan dengan menggunakan tangan para bawahannya).
Kini hanya tersisa keturunan Bpk Mursyidi (keluarga pondok Aren), itupun mulai digulung sedikit demi sedikit.
Berawal dari bagaimana usth Neneng Khoiriyah (anak ke enam) ditendang keluar ma’had setelah difitnah dengan membocorkan rahasia yayasan, menyusul suaminya ,Agus yang diisyukan tidak amanah dengan entri data kas 2005, kemudian Ust Ahmad Lutfi (anak ke lima) yang menyusul usth Neneng Khoiriyah yang diskenariokan untuk keluar dari ma’had, dan baru-baru ini ust Ahmad Fahmi (anak ke tujuh) yang diusir dengan kasar tanpa penjelasan apapun.
Hanya tersisa 3 orang dari keturunan bpk. Mursyidi, yaitu Abdul Halim (sekretaris yayasan), Iskandar Saefullah (bendahara yayasan) dan Abdul Fatah (staf bendahara yayasan), saat ini berhembus kabar bahwa merekapun sudah dinonjobkan dari beberapa jabatan penting, bila skenario berjalan mulus, hanya menunggu saat yang tepat, mereka akan disingkirkan sedikit demi sedikit dari jabatan-jabatan fungsional dan tentunya akan diperlakukan sama dengan keturunan orang tua yang lainnya.
Nampaknya kali ini, mereka akan dipancing emosi dengan dibenturkan kepada ketua yayasan, yang tidak lain adalah sang putra mahkota, memiliki kepribadian mirip dengan Yazid bin Muawiyah.
Maka terputuslah semua keturunan orang tua, tak ada lagi keturunan Abdul Karim Hasan, Mursyidi, Abah Seno, tak ada lagi keturunan Haji Rais, Abdul Khoir, mbah kangkung, dan orang tua lainnya yang dengan tulus ikhlas berjuang mewujudkan sarana pendidikan ini dengan tetesan air mata, harta dan bahkan darah sekalipun.
Kemudian yang tersisa adalah para pengikut yang tak ada lagi hubung kaitnya dengan orang tua-orang tua para pendahulu, sehingga melenggangkan dinasti untuk berbuat, dan memiliki semua jerih payah ummat, maka berdirilah dinasti yang akan memberikan tongkat estafeta hanya kepada turunannya, jika ada yang mencoba mengusik visi besar dari dinasti (seperti kasus pengusiran 116 guru) maka segala macam cara akan ditempuh untuk memotong sema penghalang.
Apakah beralih masa khilafah kepada masa dinasti?
Eh ketinggian bicara khilafah, apakah akan berganti kepemilikan ummat menjadi kepemilikan perampok ummat?
Anda hanya menunggu dan akan menyaksikannya?
Atau anda mencegahnya?
Buktikan surat tanah yayasan sekarang atas nama siapa?
Buktikan surat kendaraan yayasan atas nama siapa?
Dan buktikan unit usaha yayasan (4 toko di res area, toko di cikopo, radio prima)atas nama siapa?
Mereka berdalih demi keamanan maka semua surat berharga atas nama yayasan, dibalik nama, menjadi milik pribadi, dan anda percaya?
Semoga Allah mengampuni kita semua.
#saveourmission
Sumber : Klik di sini

No comments:
Post a Comment