Monday, July 3, 2017

Undercover 72

Informasi dari kordinator yg sdg menyelamatkan korban Program Bodong Jahe.
*Kordinator sudah semakin kehabisan cara utk merekrut peserta piket ke ma'had*
Oleh : Djarot Wahyusantoso



Di kampung hutan Cempaka Putih, Rempoa, ada anggota jamaser berpenyakit TBC dg kondisi sangat lemah utk tugas sbg jammaser, tetap dibujuk, dirayu-rayu oleh kordesnya (Koordinator Desa) utk bisa piket keamanan di Mahad. 

Dgn bahasa madu, beracunnya, dia berkata, "Ma'had itu milik kita dan hari ini ada yang ingin merusaknya. Jd,i kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi???"

Sungguh bhs yg meyakinkan demi orang mau berangkat tugas piket; aplusan dengan yang sudah kerepotan. Mereka menjadi tumpuan dan suruh-suruhan para kordinatornya.

Setali tiga uang dengan yg di Pamulang. Ada jamaser yg sdh tua dan sakit-sakitan, selalu didatangi, agar berangkat piket. Karena kesal, lalu ia menghindar sambil berkata, "Dasar kordinator buta!! Sudah tahu saya punya penyakit asma, tetap dipaksa juga harus berangkat piket!!!" Dia mengeluh ketika kami silah ke rumahnya.

Tak kalah memprihatinkan... Di Ciseeng, saat seorang jamaser pulang piket, lalu ribut dengan istrinya karena 3 hari meninggalkan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga. 
Sedangka ia punya hutang kepada bank yang sudah jatuh tempo, tapi belum dibayar. Belum lagi urusan kebutuhan sehari2 yg terlantar.

Kisah ini baru sekelumit kondisi yang terjadi di sahabat2 jamaser. Masih bnyak lg lainnya terkait perintah piket di ma'had.

Imbas adanya piket ke ma'had juga menjadikan berkurangnya setoran jamas ke pusat. Terlebih lagi, piket di sana itu hanya duduk2 manis dan buang2 waktu. 

Sementara dana akomodasi harus ditanggung jamaser masing2. Minimal utk satu orang selama tiga hari pulang pergi Rp300.000. Klo 50 orang, silakan dkalkulasi sendiri....
Bukan biaya yg sedikit.

Sumber : Klik di sini

No comments:

Post a Comment